************************************************************************************************************************
Saudaraku, kalau artikel dalam blog ini bermanfaat informasikanlah kepada muslim yang lain
(Setiap kata yang mencerahkan orang lain, Insya Allah, anda akan mendapat ganjaran pahala)
============================================================================

Kamis, 07 Januari 2010

Anakku Dirampas karena Aku Memilih Islam


Kalau bukan karena kemurahan Allah, sudah gila aku menghadapi liku-liku perjalanan nasib. Murka keluarga, cacian sanak kerabat, cemoohan teman, memberondongku tanpa ampun. Bak anjing kurapan pembuat onar, ali disiksa sadis. Bahkan selembar selembar nyawa ini nyaris hilang. Muaranya satu, karena aku masuk Islam.

Mulanya memang aku seorang Katolik taat. Orangtuaku pimpinan dewan gereja. Mereka terpandang dan sangat dosegani. Bukan status sosialnya saja yg membuat pamor tersohor, tapi juga kekayaan yang kami miliki. Banyak orang menjuluki kami tuan tanah. Gemilang kemewahan membuat pribadiku keras hati. Apa saja mauku selalu ingin dituruti. Tapi, lama lama hatiku meradang. Tanpa tahu penyebabnya, aku kerap dilanda perasaan resah. Bosan. Tidak bersemangat.

Persaan tak karuan itu kontan berpengaruh pada seluruh kegiatanku. AKu jadi suka bolos sekolah dan malas kegereja, Sampai guru dan teman teman mencapku anak nakal. Padahal sebenarnya aku sering menyendiri. Ingin mencari jati diri.

Hingga suatu saat, aku disadarkan pada sebuah takdi yang harus kuterima. Aku seringkali didatangi mimpi mimpi aneh. Keanehan mimpi itulah yang akhirnya membuat perubahan besar dalam hidupku.

HIDAYAH LEWAT MIMPI
Lelaki paruh baya berbaju dan bersorban putih dengan selendang hijau tiba tiba muncul dalam mimpiku. Dia menanti dipertigaan jalan yang biasa kulewati menuju gereja. "Nak, jalan kamu bukan kesitu!" tegurnya. Lalu dia tunjukkan sebuah jalan lurus yang bercahaya. Setiap kali mau melangkah, ada telapak tangan bertuliskan Lafaz Allah.

Ugh.. untung cuma mimpi. Sebagai orang Katolik, aku khawatir dengan mimpi ini. Namun ternyata malam malam berikutnya, mimpi yang sama terulang lagi. Sejak saat itulah aku dilanda perasaan aneh. Semacam dis-orientasi. Aku enggan bersekolah. Ke gereja pun tidak sama sekali. Anehnya aku malah penasaran terus mengenal Islam.

Mimpi senada terus mendatangi selama setahun lebih. Bahkan suatu ketika, setiap mau tidur, di dalam kamarku sering kudengar orang sholawatan, qasidahan, serta segala ritual lain yang biasa dikerjakan umat Islam. Penasaran, lalu kutanyakan pada orang seisi rumah, apakah mereka mendengar seperti yang kudengar. Ternyata tidak. Malah ketika kuceritakan mimpi-mimpi anehku, mereka mengatakan bahwa mungkin leluhurku yang beragama Islam sedang kangen padakui.

Aku tak digubris. Sementara mimpi anehku datang lagi. Kali ini aku dikasih jubah putih. "Pak, saya kan Katolik, bagaimana mungkin saya Shalat?" tanyaku. Lelaki itu lalu mengajakku ketanah lapang. Disana banyak sekali orang berpakaian serba putih. Oleh lelaki itu aku diajarkan membaca Al-Qur'an, dituntun mengucapkan Dua Kalimat Syahadat. Herannya dengan pasrah kurelakan diriku melakukan semua itu.

"Pegang tongkat ini nak, bimbing orang-orang itu pergi Haji!", pesanya. Hatiku dilanda ketakutan luar biasa. Tak lama kudengar azan. Badanku bergetar menggigil. Setelah azan, dalam mimpi itu kubaca surah Yaasin.

Apa sebenarnya maka mimpi itu? Dalam mimpi aku diajarkan membaca Al-Qur'an, begitu terjaga benar benar bisa kubuktikan bahwa aku bisa. Subhanallah... Hatiku yang lusuh kontan terang.

Ada perasaan pedih jika aku meninggalkan shalat. Sementara kalau tidak kegereja, hati ini biasa biasa saja. Perasaanku kini gampang melunak, mudah tersentuh, padahal sebelumnya sangat egois. Hati jadi lembut. Mengapa bisa hanya dengan mempelajari buku-buku Islam aku berubah seperti ini? Sekonyong konyong aku menjadi pribadi penuh santun dan menghormati orang lain.

BABAK AWAL PENYIKSAAN ITU
Sejak itu kudalami Islam. Kubeli buku buku tuntunan ibadah, beberapa kaset ceramah K.H. Zainudin MZ yang waktu itu jadi trend, serta sebuah jilbab. Tentu saja kegiatan baru itu ini kulakukan tanpa sepengetahuan keluarga. Aku sangat menikmatinya. Maka lama-kelamaan sudah bisa kulaksanakan sholat, puasa, bahkan berjilbab.

Syahdan aku menjadi muslim sebelum aku benar-benar sah sebagai seorang muslim. Inikah hidayah itu?

