************************************************************************************************************************
Saudaraku, kalau artikel dalam blog ini bermanfaat informasikanlah kepada muslim yang lain
(Setiap kata yang mencerahkan orang lain, Insya Allah, anda akan mendapat ganjaran pahala)
============================================================================
Tampilkan postingan dengan label Aku pilih Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aku pilih Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 September 2010

Sue Watson: Misionaris yang Kini Menyerahkan Hidupnya untuk Islam

Rabu, 29 September 2010, 17:02 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--''Apa yang terjadi padamu?'' Pertanyaan itu kerap diterimanya ketika bertemu mantan teman-teman sekolah, teman dan pendeta ketika mengetahui dirinya telah memeluk Islam. Mereka heran dan tak habis pikir mengapa Sue Watson, seorang profesor, pendeta, dan misionaris, yang pantas disebut sebagai fundamentalis radikal, kini telah menjadi seorang Muslimah.

Tapi itulah jalan hidup. Hidayah menghampiri Watson, membuatnya menjadi tertarik pada Islam, dan akhirnya memeluk agama yang diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW ini. Semua itu bermula ketika ia baru saja lulus dari pendidikan pasca sarjana. Lima bulan setelah mendapatkan gelar Master of Divinity (Ketuhanan) dari sekolah seminari ternama, dia bertemu seorang wanita yang pernah bekerja di Arab Saudi dan telah memeluk Islam.

Jiwa misionarisnya muncul. Dia pun coba bertanya-tanya kepada wanita itu dengan maksud menjalankan misi kristennya. Kepada wanita itu, Watson bertanya tentang perlakuan Islam terhadap wanita. ''Saya terkejut dengan jawabannya. Jawaban itu bukan yang saya harapkan, jadi saya bertanya lagi tentang Tuhan (Allah SWT) dan Muhammad,'' ujarnya. Namun wanita itu tidak mau menjawab pertanyaan tersebut. Wanita itu justru mengajak Watson untuk berkunjung ke Islamic Center karena di sana ada orang yang bisa menjawab pertanyaan itu dengan lebih baik.

Selama delapan tahun, Watson kuliah di sekolah teologi. Sebagai seorang penganut Kristen yang taat, dia memandang Islam sebagai agama setan. Dalam setiap doanya, dia meminta kepada Yesus agar dilindungi dari roh-roh jahat. Namun setelah peristiwa di atas dan dia kemudian berdialog di Islamic Center tersebut, dia seperti mendapatkan pandangan lain tentang Islam. ''Saya cukup terkejut dengan pendekatan mereka (umat Islam), karena langsung dan lugas. Tidak ada intimidasi, pelecehan (terhadap agama lain), dan tak ada manipulasi psikologis,'' kisahnya.

Bahkan, Watson menceritakan, ulama atau ustadz di Islamic Center itu menawarkan dirinya untuk mempelajari Alquran di rumahnya. ''Ini seperti studi tandingan untuk Alkitab. Saya tak percaya, mereka kemudian memberikan beberapa buku mengenai Islam dan mengatakan jika saya memiliki pertanyaan maka mereka akan bersedia menjawabnya di kantor,'' katanya.

Malamnya, Watson langsung membaca semua buku itu. Itulah untuk kali pertama, dia membaca buku tentang Islam yang ditulis oleh seorang Muslim sendiri. Selama ini, dia hanya membaca buku-buku mengenai Islam yang ditulis oleh orang Kristen. Keesokan harinya, dia kembali menemui Ustadz itu untuk menanyakan beberapa hal mengenai Islam yang didapatnya dari membaca buku itu. Hal itu terus terulang setiap hari selama sepekan. Hingga tanpa terasa, dia telah membaca sebanyak 12 buku dalam tempo sepekan itu.

Dari situ, dia mulai memahami mengapa Muslim itu merupakan orang yang paling sulit di dunia ini untuk diajak memeluk Kristen. ''Mengapa? Karena tak ada lagi yang bisa ditawarkan kepada mereka (Muslim). Islam mengajarkan hubungan dengan Tuhan, pengampunan dosa, keselamatan, dan janji kehidupan yang kekal,'' paparnya.

Selama menjalani proses dialog itu, secara alamiah, pertanyaan pertamanya terpusat kepada Allah, Tuhan-nya umat Islam. Siapakah Allah yang disembah kaum Muslim ini? Sebagai seorang Kristen, dia diajarkan bahwa Allah itu merupakan Tuhan palsu. Namun setelah membaca buku Islam dan berdialog, dia baru mengetahui bahwa Allah itu Maha Kuasa, Maha Mengetahui, dan Allah itu Esa. Tak ada Tuhan lain yang mendampingi Allah.

Lantas, pertanyaan penting tentang Muhammad. Siapa ini Muhammad? Dia baru mengetahui bahwa umat Muslim tidak berdoa kepada Muhammad, seperti orang Kristen berdoa kepada Yesus. Dia (Muhammad) juga bukan seorang perantara, sehingga dilarang berdoa kepadanya. Dia pun mengetahui bahwa umat Islam juga percaya pada Yesus sebagai seorang nabi seperti Muhammad. Menurutnya, banyak kesalahpahaman dari penganut Kristen tentang Islam.

Tanpa disadarinya, dia mulai mengakui kebenaran Islam. ''Tapi saya tidak beralih memeluk Islam pada waktu itu juga karena saya belum percaya sepenuhnya di dalam hati. Saya terus pergi ke gereja, membaca Alkitab, tapi di satu sisi juga belajar Islam di Islamic Center. ''Saya benar-benar meminta petunjuk Tuhan, karena tak mudah untuk pindah agama. Saya tak mau kehilangan keselamatan,'' ucapnya.

Dua bulan setelah proses pengenalannya tentang Islam, Watson masih terus meminta kepada Tuhan agar diberikan petunjuk. Hingga akhirnya, suatu ketika, dia merasakan ada sesuatu yang jatuh meresap ke dalam dirinya. ''Saya lantas terduduk, dan itulah untuk kali pertama saya menyebut nama Allah SWT. Ada kedamaian yang dirasakan. Dan sejak itu, empat tahun lalu hingga sekarang, saya percaya bahka Engkaulah satu-satunya Tuhan dan hanya Engkau Tuhan yang sesungguhnya,'' tuturnya.

