Minggu, 2009 Juli 12

Memperluas kebahagiaan


Adalah manusiawi kalau setiap orang yang waras ingin merasakan kebahagiaan. Sayangnya, kebahagiaan yang selalu didambakan ini, diletakkan diluar dirinya. jauh dalam impian, jauh dari jangkauannya, jauh dari pemikirannya. Kalaupun telah diraihnya hanya diletakkan pada kenikmatan sesaat yang mudah hilang dan cepat berlalu.

Orang sering berkata, kalau aku mendapatkan ini atau itu, aku pasti bahagia. Makin banyak yang diinginkan makin jauh dia dari rasa bahagia. Setelah apa yang diinginkan itu tercapai, ternyata belum juga bahagia. Hal ini disebabkan karena pada saat yang diinginkan tercapai, kondisi sudah berubah tidak seperti pada saat keinginan didambahan. Demikianlah seterusnya, setiap keinginan tercapai, rasa bahagia tidak pernah dirasakan karena telah bergesar lagi kepada keinginan yang lebih besar.

Ajaran agama memberitahukan kepada kita bahwa kebahagiaan itu tidak terletak pada materi atau obyek pisik tertentu, tetapi ia hadir ketika kita dapat mensikapi segala peristiwa yang dihadapi dengan sikap yang benar dan tepat. Sifat-sifat seperti syukur, sabar, qana’a, tawakkal dll adalah cara untuk menghadirkan kebahagiaan tanpa batas waktu dan kondisi. Pada akhirnya adalah bagaimana kita mengelola hati dengan sifat-sifat yang ada tersebut.

Sabda Rasulullah saw : “Ketahuilah, sungguh pada tubuh itu terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya, jika ia buruk maka buruklah seluruh tubuhnya, ketahuilah bahwa ia adalah hati” (HR. Bukhari)

Kalau hati itu baik, tenang, bahagia maka baik, tenang dan bahagialah seluruh hidupnya.

Hati tidak bertepi. Demikianlah kalau hati sudah bahagia, maka kebahagiaan itu tidak lagi dibungkus oleh sesuatu. Bungkusan apapun yang digunakan ia akan tetap bahagia. Kalau hari ini diselimuti banyak persoalan, persoalan itu akan dipecahkan karena disana ada ikhtiar, dan ikhtiar itu adalah salah satu zikir yang memberikan sumber ketenangan. Kalau giliran mendapatkan nikmat yang berlimpah, ia akan membagi kenikmatan itu dengan orang lain, karena disitu bertebaran berkah dan kedamaian. Musibah dan petaka diterima sebagai bukti kecintaan Allah kepadanya untuk meningkatkan level atau derajatnya disisiNya, sehingga Rasulullah pun kagum kepadanya.

“Sungguh mengagumkan urusan orang beriman itu. Sesungguhnya segala urusannya baginya menjadi kebaikan. Jika ia menerima karunia ia bersyukur, maka hal itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika ia mendapatkan musibah ia bersabar. Dan hal itu menjadi kebaikan bagi dirinya.” (HR. Bukhari)

Saudaraku, Kebahagiaan akan langgeng bersama kita kalau yakin bahwa semua perbuatan Allah Swt. itulah yang terbaik bagi kita. Dia Maha Pengasih, bahkan lebih mengasihi kita daripada kita mengasihi diri sendiri, lalu bagaimana mungkin ia memberikan kepada kita sesuatu yang tidak baik. Kalau kita melihat kejadian sebagai bencana, siksaan, penderitaan, semata-mata karena kebodohan kita sendiri. Dibalik semua itu ada suatu yang terbaik buat kita, kalau kita dapat menyikapi dengan benar. Apabila hal ini dapat kita terapkan dan amalkan, maka kebahagiaan itu tdak hanya ada pada karier, kedudukan, kekayaan, popularitas, atau predikat-predikat yang lain, tetapi ia ada dimana-mana dan ada disetiap saat. Wallahu ‘alam bissawab.

Sabtu, 2009 Juli 04

Omar Khayyam:

The Vanity of Regret, c. 1100
________________________________________

Nothing in this world of ours
Flows as we would have it flow;
What avail, then, careful hours,
Thought and trouble, tears and woe?
Through the shrouded veil of earth,
Life's rich colors gleaming bright,
Though in truth of little worth,
Yet allure with meteor light.
Life is torture and suspense;
Thought is sorrow-drive it hence!
With no will of mine I came,
With no will depart the same.
________________________________________

Source.
From: Charles F. Horne, ed., The Sacred Books and Early Literature of the East, (New York: Parke, Austin, & Lipscomb, 1917), Vol. VIII: Medieval Persia, pp. 15-16 (Translated by E. H. Whinfield).
Scanned by Jerome S. Arkenberg, Cal. State Fullerton. The text has been modernized by Prof. Arkenberg.