Interesku akan jilbab ini memicu tindakan yang lumayan ekstrim. Alu sering datang ke mesjid layaknya seorang muslimah. Aku ingin bertanya pada orang-orang disana tentang tata cara gerakan sholat. Aku tahu tindakan ku bakal menuai resiko besar. Kalau sampai penyemaranku sampai terbongkar, aku pasti dibunuh.

Tapi kawan, tidak bisa kugambarkan perasaan ini ketika aku telah mengenal Islam. Ketika aku membawa AL-Qur'an, Tasbih, Yaasin, hatiku tenang. Relung hatiku syahdu.

Untuk mempelajari Islam lebih lanjut, kudatangi sanak kerabat yang muslim. "Bisa gila aku kalau sampai tidak bisa masuk Islam, kak!" kataku kepada mereka. Malangnya, reaksi mereka diluar dugaanku. Tak satupun yang percaya bahwa aku ingin masuk Islam. Mungkin karena keluargaku termasuk keluarga Katolik berpengaruh, mereka tak mau ambil resiko jika harus menampungku.

Serapat rapat bangkai ditutup pasti akan tercium juga. Saat pembagian raport, 'aktivitas baruku' akhirnya terbongkar. Pasalnya pihak sekolah memberitahu orangtuaku bahwa aku nunggak bayar SPP berbulan-bulan. Belum lagi aku sering bolos sekolah. Aku di interogasi. Aku bersikukuh tidak menceritakan aktivitasku yang sedang mendalami Islam.

Hingga suatu ketika aku berpapasan dengan teman kakakku dijalan. Dia mengamatiku penuh selidik. Sebab waktu itu aku sedang berjilbab. Jujur aku gugup. Takut ketahuan. Ternyata benar firasatku. Saat tiba dirumah, aku langsung babak belur dihantam oleh kakakku yang kebetulan seorang tentara.

Masya Allah. Inilah awal petaka itu. Seperti orang kesurupan , tubuhku dihujani pukulan dan tendangan. Aku roboh. Sepatu laras dengan tubuh besarnya menginjak tubuhku yang tak berdaya. Dari ujung rambut sampai kaki. Oh Tuhan. Sakit sekali. Darah bereceran. Aku pingsan. Bibirku robek. Badanku biru lebam.

Celakanya tidak satupun yang mau melindungiku. Malah mereka menggeledah kamarku. Mereka temukan semua "simpananku", Al-Qur'an, buku-buku tuntunan ibadah, tasbih, sajadah. Mendapatkan itu semua, kakakku yang kejam makin blingsatan menyiksaku.

Allahui Akbar. Tubuhku tak kuat lagi. Tapi hei, anehnya nyaliku ini sama sekali tak ciut. Semakin keras sikasaan menimpaku, semakin aku merasa punya kekuatan.

"Ananda ingin masuk Isam..." pintaku lirih dengan suara parau."Gila kamu! Sinting!! Otakmu sudah tidak waras!! teriak saudara saudaraku. Bak pencuri yang tertangkap basah, aku jadi bulan bulanan. Yaa Allah! Tolong aku!

MALAIKAT PENOLONG
Mereka menduga aku dipengaruhi oleh seseorang. Untuk anak sebayaku yang sedang ranum begini, jejaka mudalah yang jadi sasaran curiga mereka. Dikiranya aku sedang menjalin kasih dengan seorang pemuda muslim. Padahal pacaranpun aku tidak pernah.

Sejak peristiwa itu aku dikurung. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, mereka menegorku, Pukulan bak suguhan makanan. Dalam satu minggu, kadang lebih dari 20 kali kakakku menyiksaku. Tapi masya Allah, semakin aku ditekan begitu, keinginanku masuk Islam malah semakin kuat. Ketenangan dan kedamaian yang kutemukan dalam Islam membuatku mudah berbesar hati.

Satu satunya cara agar aku lepas dari cengkeraman keluarga adalah keluar dari rumah. Kuutarakan pada keluarga bahwa aku ingin melamar kerja disebuah perusahaan besar. Padahal yang terpikir olehku adalah melamar jadi pembantu. Entah kenapa mereka membiarkan aku melenggang.

Jauh dari rumah kurasakan kebebasan nyata. Tapi aku belum juga melaksanakan niatku untuk masuk Islam. Sampai akhirnya aku bertemu dengan seorang pria. Dia seorang Intel. Kayaknya bertemu kawan lama, kuceritakan keinginanku masuk Islam dan penyiksaan keluarga.

Dia sangat terkejut. Sadar akan bahaya yang mengintaiku setiap saat, dia menawarkanku untuk pergi kekapmpung halamannya. Disana aku ditempatkan disebuah pondok pesantren. Dan atas bombingan tokoh agama setempat akhirnya aku dibimbing mengucapkan Dua Kalimat Syahadat.

MEREKA MERAMPAS ANAKKU
Rupanya lelaki yang menolong itu ditakdirkan Allah menjadi suamiku. Beberapa bulan kemudian kami menikah. Dan tak lama kami dikaruniai anak. Aku hamil. Melihat kebahagiaan ini, menyarankan agar aku silaturahmi mengunjungi orang tua dan sanak keluargaku. Mungkin dengan kehadiran anakku nanti hati mereka lunak.

Aku pulang seorang diri karena suami sedang ditugaskan keluar daerah. Begitu sampai dirumah, ternyata drama penyiksaan itu kembali disuguhkan. Aku dikurung hingga waktu melahirkan. Kondisiku yang berbadan dua ternyata tidak mengibakan hati mereka. Bahkan ketika aku berhasil melahirkan, anakku langsung direbut.