Keputusannya memeluk Islam bukannya tanpa risiko. Setelah menjadi mualaf, Watson dipecat dari pekerjaan sebagai pengajar di dua Perguruan Tinggi Kolese, dikucilkan oleh mantan teman-temannya di sekolah Teologi dan sesama profesor teologi, dan tidak diakui lagi oleh keluarga suaminya. Pilihannya itu juga disikapi negatif oleh anak-anaknya yang sudah dewasa dan dicurigai oleh pemerintahnya sendiri.

''Tanpa adanya kekuatan iman, mungkin saya sudah tak sanggup menghadapi itu semua,'' ujarnya. ''Saya sangat berterima kasih kepada Allah SWT yang telah menjadikan saya sebagai Muslim. Dan saya berharap hidup dan mati sebagai Muslim.''

Mantan misionaris yang kini telah bergantii nama menjadi Khadijah Watson itu, sekarang bekerja sebagai seorang guru untuk melayani kalangan perempuan di salah satu pusat dakwah di Jeddah, Arab Saudi.

Jumat, 19 Februari 2010

Kartu Identitas Muslim yang Membanggakan

Friday, 19 February 2010 13:15

Setelah putranya memperkenal Islam, sang ibu mengganti Bibel yang biasa dibacanya dengan Al-Quran. Ia pun bangga bisa menjadi Muslim

Hidayatullah.com--Nama saya Fathima Lienberg, seorang wanita kulit putih yang memeluk Islam pada tahun 1995. Saya sangat bangga bisa mengatakan: Saya seorang Muslim! Saya masuk Islam bukan karena putra saya. Bagi saya itu adalah perjuangan yang panjang dan berat, karena harus mengorbankan pekerjaan, teman, dan keluarga.

Sebelum memeluk Islam, saya adalah seorang Kristen yang sangat taat, pengikut Gereja Pantekosta. Saya biasa memungut anak-anak jalanan lalu membawa mereka ke gereja dan sekolah minggu. Kehidupan saya hanya berkutat seputar membaca dan mempelajari Bibel. Hingga satu hari, anak laki-laki saya bercerita tentang Islam.

Suatu hari, ia datang dan berkata, "Ibu, mengapa ibu tidak menjadi seorang Muslim saja?"

Saya sangat terkejut sekali mendengarnya dan langsung mengatakan, "Tidak akan pernah."

Lalu putra saya berkata, "Ibu, Islam itu agama yang murni dan bersih. Mereka shalat lima kali sehari."

Saya kemudian memutuskan akan membaca buku-buku dan terjemahan Al-Quran. Semakin saya baca Al-Quran, semakin saya yakin Islam adalah agama yang tepat untuk saya. Saya pun berpaling ke Allah, dan akhirnya menemukan kedamaian dan ketenangan.

Saya menyembunyikan tentang keislaman ini dari keluarga, hingga satu hari saya putuskan untuk menelepon saudara laki-laki saya.

Ia sangat terkejut, karena kami adalah keluarga Kristen yang sangat taat dan alim. Saya adalah satu-satunya yang pindah memeluk Islam. Keluarga menelepon dan mengatakan agar saya tidak perlu menghubungi mereka lagi, karena saya bukan lagi bagian dari keluarga. Saya sangat mencintai mereka dan merindukannya, tapi saya tahu satu saat pasti akan bertemu kembali. Insya Allah.

Saya sangat gembira ketika mendapatkan 'kartu identitas Muslim', rasanya seperti berdiri di atas atap tertinggi dan berteriak, "Saya seorang Muslim." Saya kehilangan keluarga, tapi saya memperoleh keluarga baru dalam Islam.

Keluarga saya, umat Islam, sangat mengagumkan. Saya sulit untuk mengungkapkannya. Saya ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada keluarga Fakhruddin. Saya mencintai kalian, yang telah memperlakukan saya layaknya keluarga sendiri. Semoga Allah membalas semua kebaikan kalian.

Semoga Allah membalas kebaikan Appa Tasneem. Ketika saya berada di Madrasahmu bersama anak-anak kecil, rasanya seperti dikelilingi malaikat kecil di surga. Saya sangat gembira, karena Allah Ta'ala memilih saya untuk menjadi seorang Muslim.

Saya langsung memakai hijab begitu memeluk Islam, dan tidak akan pernah menanggalkannya. Harapan saya hanyalah bisa pergi ke Mekah, meskipun saya ragu apakah mungkin bisa. Tapi insya Allah, satu hari Allah akan memampukan saya pergi ke sana. Setiap kali saya ingin dekat dengan Allah, maka saya melakukan sunnah-sunnah yang diajarkan Nabi kita tercinta Shalallahu Alaihi Wasallam.

Kertas-kertas tidak akan cukup untuk menceritakan apa yang ingin saya ungkapkan tentang Islam. Saya berterima kasih pada keluarga Kazi, dan para ulama di Jamiatul Ulama serta saudara kita Ahmad Deedat.

Islam adalah pedoman hidup. Islam artinya kedamaian dan Muslim adalah orang yang mencari kedamaian dengan cara beribadah pada Allah Ta'ala.

Bukanlah hal yang mudah bagi saya, seorang wanita Muslim kulit putih yang hidup di antara umat Kristen. Tapi, saya tegakkan kepala ini dan sangat bangga menjadi seorang Muslim. Jadi saudara-saudaraku semua yang dilahirkan sebagai Muslim, namun belum menjadi Muslim yang taat, maka masih ada kesempatan. Mulailah sejak esok atau mungkin malam ini, tegakkanlah kepala-kepala kalian dan tunjukkan pada dunia, bahwa kalian bangga menjadi orang Muslim. [di/is/www.hidayatullah.com]


Kamis, 11 Februari 2010

Quote:


Some years ago, the story came to us in Toronto about a man who was in the merchant marine and made his living on the sea. A Muslim gave him a translation of the Qur'an to read. The merchant marine knew nothing about the history of Islam but was interested in reading the Qur'an.



When he finished reading it, he brought it back to the Muslim and asked, "This Muhammed, was he a sailor?" He was impressed at how accurately theQur'an describes a storm on a sea. When he was told, "No as a matter of fact, Muhammed lived in the desert," that was enough for him. He embraced Islam on the spot. He was so impressed with the Qur'an's description because he had been in a storm on the sea, and he knew that whoever had written that description had also been in a storm on the sea.