Friday

Wednesday 11 April 2007, by Tariq Ramadan


It came as if by chance.
Chance of my conscience,
Destiny of my heart.
One Friday. A beautiful story.

I was thinking of another thing,
The cave came to me;
And the impatience of men
Who seek, and seek the way

I smiled at the youth of the cave
Who slept, forever chosen;
For three hundred years, and more
In peace, peaceful and without sorrows.

Will remain, the direction, the secrets and the love;
Will remain, His face and His kindness;
Will remain, the Light and His beloved ones;
Will remain, to have passed, and to always remain.

They slept awake,
The Single One loved them
And my heart finally awakes
With the secrets this dream sowed.

I smiled at the chance
Destiny of my heart.
I smiled for having smiled
At the signs of the Hour.

Berpura-puralah


“Bacalah Al-Qur’an dan menangislah karenanya. Bila kalian tidak bisa menangis maka berpura-puralah untuk menangis.”

Inilah salah satu adab didalam membaca Al-Qur’an. Mengapa, karena apabila bisa menangis ketika membaca Al-Qur’an menandakan bahwa seseorang itu telah muncul rasa takut dan cinta kepada Allah yang mendalam. Apabila hal ini telah dimiliki, maka jaminan Allah akan diperolehnya berupa; berada di bawah naungan Allah di hari kiamat, akan terbebas dari adzab Allah, berada dalam limpahan cinta kasih ilahi, dan berada dalam ampunan dan maghfirah-Nya.

Lalu, kenapa harus berpura-pura menangis? Kalau berpura-pura menangis karena dilandasi dengan niat tulus sebagai jalan untuk menggali dan menghadirkan keagungan Allah, maka hal ini benar-benar akan menghantarkan seseorang untuk lebih banyak menangis daripada tertawa. Inilah step pembelajaran yang harus dilalui karena hati masih keras dan lalai.

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: "Kalau saja kamu mengetahui apa-apa yang aku ketahui, niscaya kamu sedikit tertawa dan banyak menangis". (HR: Bukhari)

Kalau menangis karena takut kepada Allah dapat dicapai dengan latihan pura-pura menangis, maka sewajarnya banyak kebajikan dapat dicapai yang diawali dengan pura-pura menyukai atau melakukannya, tentunya dengan landasan iman dan hasrat yang tinggi untuk mencapai tujuan akhir yang dikehendaki.

Ketika anda pura-pura menikmati berzikir, lalu berusaha untuk berzikir terus-menerus suatu ketika anda benar-benar akan merasakan nikmatnya berzikir tanpa kepura-puraan lagi.

Ketika anda pura-pura mencintai pekerjaan anda, dan anda terus melakukannya (mungkin karena tidak ada pekerjaan di tempat lain, atau kemungkinan yang lain), suatu ketika anda akan menikmati pekerjaan tersebut. Bandingkan kalau terus menerus mengeluh, maka sampai kapanpun yang didapatkan adalah keluhan yang tidak berujung.

Kalau kita lanjutkan, apakah pura-pura cinta kepada Allah akan membangkitkan juga cinta sejati kepada Allah. Kalau metode pura-pura menangis di atas kita terapkan, disertai niat dari awal untuk meraih cinta Allah, maka seharusnya cara ini dapat digunakan untuk meningkatkan kecintaan kepada Allah. Dengungkanlah selalu dalam hati “Ya Allah Aku mencintaiMu”, seraya tetap taat dalam menjalankan kewajiban dan menjauhi laranganNya, Insya Allah akan sampai maksud dan keinginan kita.

Banyak diantara kita ketika pertama kali ketemu pasangan saat ini, berawal dari tidak ada rasa cinta, bahkan mungkin benci dan acuh tak acuh yang ada. Melalui proses waktu yang panjang berbagai jalan sehingga sampai pada kebahagiaan bersama yang dirasakan saat ini.

Saudaraku, ketika kita bertekad untuk mencintai Allah, Cinta Allah telah meliputi seluruh sel-sel dalam tubuh kita, ingatlah “Bila ia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku mendekatinya satu lengan. Bila ia mendekati-ku satu lengan, maka Aku akan mendekatinya satu depa panjang. Bila ia datang pada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlarian.” (HR Al-Tirmidzi).

Senin, 2009 Juni 29

Nasehat WS. Rendra

Sering kali aku berkata,
ketika orang memuji milikku,

bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi,

mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?

Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja
untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.


Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,

aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,


dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
Seolah ...
semua "derita" adalah hukuman bagiku.

Seolah ...
keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:

aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan Nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan Kekasih.

Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti,
padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...

"ketika langit dan bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan sama saja"

(WS Rendra)

Sabtu, 2009 Juni 27

Perbuatan ringan yang bernilai tinggi


Umar Bin Khattab meriwayatkan, Rasulullah Saw bersabda. Delapan pintu surga dibuka dan boleh dimasuki dari pintu manapun oleh orang yang menyempurnakan wudunya kemudian berdoa “Asyhadu'an-lâ ilâha illa Allâh wahdahu lasyarikalah, wa Asyhadu anna Muhammadan abduhu wa Rasuluh” (HR. Muslim)

Abu Musa meriwayatkan Rasulullah Saw bersabda. Bacalah, ‘La haula wala kuwwata illa billah’ , kalimat itu adalah sebuat tiket ke surga (HR Bukhari-Muslim)

Bilal bin Yasar bin Zaid meriwayatkan Rasulullah Saw bersabda, Allah pasti mengampuni dosa, meskipun dosa lari dari perang, bagi orang yang membaca ” Astaghfirullahal ladzii Laailaaha Illa Huwal Hayyul Qayyuumu wa Atuubu Ilaih”. (HR. Abu Daud)

Al Mundziry meriwayatkan, Rasulullah Saw bersabda, ”Barangsiapa membaca Ayat Al Kursy dibelakang (selesai) shalat, niscaya tak adalah yang menghalanginya masuk surga selain dari mati” (HR. Turmudzi).

Saudaraku, apakah yang anda pikirkan setelah membaca hadist-hadist diatas. Alangkah pemurahnya Allah yang menyiapkan surga kepada kita hanya dengan membaca zikir-zikir yang sangat mudah dan ringan tersebut. Ini hanyalah contoh, dan banyak lagi bacaan zikir-zikir yang lain yang ringan dan mudah dipraktekkan. Atau adakah terbetik dalam pikiran seakan-akan kurang yakin dengan hadist-hadist tersebut. Nauzubillah Minzalik.

Sesungguhnya janji Allah itu pasti akan ditepati. [QS. 19:61].

Keraguan semacam ini jangan sampai bersemayan dalam hati dan pikiran kita, karena kalau terjadi maka bangunan keimanan dan keberislaman kita akan porak-poranda. Setiap kata, perbuatan, dan kesepakatan dari Rasulullah pada dasarnya berasal dari Allah juga, sebagaimana firman sbb.

kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), [QS. 53:2-4]

Saudaraku, barangkali perbuatan yang ringan ini tapi bernilai tinggi, terlewat dari keseharian kita karena kesibukan yang tidak ada habisnya. Mungkin kebiasaan kita berzikir saat ini (jumlah dan kualitasnya) masih sama dengan setahun yang lalu, atau lima tahun yang lalu atau bahkan sepuluh tahun yang lalu. Ayo Saudaraku, sekarang saatnya untuk kita rubah, mari kita menabung amal akhirat sebanyak-banyaknya, karena kematian sangat dekat, hanya dibalik detik-detik yang akan datang.

Cara terbaik untuk memulai perubahan ini adalah dengan menambah satu zikir setiap hari lalu istiqomah menjaganya atau dengan mujahadah yang lebih kuat menambah zikir lebih banyak lagi, setelah setahun anda akan merasa ketagihan dan merasa kecolongan kalau lupa melakukannya, Insya Allah. Lakukanlah!, dimana dan kapan saja.

Bacalah Biografi


Bayangkan jika anda dapat belajar dari rahasia sukses orang-orang besar yang pernah hidup? Ya anda bisa.

Kehidupan orang yang terkenal maupun tidak terkenal telah tercatat dalam berbagai biografi dan siap untuk anda baca dan pelajari.

Dari biografi, anda akan temukan kehidupan pemimpin-pemimpin pemerintahan, pengusaha dan para humanis. Anda akan membaca tentang keberhasilan dan prestasi. Anda juga akan belajar berapa kali para pemenang harus kalah dalam perjalanannya menuju kemenangan.

Saat membaca biografi, anda mungkin mendapat kesimpulan yang mengejutkan tentang betapa banyak kelebihan yang anda miliki. Anda mungkin akan menyimpulkan, "Hei, saya bisa melakukan hal ini." Anda bisa membuat hidup anda lebih berarti. Biografi membantu anda mencari jalan. Anda hanya perlu pergi ke perpustakaan, toko buku atau menjelajah internet.

Sumber : Internet