Kawan, hati ibu mana yang rela dipisahkan dari anaknya. Tak boleh aku berdekatan dengan anakku. Bahkan untuk menyusui sekalipun. Selama aku tidak mau ke gereja tak akan ada kesempatan menimang anakku.

"Apa kamu bisa besarkan anak padahal kamu kere!" Begitu jawaban saudara saudaraku jika aku meminta anakku. Hatiku remuk redam.

Mereka kembali mengejekku, menertawakanku. "Rasain, siapa suruh masuk Islam!" Kesalahan sedikit yang kubuat selalu dijadikan senjata oleh mereka untuk mengintimidasiku. Bahkan saat anggota keluarga yang lain yang melakukan kesalahan, tetap kesalahan dituduhkan padaku. Mereka ciptakan jarak, sepertinya aku ini tak pantas berada ditengah tengah mereka.

Sampai suatu ketika ada kesempatan untuk kali kedua, aku kembali berhasil kabur. Walau harus kutinggalkan anakku. Kelak jika Allah mengizinkan aku akan menjemputnya.

Saat itu sedang ramai ramainya orang mendaftarkan diri sebagai TKW. AKu ikut mendaftar dengan harapan bisa dibawa pihak perusahaan pergi jauh.

SUAMI SELINGKUH
Aku kembali ke kampung halaman suamiku. Namun mertuaku kecewa karena tak bisa melihat cucunya. Sementara suami yang sedang tugas di rantau tak juga kembali. Malah kudengar kabar suamiku selingkuh. Aku berusaha sabar. Apapun yang terjadi. Alhamdulillah, akhirnya rumah tangga kami selamat. Bahkan tak berapa lama kami dikarunai beberapa anak.

Namun itu tak lama. Suamiku kambuh lagi. Bahkan lebih parah. Dia jarang pulang. Sering menginap dirumah kos wanita simpanannya. Padahal aku sedang hamil lagi. Ya Allah, semoga ujian ini menjadi jalan agar kau tambah sayang padaku!.

Aku jalani kehidupan rumah tangga seperti biasa. Aku berusaha tak mau tahu walaupun tahu. Namun aku tak mau dibuat bimbang, apakah suami menceraikanku atau tidak. Akhirnya, kutemui suami ditempat simpanannya. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Kudapati suami sedang tidak berbaju dengan perempuan itu. Dan teganya dia mengusirku sambil menjatuhkan talak.

Sempat kupikir, mungkin suami begini karena aku tak kerja (lantaran hamil). Memang penghasilanku cukup lumayan. Bahkan dari hasil kerja kerasku bisa kubangun rumah, beli kendaraan, tanah, ternak sampai menyekolahkan saudara-saudara iparku.

Aku tetap ingin mempertahankan rumah tanggaku. Subhanallah. Allah Maha Mendengar. Suamiku sadar kembali. Tapi inipun tak lama. Suamiku selingkuh lagi. Parahnya kini dia jadi tukang pukul. Tidak ada ujung pangkalnya, dia sering memukuliku. Dia tidak mau menyentuhku. Bahkan dengan tegas dia mau tinggal dengan simpanannya. Yang sangat menyakitkan, dia membawa anak anak kerumah kontrakan itu.

Dihadapkan pada persoalan sebesar in, beruntung kepalaku tetap dingin. Perasaanku tetap tenang. Tidak mudah tersulut emosi. Aku sendiri heran, mengapa aku bisa sekuat ini.
Ketika kuputuskan mendatangi suamiku, rasa cemburu dan amarah bisa kutekan. Malangnya, dia malah menjatuhkan talak, memaki dan menempelengku.

Yang kusesalkan, ulah suamiku kali ini didukung bapak mertua dan saudara-saudaranya. bahkan bapak mertua rela menceraikan ibu mertuaku gara-gara ibu mmebelaku.

Suamiku semakin gila. Kini dia berani membawa simpannnya kerumah. Bahkan berbuat mesum dikamar. Kutemukan suami sedang berzinah. Seketika itu juga aku pingsan. Dan disaat aku tak sadar, mereka sedang siap-siap kabur. Menyadari situasi yang membahayakan anaknya, bapak mertua membantu kabur sambil membawa anak-anakku. Aku heran, kenapa mertua mendukung anaknya dalam kemaksiatan?

Begitu siuman muka dan badanku dihantam ketembok. Sampai bibirku sobek. Saat itu juga dia jatuhkan talak tiga. Aku berusaha mengiba agar dia jangan menceraikanku. Namun ia menjawabnya dengan tendangan. Ya Allah, kuabdikan diri ini untuk mereka, suami dan keluarganya. Karena kuanggap orangtuaku telah tiada. Namun tak satupun peghargaan diberikan atas pengorbananku.

Tak kusangka tanpa sepengetahuanku rumah dan harta bendaku telah dibalik nama atasnama suami dan nama saudara saudaranya. Aku diusir. Setelah sebelumnya mereka mengeroyokku. Semua pintu rumah ditutup. AKu dicekik. Aku megap megap teriak minta tolong. Oh teganya mereka melakukan ini, padahal aku sedang hamil lagi. Mirisnya mertuaku tak percaya. Ia menuduhku bahwa itu bukan janin cucunya.

Aku bingung mau kemana. Untuk beberapa saat aku hidup dari belas kasihan orang lain. Hingga akhirnya aku lari kepondok pesantren.