The description of "a wave, over it a wave, over it clouds" was not what someone imagining a storm on a sea to be like would have written; rather, it was written by someone who knew what a storm on the sea was like. This is one example of how the Qur'an is not tied to a certain place and time. Certainly, the scientific ideas expressed in it also do not seem to originate from the desert fourteen centuries ago."

(Miller, Gary; The Amazing Qur'an, 199?)

Jumat, 29 Januari 2010

Aku Mencintai Muhammad Saw Tanpa Harus Kehilangan Yesus


Katagori : Journey to Islam
Oleh : Redaksi 01 Dec 2009 - 11:00 pm

Manuela-Mirela Tanasecu, perempuan asal Bucharest, Rumania ini terlahir sebagai anak tunggal dari keluarga yang menganut agama Kristen Ortodoks. Meski tidak terlalu relijius, keluarga Mirela percaya akan adanya Tuhan. Mirela mulai mengenal Islam dari seorang da'i asal Tepi Barat, Palestina, Walid Sulaiman yang kemudian menjadi suaminya.

Tapi sebelumnya, ia sudah tertarik dengan Islam setelah berkunjung ke sejumlah negeri Muslim seperti Yordania, Suriah, Iran, Pakistan, Malaysia dan Indonesia. Setelah menikah dengan Walid pada tahun 1991 di Bucharest, Mirela memutuskan menjadi muslimah. Ia mengucapkan dua kalimat syahadat di Iran, saat melakukan kunjungan ke negara itu. Mirela tertarik dengan Islam karena menurutnya doktrin-doktrin dalam Islam sangat jelas dibandingkan doktrin-doktrin dalam ajaran agama Kristen. Sebagai contoh, doktrin Trinitas yang dinilainya samar-samar, membingungkan dan sulit dipahami. "Doktrin semacam itu tidak ada dalam Islam yang mengajarkan monoteisme absolut," kata Mirela.

Ia menilai umat Islam lebih serius dalam masalah agamanya dibandingkan kaum Kristiani pada umumnya. "Umat Islam salat lima waktu sehari, sedangkan penganut Kristen ke gereja hanya pada hari Minggu dan kebanyakan yang datang ke gereja juga orang-orang yang sudah tua," ujarnya.

Salah satu perbedaan yang mencolok antara Islam dan Kristen, sambung Mirela, Islam sangat menghormati dan memuliakan para nabi dan rasulnya, tanpa pengecualian. "Ini merupakan titik kekuatan Islam, yang menunjukkan bahwa siapa saja yang mencintai Yesus bisa memeluk Islam tanpa harus menghentikan rasa cinta pada Yesus, karena Islam mengajarkan umatnya untuk meyakini dan mencintai para rasul Allah Swt," papar Mirela.

"Jadi, bisa saya katakan bahwa menjadi seorang muslim, saya mencintai dan memuliakan Rasulullah Muhammad Saw tanpa harus kehilangan Yesus yang dalam Islam dikenal sebagai Nabi Isa," imbuhnya.

Perjalanan Mirela ke sejumlah negeri Muslim membuka matanya bahwa umat Islam adalah umat yang ramah, dermawan dan siap membantu siapa saja yang membutuhkan bantuan. Sebelum mengenal Islam, Mirale memiliki pandangan yang negatif tentang Islam karena Islam membolehkan seorang suami beristeri hingga empat orang. Mirale menganggap aturan itu merendahkan perempuan. Tapi kemudian, ia menilai lelaki muslim sangat perhatian dengan keluarga dan isterinya dibandingkan lelaki Barat non-Muslim.

Mirale mengatakan, Barat telah salah menilai Islam yang dituding merendahkan kaum perempuan. Pandangan itu muncul karena Barat mendapatkan informasi yang salah dan tidak memahami ajaran Islam yang sesungguhnya. Mirale tidak menepis kenyataan bahwa ada segelintir orang Islam yang berkontribusi menimbulkan pandangan yang salah tentang Islam, karena berperilaku tidak islami.

Sebagai muslimah, Mirale menghimbau para muslimah lainnya agar tidak mencontoh gaya hidup kaum perempuan Barat. Menurutnya, kaum perempuan di Barat sebenarnya sudah menjadi peradaban Barat yang sangat materilistis.

"Barat mengklaim telah membebaskan perempuan. Padahal jika dikaji lebih dalam, kaum perempuan di Barat sebenarnya sudah diperlakukan tidak manusiawi dan dijadikan sebagai komoditi serta obyek seksual semata. Setelah saya mengenal Islam, saya bisa mengatakan bahwa tidak ada agama yang memuliakan perempuan selain Islam," tutur Mirale. (ln/readislam/eramuslim)


Kamis, 07 Januari 2010

Anakku Dirampas karena Aku Memilih Islam


Kalau bukan karena kemurahan Allah, sudah gila aku menghadapi liku-liku perjalanan nasib. Murka keluarga, cacian sanak kerabat, cemoohan teman, memberondongku tanpa ampun. Bak anjing kurapan pembuat onar, ali disiksa sadis. Bahkan selembar selembar nyawa ini nyaris hilang. Muaranya satu, karena aku masuk Islam.

Mulanya memang aku seorang Katolik taat. Orangtuaku pimpinan dewan gereja. Mereka terpandang dan sangat dosegani. Bukan status sosialnya saja yg membuat pamor tersohor, tapi juga kekayaan yang kami miliki. Banyak orang menjuluki kami tuan tanah. Gemilang kemewahan membuat pribadiku keras hati. Apa saja mauku selalu ingin dituruti. Tapi, lama lama hatiku meradang. Tanpa tahu penyebabnya, aku kerap dilanda perasaan resah. Bosan. Tidak bersemangat.

Persaan tak karuan itu kontan berpengaruh pada seluruh kegiatanku. AKu jadi suka bolos sekolah dan malas kegereja, Sampai guru dan teman teman mencapku anak nakal. Padahal sebenarnya aku sering menyendiri. Ingin mencari jati diri.

Hingga suatu saat, aku disadarkan pada sebuah takdi yang harus kuterima. Aku seringkali didatangi mimpi mimpi aneh. Keanehan mimpi itulah yang akhirnya membuat perubahan besar dalam hidupku.