Tak berapa lama kudengar kabar suami meninggal. Ia tewas tertembak saat sedang bertugas. Allah memisahkan kami saat kami belum berbaikan. Tapi sudah kuikhlaskan semua kelakuannya. Tidak ada kebencian sedikitpun terhadap dia. Kuanggap dia sedang tersesat dan harus dibimbing. Akupun berusaha berpikir positif. Kalau dia hidup hanya akan terus menerus berbuat dosa, lebih baik dia diambil Allah.

Masa melahirkan semakin dekat. Aku tak ingin merepotkan orang lain. Termasuk pihak pesantren. Dengan berbagai pertimbangan, kucoba telpon kerumah. Tak diduga respon mereka baik. Bukan seperti yang kubayangkan. Mereka berjanji tidak akan menyiksaku jika aku pulang.

LEPAS DARI MULUT HARIMAU, KEMBALI KE MULUT BUAYA
Sambutan hangat benar-benar kurasakan saat kakiku kembali menginjak rumah. Terima kasih, ya Allah, mereka tulus menerimaku. Tidak ada yang mencurigakan. Tapi belum genap sebulan, penyiksaan gila itu terulang lagi. Bahkan kini lebih sadis.

Aku tidak diberi makan, Kalaupun dusuguhi makanan, makanan itu makanan haram, seperti daging babi atau anjing. Dua anakku telah berhasil dibaptis. Sementara yang belum terus dibiasakan ke gereja.

Aku berusaha mencuri kesempatan bercengkrama dengan anak anak. "Kakak dan adik saya nggak, sama mama?" tanyaku. Mereka mengangguk. AKu mewanti wanti. "Ingat ya nak, apa yang sedang kita lakukan disini adalah pura-pura. Pura pura kristen. Inga ya nak, kita ini orang Islam, sayang. Insya Allah, Allah selamatkan kita".

Pilu tak tertahankan. Aku merasa sebatangkara. Tiada teman curhat. Aku ingin tumpahkan semua beban ini pada Allah. "Ya Allah... ingin sekali kugenggam tanganMU..". "Kenapa aku tidak dilahirkan dalam keadaan Islam saja!"

YA ALLAH TOLONG KAMI
Kabur sedari dulu kurencanakan. Tapi penjagaan ketat membuatku tak berkutik. Lagi pula aku bingung mau kabur kemana? Tetapi kalau tidak lari mereka akan membaptis anak anakku. Aku khawatir akidah anak anak akan terkikis.

"Allahu Akbar.. Dia yang Maha Mendengar dan Melihat" membukakan jalan. Sehari sebelum dibaptis, hujan besar terus menerus. Dari pagi kemalam, hingga pagi lagi. Semua penghuni rumah terlelap. Biasanya mereka tidur diruang tengah sambil mengelilingi anak anakku. Tapi malam itu mereka masuk kamar masing masing.

Kuajak anakku tiga orang. Sementara yang dua tidak bisa. Tak mungkin mereka kubawa lari semua, berjalan selama berkilo-kilo menuju kerumah saudaraku yang Islam. Sayangnya tidak satupun yang mau menerima kami, karena mereka tahu kondisi pengawasan terhadapku semakin gawat. Mereka takut keluargaku yang terpandang dan punya pengaruh besar itu mengamuk.

Yang bisa mereka lakukan hanya memberi sumbangan ala kadarnya. Saat itu juga terkumpul dana 300 ribu rupiah. Aku disuruh kerumah saudara yang ada di pulau seberang.

Maka malam itu juga kami ke dermaga. Malangnya kapal baru berlayar dua hari lagi. Oh jadi selama itu kami harus bermalam di dermaga.

Perasaan haru dan bersalah tak bisa kututupi melihat ketiga buah hatiku. Yang kelas kelas 3 & 1 SD, serta yang berumur 1.5 tahun. Kami bertahan hidup dengan makan seadanya. Beruntung kedua anakku yang bersekolah sudah biasa puasa, sehingga dua bungkus nasi sudah cukup untuk makan sehari.

Pelarianku kepulau seberang ini ternyata tak bisa bertahan lama. Kabar tentang keluargaku yang tahu akan keberadaanku membuat saudaraku dipulau itu panik. Mereka tahu dari daftar nama penumpang. Apa susahnya bagi kakakku tang tentara itu menyelidiki keberadaanku??

Akhirnya kuputuskan untuk kembali kerumah mertua. Apapun resikonya. Yang terpenting bagiku saat itu adalah menyelamatkan aqidah anak-anakku. Meski mertua kejam kepadaku, tapi tidak kepada cucu-cucunya.

Adapun pekerjaanku disebuah LSM Internasional kini sudah berakhir. Rupanya atasanku dekat dengan tanteku yang Katolik. Bosku membujuk agar aku kembali lagi ke Katolik. Aku ditawari rumah mewah dengan wilayah domisili dibeberapa negara hebat didunia. Bahkan dia akan membuat asuransi pendidikan buat anak-anakku agar dapat bersekolah sampai level tertinggi.

Biarlah kesengsaraan menggelayutiku. Toh kedua tangan dan kakiku masih berfungsi. AKu akan cari kerja lagi. Aku ingin dapat tempat tinggal agar cepat bisa berkumpul dengan anak-anakku.

Nun jauh dilubuk dasar hatiku terselip perasaan rindu dapa orang tuaku. Demi Allah, aku masih menyayangi mereka meski aku disisihkan dan disampakkan. Yang aku inginkan hanyalah pengertian mereka akan keputusanku memilih islam.