HIDAYAH LEWAT MIMPI
Lelaki paruh baya berbaju dan bersorban putih dengan selendang hijau tiba tiba muncul dalam mimpiku. Dia menanti dipertigaan jalan yang biasa kulewati menuju gereja. "Nak, jalan kamu bukan kesitu!" tegurnya. Lalu dia tunjukkan sebuah jalan lurus yang bercahaya. Setiap kali mau melangkah, ada telapak tangan bertuliskan Lafaz Allah.

Ugh.. untung cuma mimpi. Sebagai orang Katolik, aku khawatir dengan mimpi ini. Namun ternyata malam malam berikutnya, mimpi yang sama terulang lagi. Sejak saat itulah aku dilanda perasaan aneh. Semacam dis-orientasi. Aku enggan bersekolah. Ke gereja pun tidak sama sekali. Anehnya aku malah penasaran terus mengenal Islam.

Mimpi senada terus mendatangi selama setahun lebih. Bahkan suatu ketika, setiap mau tidur, di dalam kamarku sering kudengar orang sholawatan, qasidahan, serta segala ritual lain yang biasa dikerjakan umat Islam. Penasaran, lalu kutanyakan pada orang seisi rumah, apakah mereka mendengar seperti yang kudengar. Ternyata tidak. Malah ketika kuceritakan mimpi-mimpi anehku, mereka mengatakan bahwa mungkin leluhurku yang beragama Islam sedang kangen padakui.

Aku tak digubris. Sementara mimpi anehku datang lagi. Kali ini aku dikasih jubah putih. "Pak, saya kan Katolik, bagaimana mungkin saya Shalat?" tanyaku. Lelaki itu lalu mengajakku ketanah lapang. Disana banyak sekali orang berpakaian serba putih. Oleh lelaki itu aku diajarkan membaca Al-Qur'an, dituntun mengucapkan Dua Kalimat Syahadat. Herannya dengan pasrah kurelakan diriku melakukan semua itu.

"Pegang tongkat ini nak, bimbing orang-orang itu pergi Haji!", pesanya. Hatiku dilanda ketakutan luar biasa. Tak lama kudengar azan. Badanku bergetar menggigil. Setelah azan, dalam mimpi itu kubaca surah Yaasin.

Apa sebenarnya maka mimpi itu? Dalam mimpi aku diajarkan membaca Al-Qur'an, begitu terjaga benar benar bisa kubuktikan bahwa aku bisa. Subhanallah... Hatiku yang lusuh kontan terang.

Ada perasaan pedih jika aku meninggalkan shalat. Sementara kalau tidak kegereja, hati ini biasa biasa saja. Perasaanku kini gampang melunak, mudah tersentuh, padahal sebelumnya sangat egois. Hati jadi lembut. Mengapa bisa hanya dengan mempelajari buku-buku Islam aku berubah seperti ini? Sekonyong konyong aku menjadi pribadi penuh santun dan menghormati orang lain.

BABAK AWAL PENYIKSAAN ITU
Sejak itu kudalami Islam. Kubeli buku buku tuntunan ibadah, beberapa kaset ceramah K.H. Zainudin MZ yang waktu itu jadi trend, serta sebuah jilbab. Tentu saja kegiatan baru itu ini kulakukan tanpa sepengetahuan keluarga. Aku sangat menikmatinya. Maka lama-kelamaan sudah bisa kulaksanakan sholat, puasa, bahkan berjilbab.

Syahdan aku menjadi muslim sebelum aku benar-benar sah sebagai seorang muslim. Inikah hidayah itu?

Interesku akan jilbab ini memicu tindakan yang lumayan ekstrim. Alu sering datang ke mesjid layaknya seorang muslimah. Aku ingin bertanya pada orang-orang disana tentang tata cara gerakan sholat. Aku tahu tindakan ku bakal menuai resiko besar. Kalau sampai penyemaranku sampai terbongkar, aku pasti dibunuh.

Tapi kawan, tidak bisa kugambarkan perasaan ini ketika aku telah mengenal Islam. Ketika aku membawa AL-Qur'an, Tasbih, Yaasin, hatiku tenang. Relung hatiku syahdu.

Untuk mempelajari Islam lebih lanjut, kudatangi sanak kerabat yang muslim. "Bisa gila aku kalau sampai tidak bisa masuk Islam, kak!" kataku kepada mereka. Malangnya, reaksi mereka diluar dugaanku. Tak satupun yang percaya bahwa aku ingin masuk Islam. Mungkin karena keluargaku termasuk keluarga Katolik berpengaruh, mereka tak mau ambil resiko jika harus menampungku.

Serapat rapat bangkai ditutup pasti akan tercium juga. Saat pembagian raport, 'aktivitas baruku' akhirnya terbongkar. Pasalnya pihak sekolah memberitahu orangtuaku bahwa aku nunggak bayar SPP berbulan-bulan. Belum lagi aku sering bolos sekolah. Aku di interogasi. Aku bersikukuh tidak menceritakan aktivitasku yang sedang mendalami Islam.

Hingga suatu ketika aku berpapasan dengan teman kakakku dijalan. Dia mengamatiku penuh selidik. Sebab waktu itu aku sedang berjilbab. Jujur aku gugup. Takut ketahuan. Ternyata benar firasatku. Saat tiba dirumah, aku langsung babak belur dihantam oleh kakakku yang kebetulan seorang tentara.

Masya Allah. Inilah awal petaka itu. Seperti orang kesurupan , tubuhku dihujani pukulan dan tendangan. Aku roboh. Sepatu laras dengan tubuh besarnya menginjak tubuhku yang tak berdaya. Dari ujung rambut sampai kaki. Oh Tuhan. Sakit sekali. Darah bereceran. Aku pingsan. Bibirku robek. Badanku biru lebam.

Celakanya tidak satupun yang mau melindungiku. Malah mereka menggeledah kamarku. Mereka temukan semua "simpananku", Al-Qur'an, buku-buku tuntunan ibadah, tasbih, sajadah. Mendapatkan itu semua, kakakku yang kejam makin blingsatan menyiksaku.

Allahui Akbar. Tubuhku tak kuat lagi. Tapi hei, anehnya nyaliku ini sama sekali tak ciut. Semakin keras sikasaan menimpaku, semakin aku merasa punya kekuatan.

"Ananda ingin masuk Isam..." pintaku lirih dengan suara parau."Gila kamu! Sinting!! Otakmu sudah tidak waras!! teriak saudara saudaraku. Bak pencuri yang tertangkap basah, aku jadi bulan bulanan. Yaa Allah! Tolong aku!

MALAIKAT PENOLONG
Mereka menduga aku dipengaruhi oleh seseorang. Untuk anak sebayaku yang sedang ranum begini, jejaka mudalah yang jadi sasaran curiga mereka. Dikiranya aku sedang menjalin kasih dengan seorang pemuda muslim. Padahal pacaranpun aku tidak pernah.

Sejak peristiwa itu aku dikurung. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, mereka menegorku, Pukulan bak suguhan makanan. Dalam satu minggu, kadang lebih dari 20 kali kakakku menyiksaku. Tapi masya Allah, semakin aku ditekan begitu, keinginanku masuk Islam malah semakin kuat. Ketenangan dan kedamaian yang kutemukan dalam Islam membuatku mudah berbesar hati.

Satu satunya cara agar aku lepas dari cengkeraman keluarga adalah keluar dari rumah. Kuutarakan pada keluarga bahwa aku ingin melamar kerja disebuah perusahaan besar. Padahal yang terpikir olehku adalah melamar jadi pembantu. Entah kenapa mereka membiarkan aku melenggang.

Jauh dari rumah kurasakan kebebasan nyata. Tapi aku belum juga melaksanakan niatku untuk masuk Islam. Sampai akhirnya aku bertemu dengan seorang pria. Dia seorang Intel. Kayaknya bertemu kawan lama, kuceritakan keinginanku masuk Islam dan penyiksaan keluarga.

Dia sangat terkejut. Sadar akan bahaya yang mengintaiku setiap saat, dia menawarkanku untuk pergi kekapmpung halamannya. Disana aku ditempatkan disebuah pondok pesantren. Dan atas bombingan tokoh agama setempat akhirnya aku dibimbing mengucapkan Dua Kalimat Syahadat.

MEREKA MERAMPAS ANAKKU
Rupanya lelaki yang menolong itu ditakdirkan Allah menjadi suamiku. Beberapa bulan kemudian kami menikah. Dan tak lama kami dikaruniai anak. Aku hamil. Melihat kebahagiaan ini, menyarankan agar aku silaturahmi mengunjungi orang tua dan sanak keluargaku. Mungkin dengan kehadiran anakku nanti hati mereka lunak.

Aku pulang seorang diri karena suami sedang ditugaskan keluar daerah. Begitu sampai dirumah, ternyata drama penyiksaan itu kembali disuguhkan. Aku dikurung hingga waktu melahirkan. Kondisiku yang berbadan dua ternyata tidak mengibakan hati mereka. Bahkan ketika aku berhasil melahirkan, anakku langsung direbut.

Kawan, hati ibu mana yang rela dipisahkan dari anaknya. Tak boleh aku berdekatan dengan anakku. Bahkan untuk menyusui sekalipun. Selama aku tidak mau ke gereja tak akan ada kesempatan menimang anakku.

"Apa kamu bisa besarkan anak padahal kamu kere!" Begitu jawaban saudara saudaraku jika aku meminta anakku. Hatiku remuk redam.

Mereka kembali mengejekku, menertawakanku. "Rasain, siapa suruh masuk Islam!" Kesalahan sedikit yang kubuat selalu dijadikan senjata oleh mereka untuk mengintimidasiku. Bahkan saat anggota keluarga yang lain yang melakukan kesalahan, tetap kesalahan dituduhkan padaku. Mereka ciptakan jarak, sepertinya aku ini tak pantas berada ditengah tengah mereka.

Sampai suatu ketika ada kesempatan untuk kali kedua, aku kembali berhasil kabur. Walau harus kutinggalkan anakku. Kelak jika Allah mengizinkan aku akan menjemputnya.

Saat itu sedang ramai ramainya orang mendaftarkan diri sebagai TKW. AKu ikut mendaftar dengan harapan bisa dibawa pihak perusahaan pergi jauh.

SUAMI SELINGKUH
Aku kembali ke kampung halaman suamiku. Namun mertuaku kecewa karena tak bisa melihat cucunya. Sementara suami yang sedang tugas di rantau tak juga kembali. Malah kudengar kabar suamiku selingkuh. Aku berusaha sabar. Apapun yang terjadi. Alhamdulillah, akhirnya rumah tangga kami selamat. Bahkan tak berapa lama kami dikarunai beberapa anak.

Namun itu tak lama. Suamiku kambuh lagi. Bahkan lebih parah. Dia jarang pulang. Sering menginap dirumah kos wanita simpanannya. Padahal aku sedang hamil lagi. Ya Allah, semoga ujian ini menjadi jalan agar kau tambah sayang padaku!.

Aku jalani kehidupan rumah tangga seperti biasa. Aku berusaha tak mau tahu walaupun tahu. Namun aku tak mau dibuat bimbang, apakah suami menceraikanku atau tidak. Akhirnya, kutemui suami ditempat simpanannya. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Kudapati suami sedang tidak berbaju dengan perempuan itu. Dan teganya dia mengusirku sambil menjatuhkan talak.

Sempat kupikir, mungkin suami begini karena aku tak kerja (lantaran hamil). Memang penghasilanku cukup lumayan. Bahkan dari hasil kerja kerasku bisa kubangun rumah, beli kendaraan, tanah, ternak sampai menyekolahkan saudara-saudara iparku.

Aku tetap ingin mempertahankan rumah tanggaku. Subhanallah. Allah Maha Mendengar. Suamiku sadar kembali. Tapi inipun tak lama. Suamiku selingkuh lagi. Parahnya kini dia jadi tukang pukul. Tidak ada ujung pangkalnya, dia sering memukuliku. Dia tidak mau menyentuhku. Bahkan dengan tegas dia mau tinggal dengan simpanannya. Yang sangat menyakitkan, dia membawa anak anak kerumah kontrakan itu.

Dihadapkan pada persoalan sebesar in, beruntung kepalaku tetap dingin. Perasaanku tetap tenang. Tidak mudah tersulut emosi. Aku sendiri heran, mengapa aku bisa sekuat ini.
Ketika kuputuskan mendatangi suamiku, rasa cemburu dan amarah bisa kutekan. Malangnya, dia malah menjatuhkan talak, memaki dan menempelengku.

Yang kusesalkan, ulah suamiku kali ini didukung bapak mertua dan saudara-saudaranya. bahkan bapak mertua rela menceraikan ibu mertuaku gara-gara ibu mmebelaku.