Pernah kucuci kaki kedua orangtuaku dan kuminum air basuhannya. Tapi mereka bergeming. Dan akupun sama. Tak sejengkalpum kuubah pendirianku dan kembali keagama lama. Walau harus kehilangan segala-galanya, aku rela. Tapi aku tak rela jika Islam tercerabut dariku dan aku meninggal dalam keadaan murtad, tanpa menyebut nama Allah, tanpa zikir Laa Ilaaha Illa Allah... Aku tidak rela

Sumber : Tabloid Hidayah "ediri 75" Oktober 2007"
Catatan : dengan berbagai pertimbangan atas permintaan nara sumber, redaksi tidak dapat mencantumkan identitas pribadi saudara kita ini beserta fotonya. Semoga menjadi maklum


Rabu, 06 Januari 2010

Berikan yang dimiliki


Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur). [QS. 93:11]

Memberi biasanya dipahami sebagai suatu sikap atau kegiatan yang dilakukan seseorang karena memiliki sesuatu yang berlebih dari kebutuhannya. Kalau statemen ini disepakati, maka spektrum yang berkaitan dengan beri memberi ini sangat luas. Senyum, berarti memberi kegembiraan. Ringan tangan, berarti memberi bantuan tenaga kepada orang lain. Nasehat, membagi dan memberi ilmu dan hikmah. Service, memberi pelayanan. Opini, memberi gagasan dan pengalaman. Sedekah, memberi sebagian harta, dst...

Demikianlah beberapa contoh darimana timbul dan asalnya potensi untuk memberi, sehingga siapapun kita, selalu banyak hal yang dapat diberikan. Jangan membatasi pemberian hanya pada sekedar uang atau harta lainnya, bahkan sebenarnya orang kaya adalah orang yang paling banyak menerima dan paling sedikit memberi.

Dalam Hadist Bukhari Muslim dari Abi Hurairah diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: "…menolong orang dengan mengangkut barangnya dengan kendaraannya atau mengangkatnya adalah sedekah, mengucapkan kalimat yang bagus adalah sedekah, setiap langkah seseorang menuju shalat adalah sedekah, dan menyingkirkan duri-duri di jalanan adalah sedekah". Pada riwayat yang lain mengatakan ”... menemani mereka ketika sakit, atau menolong orang yang minta tolong, atau membuka kesusahan mereka, menjauhkan mereka dari sedih dan duka, memerintahkan kebaikan, tasbih, takbir, tahmid, tahlil, semuanya adalah sedekah, bahkan berhubungan dengan isteri juga adalah sedekah ".

Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. [QS. 2:263]

Pemberian, dalam bentuk apapun, bertujuan untuk meringankan beban dan kesulitan yang dialami seseorang, sehingga apabila hal ini menjadi tabiat dan kebiasaan, maka alangkah berbahagia kita, karena Allah telah menjanjikan melalui RasulNya :

Barangsiapa yang memberi kemudahan kepada seseorang yang mengalami kesulitan, maka Allah akan memberi kemudahan kepadanya di dunia dan di akhirat. (HR. Muslim)

Saudaraku, bagaimanapun kondisi kita, tanamkanlah dalam hati dan pikiran bahwa potensi untuk member;, mungkin itu berupa memberi maaf, buah pikiran, wawasan, informasi, doa, pengalaman, waktu, ilmu, harta, dst..., adalah jauh lebih besar daripada potensi untuk meminta. Disinilah kita memaknai menyampaikan atau menyebut-nyebut serta mensyukuri nikmat sebagaiman disebutkan pada ayat diatas. Memang kebahagiaan yang kita peroleh jauh lebih berbobot ketika memberi dari pada ketika menerima, Rasulullah bersabda;

“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang dibawah. Tangan yang di atas adalah si pemberi, sedang tangan yang di bawah adalah si peminta” [HR Bukhari No. 1429 dan Muslim No. 103]


Kamis, 31 Desember 2009

Doa Akhir tahun 2009


Dengan namaMu ya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga selawat dan rahmat tetap Engkau curahkan kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarga dan para sahabat beliau….

Setahun yang lewat, telah kami lalui dengan dosa-dosa dan kesalahan yang tidak terbilang. Dipenutup tahun ini, sebagaimana setiap hari kami mohonkan, Ya Allah ampunilah dosa-dosa dan kesalahan kami itu semuanya. Ampuni pula sikap kami yang salama ini mohon ampun kepadaMu dengan cara-cara yang tidak khusuk dan serius…

Ya Allah, walaupun amal-amal yang kami kerjakan pada tahun yang lewat, tidak ada artinya, dikerjakan tidak dengan keyakinan penuh, serta masih mengharapkan pujian dari orang lain, terimalah dengan Kasih SayangMu…..

Ya Allah, sekiranya Engkau masih memberikan kesempatan kepada kami beberapa saat kedepan, berikanlah kemampuan kepada kami untuk ikhlas dan rdho menerima segala kejadian yang engkau takdirkan, karena kami tahu segala ketetapan yang Engkau takdirkan kepada kami adalah yang terbaik bagi kami..

Ya Allah, berikanlah kepada kami kemampuan untuk mengeluarkan segala potensi yang Engkau berikan untuk beramal, berkarya dan berbakti kepadaMu.


Semoga sholawat dan salam tetap tercurahkan atas nabi Muhammad SAW dan atas semua keluarga dan para sahabatnya, Amien…



Persaingan atau persaudaraan


Maka berlomba-lombalah kamu (dalam membuat) kebaikan. (QS. 2 :148)

Apabila kita mendengar kata persaingan, maka akan terlintas dalam pikiran kita adanya suatu pertarungan untuk saling mengalahkan. Yang menang dialah yang hebat, sedangkan yang kalah adalah si pecundang, berarti diantara mereka tidak ada sifat persaudaraan.

Walaupun dalam agama tidak ada etika seperti ini, tetapi inilah yang mewarnai kehidupan kita sehari-hari. Untuk menjadi orang pimpinan tertinggi di suatu tempat/instansi, harus direbut dengan seribu macam cara, termasuk jalan-jalan yang tidak terhormat. Ketika kedudukan telah direbut, maka hilanglah persaudaraan dan pada akhirnya akan hilanglah pula kedamaian. An-Nawawi dalam syarah Muslim berkata : 'Para ulama berkata, 'Persaingan kepada sesuatu adalah berlomba kepadanya dan tidak suka orang lain mengambilnya, ia adalah permulaan tingkatan sifat dengki. Adapun hasad (dengki) yaitu inginnya hilang nikmat dari orang lain.’

Rasulullah bersabda: "Kamu saling bersaing, kemudian saling mendengki, kemudian saling membelakangi, kemudian saling membenci…" (HR. Muslim)

Kenapa harus saling mengalahkan, karena kita percaya bahwa hanya dengan cara itulah rezeki yang akan kita peroleh akan terjamin langgeng. Inilah logika terbalik yang ditanamkan setan kedalam pikiran kita, sehingga dibidang manapun kita berada selalu muncul nafsu untuk mengalahkan orang lain, teman, atau bahkan saudara sekalipun. Kadang-kadang kita mendengar kata-kata; “mari kita saling bersaing secara sportif atau professional”. Tetapi titik pandang akhirnya adalah kalahkan pesaingmu, bukan dari sudut maksimalkan prestasimu.

Dengan kaca mata iman yang jernih, bukan persaingan yang dikedepankan tetapi fastabikul khairat, berlomba-lamba untuk melakukan kebaikan, dengan demikian bukan persaingan yang dipikirkan tetapi persaudaraan yang diutamakan, sama-sama memacu prestasi, sehingga dua-duanya menang dan sama-sama mendapat manfaat yang maksimal.

Yang terpenting didalam fastabikul khairat adalah proses, bukan hasilnya. Hasilnya mutlak keputusan Allah, dan Allah lebih mengetahui yang terbaik bagi kita. Hasil yang sedikit jauh lebih baik apabila prosesnya dilakukan dengan benar daripada hasil besar tetapi prosesnya tidak benar.

Peruntungan kita semua telah tercatat dalam kitab Lauhul Mahfudz, tetapi kerja keras yang kita lakukan dalam mencapai tujuan (peruntungan) adalah pilihan kita. Disinilah amal shaleh dilakukan, mau banyak atau sedikit terserah kita. Dengan demikian dimanapun posisi kita pada akhir dari suatu perlombaan bukan yang terpenting, dan kita tidak perlu iri dan dengki terhadap posisi saudara-saudara kita yang lain.

Saudaraku, persaingan hanya sekedar pisau untuk mempertajam kreatifitas dan kerja kita untuk memacu agar semua potensi yang kita miliki digunakan untuk mencari ridha Allah. Inilah intinya; tidak ada ‘persaingan’ dalam islam yang ada hanyalah persaudaraan.

Dan berjihadlah (berkerja keras dengan menggunakan semua anugera Allah yang kita miliki) kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. [QS. 22.78]


Senin, 21 Desember 2009

Hikmah dirahasiakannya kematian


Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS.67: 2)

Manusia harus meyakini bahwa perkara dirahasiakannya kematian seseorang adalah semata-mata pencerminan dari kasih sayang Allah kepada hamba-hambaNya. Kesadaran seperti ini sangat penting karena kita dapat merespon kematian dengan baik, pada akhirnya membawa kita kepada kesiapan yang tiada putus-putusnya untuk menghadapi kematian.

Karena kerahasiaan kematian memaksa atau memotivasi kepada kita untuk selalu melalukan perbuatan baik dari pagi hingga sore, dari sejak kecil hingga dewasa yang bisa mengantarkan kita kepada akhir kehidupan yang baik. Kalau kita mempunyai pengetahuan kapan kematian terjadi, katakanlah misalnya pada umur 45 tahun, maka kemungkinan persiapan kematian kita lakukan setahun menjelang kematian. Bukankah setahun itu sudah cukup untuk bertaubat nasuha dan mengerjakan perbuatan baik sebanyak-banyaknya sudah dapat mengantarkan seseorang ke surga. Kalau seperti ini kejadiannya, maka sesungguhnya kita mengalami kerugian selama 44 tahun untuk beribadah dan berbuat baik.

Apabila kita mempunyai pengetahuan tentang kematian, maka pikiran kita akan selalu terfokus ke sana, betapapun waktunya masih jauh, sehingga menurunkan gairah untuk hidup, padahal hidup ini adalah sesempurna-sempurnanya persiapan untuk mati.

Keluarga kita, anak dan istri, sungguh menjadi beban apabila mengetahui kapan kematian kita, demikian pula dengan kerabat atau teman-teman sekalian. Akan semakin berat karena mereka juga memikirkan kematiannya sendiri. Suasana kelabu selalu menggantung, Akhirnya yang akan terjadi adalah kekacauan dalam masyarakat.