Suamiku semakin gila. Kini dia berani membawa simpannnya kerumah. Bahkan berbuat mesum dikamar. Kutemukan suami sedang berzinah. Seketika itu juga aku pingsan. Dan disaat aku tak sadar, mereka sedang siap-siap kabur. Menyadari situasi yang membahayakan anaknya, bapak mertua membantu kabur sambil membawa anak-anakku. Aku heran, kenapa mertua mendukung anaknya dalam kemaksiatan?

Begitu siuman muka dan badanku dihantam ketembok. Sampai bibirku sobek. Saat itu juga dia jatuhkan talak tiga. Aku berusaha mengiba agar dia jangan menceraikanku. Namun ia menjawabnya dengan tendangan. Ya Allah, kuabdikan diri ini untuk mereka, suami dan keluarganya. Karena kuanggap orangtuaku telah tiada. Namun tak satupun peghargaan diberikan atas pengorbananku.

Tak kusangka tanpa sepengetahuanku rumah dan harta bendaku telah dibalik nama atasnama suami dan nama saudara saudaranya. Aku diusir. Setelah sebelumnya mereka mengeroyokku. Semua pintu rumah ditutup. AKu dicekik. Aku megap megap teriak minta tolong. Oh teganya mereka melakukan ini, padahal aku sedang hamil lagi. Mirisnya mertuaku tak percaya. Ia menuduhku bahwa itu bukan janin cucunya.

Aku bingung mau kemana. Untuk beberapa saat aku hidup dari belas kasihan orang lain. Hingga akhirnya aku lari kepondok pesantren.

Tak berapa lama kudengar kabar suami meninggal. Ia tewas tertembak saat sedang bertugas. Allah memisahkan kami saat kami belum berbaikan. Tapi sudah kuikhlaskan semua kelakuannya. Tidak ada kebencian sedikitpun terhadap dia. Kuanggap dia sedang tersesat dan harus dibimbing. Akupun berusaha berpikir positif. Kalau dia hidup hanya akan terus menerus berbuat dosa, lebih baik dia diambil Allah.

Masa melahirkan semakin dekat. Aku tak ingin merepotkan orang lain. Termasuk pihak pesantren. Dengan berbagai pertimbangan, kucoba telpon kerumah. Tak diduga respon mereka baik. Bukan seperti yang kubayangkan. Mereka berjanji tidak akan menyiksaku jika aku pulang.

LEPAS DARI MULUT HARIMAU, KEMBALI KE MULUT BUAYA
Sambutan hangat benar-benar kurasakan saat kakiku kembali menginjak rumah. Terima kasih, ya Allah, mereka tulus menerimaku. Tidak ada yang mencurigakan. Tapi belum genap sebulan, penyiksaan gila itu terulang lagi. Bahkan kini lebih sadis.

Aku tidak diberi makan, Kalaupun dusuguhi makanan, makanan itu makanan haram, seperti daging babi atau anjing. Dua anakku telah berhasil dibaptis. Sementara yang belum terus dibiasakan ke gereja.

Aku berusaha mencuri kesempatan bercengkrama dengan anak anak. "Kakak dan adik saya nggak, sama mama?" tanyaku. Mereka mengangguk. AKu mewanti wanti. "Ingat ya nak, apa yang sedang kita lakukan disini adalah pura-pura. Pura pura kristen. Inga ya nak, kita ini orang Islam, sayang. Insya Allah, Allah selamatkan kita".

Pilu tak tertahankan. Aku merasa sebatangkara. Tiada teman curhat. Aku ingin tumpahkan semua beban ini pada Allah. "Ya Allah... ingin sekali kugenggam tanganMU..". "Kenapa aku tidak dilahirkan dalam keadaan Islam saja!"

YA ALLAH TOLONG KAMI
Kabur sedari dulu kurencanakan. Tapi penjagaan ketat membuatku tak berkutik. Lagi pula aku bingung mau kabur kemana? Tetapi kalau tidak lari mereka akan membaptis anak anakku. Aku khawatir akidah anak anak akan terkikis.

"Allahu Akbar.. Dia yang Maha Mendengar dan Melihat" membukakan jalan. Sehari sebelum dibaptis, hujan besar terus menerus. Dari pagi kemalam, hingga pagi lagi. Semua penghuni rumah terlelap. Biasanya mereka tidur diruang tengah sambil mengelilingi anak anakku. Tapi malam itu mereka masuk kamar masing masing.

Kuajak anakku tiga orang. Sementara yang dua tidak bisa. Tak mungkin mereka kubawa lari semua, berjalan selama berkilo-kilo menuju kerumah saudaraku yang Islam. Sayangnya tidak satupun yang mau menerima kami, karena mereka tahu kondisi pengawasan terhadapku semakin gawat. Mereka takut keluargaku yang terpandang dan punya pengaruh besar itu mengamuk.

Yang bisa mereka lakukan hanya memberi sumbangan ala kadarnya. Saat itu juga terkumpul dana 300 ribu rupiah. Aku disuruh kerumah saudara yang ada di pulau seberang.

Maka malam itu juga kami ke dermaga. Malangnya kapal baru berlayar dua hari lagi. Oh jadi selama itu kami harus bermalam di dermaga.

Perasaan haru dan bersalah tak bisa kututupi melihat ketiga buah hatiku. Yang kelas kelas 3 & 1 SD, serta yang berumur 1.5 tahun. Kami bertahan hidup dengan makan seadanya. Beruntung kedua anakku yang bersekolah sudah biasa puasa, sehingga dua bungkus nasi sudah cukup untuk makan sehari.

Pelarianku kepulau seberang ini ternyata tak bisa bertahan lama. Kabar tentang keluargaku yang tahu akan keberadaanku membuat saudaraku dipulau itu panik. Mereka tahu dari daftar nama penumpang. Apa susahnya bagi kakakku tang tentara itu menyelidiki keberadaanku??

Akhirnya kuputuskan untuk kembali kerumah mertua. Apapun resikonya. Yang terpenting bagiku saat itu adalah menyelamatkan aqidah anak-anakku. Meski mertua kejam kepadaku, tapi tidak kepada cucu-cucunya.