Kematian tidak mengenal waktu, tua-muda, miskin-kaya, bila saatnya tiba, maka tidak ada seorangpun yang sanggup menangguhkannya meski sesaat (QS. 63 : 11)

Oleh karena kematian adalah misteri, maka misteri ini kita harus jawab dengan berbuat amal ibadah sebanyak-banyaknya tanpa menunda-nunandanya, menghindarkan diri dari perbuatan tercela, serta memohon ampunan dan taubah sebanyak-banyaknya kepada Allah. Dengan demikian maka sepantasnyalah kalau kita diajak berdoa untuk memohon kepada Allah Hadiah atau ganjaran yang terbaik

“Apabila kamu memohon Surga kepada Allah, maka mohonlah surga Firdaus, karena sesungguhnya Firdaus itu adalah Surga paling tengah-tengah dan Surga paling atas, dan DI ATAS-nya adalah ‘ARSY-Nya Yang Maha Rahman”. (HR. Bukhari)

Saudaraku, apabila memkirkan kematian anggaplah esok hari maut akan menjemput, hal ini akan mendorong kita selalu tekun beribadah dan selalu mohon ampun atas dosa-dosa serta menghindari kemaksiatan, sementara memikirkan kehidupan anggaplah hidup selamanya, dengan demikian akan mendorong kita untuk sekuat tenaga mengerahkan seluruh potensi yang ada untuk berusaha dan bekerja untuk membiayai kehidupan kita. Kedua perilaku ini secara otomatis akan memproduksi amal ibadah sebanyak-banyaknya. Dan itulah syarat untuk mendapat ganjaran yang terbaik, surga firdaus.


Rabu, 16 Desember 2009

My Facebook 28-07-2009 to 21-09-2009


maaf dan mohon kata yang berkibar saat-saat seperti saat ini, mulut-mulut kita mengucapkannya, hati-hati mereka menerimanya, Insya Allah, ketika maaf dan mohon tidak hadir, apakah kita membiarkan kekeruhan, mungkin kita perlu melangkah lagi, memberi maaf tanpa mulut-mulut berbicara, agar kemurnian dan keselamatan sela...lu hadir, Selamat idul fitri 1430 H Selamat mudik ke fitri … 21 September 2009

Ramadhan beranjak melewati paruh jalan, ada semangat yang menggebu menpaki hari demi hari, ada yang terseok-seok melangkah kepayahan, yang lain telah mendahului keluar dari jalur perburuhan, para muballigh kehilangan resep yang mujarab, diluar sana resep murahan para juragan dunia jadi rebutan, Itulah yang terjadi dari... ramadhan ke ramadhan, meski gempa silih berganti dipergulirkan, pingin lebih dahsyat? … 05 September 2009

Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun Semoga arwah-arwah saudara-saudara kita yang meninggal karena gempa bumi tadi siang (Jawa Barat) diterima disisiNya. Amin. Dibulan yang suci ini mereka menghadap ilahi puasa dan tarawihnya insya Allah telah mensucikan diri mereka bukanakah mereka yang mati karena gempa adalah mati sahid kepada kel...uarga yang ditinggal semoga tabah dan ikhlas mari kita bacakan Al Fataihah … 02 September 2009

bulan ramadhan adalah bulan mengendalikan hawa nafsu
ketika engkau melihat kelalaian, keonaran, berilah nasihat
ketika hatimu merajuk, melihat kenyataan, maafkanlah bulan ramadhan adalah bulan kedamaian
ketika engkau melihat kekacauan, tebarkanlah salam
pada saatnya hati nurani akan menyapa
bulan ramadhan adalah bulan... cahaya bukalah hatimu menerima cahaya ilahi agar duniamu tidak gulita
… 02 September 2009

detik-detik adalah jam-jam diluar ramadhan
menit-menit adalah bulan-bulan diluar ramadhan
jam-jam adalah tahun-tahun diluar ramadhan
hari-hari adalah ribuan tahun diluar ramadhan
sahabatku, jangan biarkan detik berlalu tanpa makna
pancangkan spirit detik awal sampai detik akhir
sesaki oleh amal ibadah jangan tergoda ol...eh gosip, mall, tidur, game, bahakn fb kesempatan, boleh jadi ini yang terakhir dan terbaik
… 20 Agustus 2009

Allahumma ya Allah, siapapun yang mendoakan/mengucapkan selamat kapadaku ya Allah Engkau ijabah doanya, dan dengan segala kebaikan yang pernah aku kerjakan aku memohon kepadaMu mencerahkan kehidupan mereka dan melindungi mereka dari kejahatan makhluk-makhlukMu serta meringankan langkah mereka menggapai cintaMu dan surgaMu. Terima kasih semuanya, mengingatkan sisa umur saya makin menipis.... 8 Agustus 2009

Allhumma Ya Allah, Engkau telah panggil hambamu Dosa-dosanya telah engkau ampuni dengan rentetan penyakitnya Engkau kurangi lagi dengan sakaratul maut Kalau masih ada sisa-sisanya bersihkanlah dengan doa anak-anaknya Sucikanlah dengan doa-doa kaum muslimin
Allahumma Ya Allah, Jadikanlah rentetan peristiwa mengingatkan kami ke halte sakarulmaut Jadikanlah setiap kejadian mengingatkan kami akan tujuan akhir – kembali kepadaMu Jadikanlah nafsu-nafsu kami tunduk kepada Maha Kasihmu Jadikanlah akhir periode kami sebagai khusnul khotimah.... 5 Agustus 2009

“Jangan engkau mengatakan engkau sendiri, sesungguhnya Allah bersamamu. Dan jangan pula mengatakan tak ada yang mengetahui isi hatimu, sesungguhnya Allah mengetahui”. (HR. Ahmad, ) ... 28 Juli 2009


Professi terbaik


”Barangsiapa yang bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya, maka sama dengan pejuang dijaIan Allah ‘Azza Wa Jalla”. (HR. Ahmad)

Ada yang berkata bahwa guru adalah profesi yang termulia. Ada yang berpendapat bahwa perawat adalah profesi yang termulia. Ada yang yakin bahwa relawan kemanusiaan adalah profesi yang termulia, ada juga yang menilai bahwa para petanilah yang mengemban profesi termulia. Tentu semua profesi diatas merupakan pekerjaan yang mulia, karena banyak membantu dan menolong orang yang mengalami kesulitan sehingga banyak bermanfaat kepada orang lain.