Adapun pekerjaanku disebuah LSM Internasional kini sudah berakhir. Rupanya atasanku dekat dengan tanteku yang Katolik. Bosku membujuk agar aku kembali lagi ke Katolik. Aku ditawari rumah mewah dengan wilayah domisili dibeberapa negara hebat didunia. Bahkan dia akan membuat asuransi pendidikan buat anak-anakku agar dapat bersekolah sampai level tertinggi.

Biarlah kesengsaraan menggelayutiku. Toh kedua tangan dan kakiku masih berfungsi. AKu akan cari kerja lagi. Aku ingin dapat tempat tinggal agar cepat bisa berkumpul dengan anak-anakku.

Nun jauh dilubuk dasar hatiku terselip perasaan rindu dapa orang tuaku. Demi Allah, aku masih menyayangi mereka meski aku disisihkan dan disampakkan. Yang aku inginkan hanyalah pengertian mereka akan keputusanku memilih islam.

Pernah kucuci kaki kedua orangtuaku dan kuminum air basuhannya. Tapi mereka bergeming. Dan akupun sama. Tak sejengkalpum kuubah pendirianku dan kembali keagama lama. Walau harus kehilangan segala-galanya, aku rela. Tapi aku tak rela jika Islam tercerabut dariku dan aku meninggal dalam keadaan murtad, tanpa menyebut nama Allah, tanpa zikir Laa Ilaaha Illa Allah... Aku tidak rela

Sumber : Tabloid Hidayah "ediri 75" Oktober 2007"
Catatan : dengan berbagai pertimbangan atas permintaan nara sumber, redaksi tidak dapat mencantumkan identitas pribadi saudara kita ini beserta fotonya. Semoga menjadi maklum


Minggu, 06 Desember 2009

Aku Tinggalkan Anak-anakku Demi Islam

Saturday, 25 July 2009 12:43
Meski pedih, ia hancurkan rasa cinta kepada dua putranya tersayang, karena Kavita lebih memilih cintanya kepada Islam

Hidayatullah.com--Namaku dulu adalah Kavita, dan nama panggilanku Poonam. Setelah memeluk Islam, aku bernama Nur Fatima. Usiaku 30-an tahun. Tapi aku merasa baru berumur lima tahun, karena pengetahuanku tentang Islam tidak melebihi pengetahuan anak usia 5 tahun.

Aku dulu bersekolah di Mumbai, di sebuah sekolah yang cukup besar khusus untuk anak-anak dari keluarga bangsawan. Kemudian aku melanjutkan pendidikan ke Universitas Cambridge. Setelah menyelesaikan program master, aku mengambil banyak kursus komputer.

Aku menyesal, banyak gelar duniawi yang sudah diraih, tapi aku belum melakukan apapun untuk kehidupan akhirat. Sekarang aku ingin melakukan sesuatu untuk akhiratku.

Lingkungan tempat aku dibesarkan, adalah lingkungan Hindu ekstrimis yang sangat membenci Islam. Keluargaku bagian dari dari organisasi Hindu garis keras, Shiv Sena.

Aku menikah di Mumbai, dan memiliki dua orang putra. Bersama suami dan anak-anak, kami kemudian pindah ke Bahrain.

Aku memeluk Islam setelah menikah, tapi aku sudah tidak meyukai menyembah dewa-dewa pujaanku sejak aku beranjak dewasa. Aku ingat, suatu hari aku membuang sesembahanku ke kamar mandi. Ketika ibu menegur aku, kukatakan padanya bahwa benda-benda itu tidak bisa melindungi diri mereka sendiri. Jadi mengapa kita meminta berkah dari mereka, menyembah mereka. Apa yang bisa mereka berikan kepada kita?

Ada sebuah ritual di keluarga kami, jika seorang gadis sudah menikah, maka ia membasuh kaki suaminya, lalu meminum air basuhannya. Tapi aku menolak melakukan hal itu sejak hari pertama menikah. Karena itu aku dimarahi habis-habisan.

Ketika masih sendiri aku pernah mengikuti sekolah pendidikan guru, dan aku suka mengendarai mobil sendirian. Aku kadang mengunjungi sebuah Islamic Center terdekat. Di sana, aku mendengarkan pembicaraan orang, dan akhirnya mengetahui bahwa orang Islam tidak menyembah dewa.

Mereka tidak mencari karunia dari seseorang yang lain. Mereka tidak punya Baghawan. Aku suka cara pandang mereka. Pada akhirnya aku mengetahui, yang mereka sembah ternyata adalah Allah, Yang Mengurus segala sesuatu.

Aku terkesan sekali dengan shalat. Awalnya aku tidak tahu itu adalah cara orang Islam berdoa. Yang aku tahu orang Islam sering melakukannya. Dulu kusangka itu semacam olahraga. Aku baru mengetahui gerakan itu dinamakan shalat ketika mulai mengunjungi Islamic Center.

Aku sering bermimpi setiap kali tidur. Aku melihat ada sebuah ruangan persegi empat. Mimpi itu selalu mengganggu tidurku dan membuat aku terbangun dalam keadaan berkeringat. Ruangan yang sama selalu muncul dalam mimpi ketika aku tidur kembali.

Setelah menikah aku pindah ke Bahrain, tempat yang membantu aku memahami Islam dengan lebih baik. Karena itu adalah sebuah negara Muslim, maka aku dikelilingi oleh tetangga Muslim. Aku berteman dengan seorang Muslimah. Ia jarang mengunjungiku, tapi aku sering mengunjunginya.

Suatu hari ia melarang aku mengunjungi rumahnya, karena waktu itu bulan Ramadhan, bulan untuk beribadah. "Ibadahku terganggu karena kamu berkunjung ke rumah," begitu katanya.

Aku sangat ingin tahu tentang ibadah ritual yang dilakukan orang Islam. Oleh karena itu aku memintanya untuk tidak melarangku berkunjung ke rumahnya. Aku berkata, "Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan. Aku hanya akan melihat apa yang kamu lakukan. Aku tidak akan berkata apapun, dan hanya akan mendengar apa yang kamu baca." Maka ia pun tidak melarangku berkunjung ke rumahnya.

Ketika aku melihatnya sedang beribadah, aku tertarik untuk menirukannya. Kemudian aku bertanya padanya tentang "gerak badan" itu. Ia memberitahu, itu namanya shalat. Dan buku yang selalu ia baca, adalah kitab suci Al-Quran.

Aku berharap bisa melakukan semua yang ia lakukan. Aku pulang ke rumah dan mengunci diri dalam kamar. Aku meniru semua apa yang dilakukan temanku secara diam-diam, meskipun aku tidak tahu banyak mengenai hal itu.