Rasulullah SAW bersabda "..Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama manusia." [HR. Thabrani]

Semua jenis pekerjaan yang halal adalah merupakan bidang profesi yang baik. Apabila pekerjaan tersebut dapat mengantarkan seseorang menjadi orang yang bertakwa maka itulah profesi yang terbaik, sebagaimana firman Allah Swt,

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.” (QS. 49:13)

Substansinya bukan terletak pada pekerjaan kantoran atau pedagang kaki lima, pilot atau tukang ojek, makelar tanah atau pedagang minyak tanah keliling, tetapi apakah dengan pekerjaan itu dapat membawa seseorang menjadi paling bertakwa, disitulah profesi terbaiknya. Itulah sebabnya sorang tukang sepatu tidak perlu merasa rendah diri kepada manager kantoran, pedagang asongan kepada distributor mobil mewah, dst. Ketahuilah Nabi Nuh tukang kayu, Nabi Idris tukang jahit, Nabi Daud pandai besi, Rasulullah pengembala.

“Sesungguhnya Allah Ta‘ala suka melihat hamba-Nya bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal”. (HR. Dailami)

Bahkan melalui pekerjaan yang berat dan susah payah dapat menjadi jalan untuk melebur dosa-dosa kita yang tidak dapat dihapus melainkan dengan jalan ini. Sabda Rasullullah,

”Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat”. Maka para sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ”Bersusah payah dalam mencari nafkah.” (HR. Bukhari)

Saudaraku, Apapun jenis pekerjaan yang dijalani saat ini dan seberapapun hasil yang diperoleh darinya, sepanjang kita telah berusaha dengan maksimal, maka syukurilah. Inilah syarat pertama yang harus dimiliki, apabila ingin merasakan nikmatnya bekerja dan nikmatnya kehidupan. Mensyukuri yang kecil berarti anda melatih diri untuk mensyukuri yang besar, karena begitulah sunnatullah setelah anda mensyukuri yang kecil yang besar akan datang menghampiri anda. Akhirnya nikmat-nikmat yang kecil dalam perhitungan orang lain, menjadi nikmat yang besar bagi anda. Subhanallah.

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, (QS. 14:7)


My Facebook 26-10-2009 to 13-12-2009

"Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu" Keimanan dapat ditingkatkan dengan memperbanyak ilmu dan kerja keras, tetapi pada akhirnya hanyalah sebagai karunia dan nikmat dari Allah, oleh karena itu banyklah bermohon dan berdoa kepadaNya... 13 Desember 2009

"Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu" Keimanan dapat ditingkatkan dengan memperbanyak ilmu dan kerja keras, tetapi pada akhirnya hanyalah sebagai karunia dan nikmat dari Allah, oleh karena itu banyklah bermohon dan berdoa kepadaNya... 13 Desember 2009

Bacaan (doa) pagi dan sore... “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari susah dan sedih, lemah dan malas, takut dan kikir, serta tertekan hutang dan penindasan orang lain”. (HR. Bukhari)... 10 Desember 2009

Monday is beautiful.. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dgn kesanggupannya. Ia mendapatkan pahala yg diusahakan dan ia mendapat siksa yg dikerjakan.(QS 2:286). Untuk hamba2Ku yg shaleh, Aku sediakan kesenangan2 yg tidak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga dan tak pernah terlinta...s dalam hati manusia. HADITS QUDSI. Monday is the first day of jihad.. kerja... 13 Desember 2009

Seribu kali engkau berbuat salah kepadu, seribu kali maaf kuberikan....Sikap mulia yang sangat berat dilakukan, tetapi karena komitmen kita menjadi orang yang bertakwa, maka tidak ada jalan lain... harus diusahakan.... …orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang …. memaafkan (kesalahan) orang.lain [QS. 3:133-134]... 2 Desember 2009

Prophet Muhammad (Peace be upon him) said: "Whoever guides [another] to a good deed will get a reward similar to the one who performs it." [HR Muslim ]... 30 Nopember 2009

Seribu langkah seribu tasbih, Seribu langkah seribu subhaanallah,
Seribu langkah limaratus Alhamdulillah,
Seribu langkah limaratus laa ilaahaa illallah.

Kapan dan dimana sebaiknya dilakukan?
Ketika jalan-jalan menghirup udara segar dipagi hari,
Ketika menuju halte untuk menunggu angkutan,
Ketika menuju ke pasar memu...lai usaha,
Ketika ke mesjid untuh shalat berjamaah.
... 29 Nopember 2009

Saya yakin kita memiliki tradisi ilmu yg mumpuni demikian pula dengan wawasan yg kita miliki, tetapi sayang tradisi ilmu dan wawasan yg luas itu lebih banyak meng-awang2, tidak membumi, bayangkan seabrek janji Allah yg sangat menggiurkan sebagai motivasi untuk menjalankan titahNya sangat sering kita abaikan, sementara ...setan dan teman-temannya yg nyata2 musuh besar kita, kita terima dengan antusias dan bangga... 26 Oktober 2009