Suatu hari aku lupa mengunci kamar dan melakukan shalat, ketika itu suamiku masuk. Ia bertanya, apa yang aku lakukan. Aku bilang, "Aku melakukan shalat." Ia pun berkata, "Apakah kamu masih waras? Kamu tahu apa yang kamu katakan?"

Awalnya aku ragu. Mataku terpejam dan ketakutan. Tapi tiba-tiba, aku merasa ada sebuah kekuatan besar dalam diriku, yang membuat aku berani untuk menghadapi situasi saat itu. Aku berkata bahwa aku sudah memeluk agama Islam, dan karena itu aku melakukan shalat.

Suamiku berseru, "Apa?! Apa kamu bilang? Coba kamu katakan sekali lagi?" Aku mengulangi ucapanku, sambil memberi tekanan, "Ya! Aku masuk Islam." Mendengar hal itu ia langsung memukuli aku.

Kakakku mendengar suara ribut-ribut dan mendatangi kami. Ia berusaha menyelamatkan aku. Tapi, ketika suamiku menceritakan semuanya, ia pun maju dan ikut memukuli aku.

Aku berusaha menghentikannya dengan berkata, "Kamu tidak perlu ikut campur. Aku tahu apa yang baik dan apa yang buruk buatku. Aku telah memilih jalanku."

Mendengar perkataanku itu, suamiku semakin naik pitam. Ia menyiksaku sedemikian rupa hingga aku tidak sadarkan diri.

Ketika itu semua terjadi, kedua putraku berada di rumah. Saat itu putra pertamaku berusia 9 tahun dan adiknya 8 tahun.

Tapi setelah peristiwa itu, aku tidak diperbolehkan bertemu siapapun. Aku dikurung dalam sebuah ruangan. Meskipun sebenarnya belum benar-benar memeluk Islam, tapi aku selalu mengatakan bahwa aku telah masuk Islam.

Suatu malam, ketika aku masih dikurung, putra sulungku datang dan menangis dalam pelukanku. Aku bertanya, kemana anggota keluarga yang lain. Ia bilang mereka semua pergi mengunjungi sebuah acara. Tak ada seorang pun di rumah. (Malam itu ada sebuah festival keagamaan).

Putraku minta agar aku kabur dari rumah, karena keluargaku akan membunuhku. Aku katakan padanya, bahwa hal seperti itu tidak akan terjadi. Mereka tidak akan menyakiti aku. Dan kukatakan pada putraku, agar ia menjaga dirinya sendiri dan juga adiknya.

Tapi ia terus memaksa dan memohon agar aku meninggalkan rumah. Aku berusaha membuatnya mengerti, jika aku pergi maka aku tidak bisa bertemu dirinya dan adiknya. Namun ia menjawab, aku akan bisa menemui mereka jika aku masih hidup. "Pergilah mama, mereka akan membunuhmu," katanya.

Akhirnya aku memutuskan untuk pergi. Aku tak bisa melupakan peristiwa itu, ketika putra pertamaku membangunkan adiknya dan berkata, "Bangunlah. Mama akan pergi meninggalkan rumah. Temuilah ia sekarang, karena kita tidak tahu apakah kita akan berjumpa lagi dengannya atau tidak."

Itu pertama kali si bungsu melihatku setelah kami tak jumpa sekian lama. Ia mengusap-usap matanya ketika melihatku. Ketika aku mendekatinya, ia pun memelukku dan menangis tersedu-sedu. Anak-anak mungkin sudah mengetahui semuanya. Ia hanya berkata, "Mama akan pergi?" Aku hanya mengangguk, dan meyakinkannya jika kami akan bertemu lagi.

Aku merasa meremukkan cinta seorang ibu dengan kakiku. Di satu tangan aku menggenggam cinta anak-anakku, dan di tangan lain aku menggenggam cintaku pada Islam yang akan menggantikannya. Aku merintih dan memeluk erat anak-anakku. Aku berusaha menghancurkan cintaku pada mereka.

Luka-lukaku masih segar, aku tidak bisa berjalan. Namun aku berusaha untuk melakukannya.

Kedua putraku menyaksikan kepergianku malam itu, di malam yang gelap dan dingin. Mereka melambaikan tangan sambil menangis di pintu gerbang.

Aku tidak bisa melupakan saat-saat itu. Setiap kali aku mengingatnya, aku teringat orang-orang yang telah meninggalkan rumah dan keluarga mereka demi untuk Islam.

Setelah meninggalkan rumah, aku langsung menuju ke kantor polisi. Masalahku saat itu, mereka tidak mengerti bahasaku. Untungnya, seorang di antara mereka bisa berbahasa Inggris.

Saat itu aku sulit bernapas dan tidak bisa bicara karena gemetaran. Aku memintanya agar mengizinkanku beristirahat sampai aku bisa memulihkan keadaanku.

Tak lama kemudian aku pun pulih. Aku katakan padanya kalau aku meninggalkan rumah dan ingin memeluk Islam. Aku ragu-ragu untuk menceritakan semua kejadian yang sebenarnya. Namun polisi itu berusaha menenangkanku dan berkata bahwa ia seorang Muslim, ia akan membantuku semaksimal mungkin. Kemudian aku diajak pulang ke rumahnya dan diberi tempat menginap di sana.

Pagi harinya, suamiku mendatangi kantor polisi meminta bantuan. Ia mengatakan bahwa istrinya telah diculik. Tapi kemudian dikatakan kepadanya bahwa istrinya tidak diculik. Istrinya datang sendiri ke kantor polisi. Karena ia ingin memeluk Islam, maka suaminya tidak lagi memiliki hubungan dengannya karena berbeda agama. Jadi istrinya tidak boleh pergi dengannya.

Suamiku memaksa, dan mulai mengancam. Tapi aku sendiri menolak untuk pergi bersamanya. Aku mengatakan bahwa ia boleh mengambil semua perhiasanku, tabungan, dan rumah milikku. Tapi aku tidak akan pergi dengannya.

Awalnya ia tidak menyerah. Namun, karena melihat kegigihanku menolaknya, ia pun minta dibuatkan pernyataan tertulis bahwa ia mendapatkan semua harta bendaku.

Polisi yang menolongku berkata bahwa sekarang keluargaku tidak bisa menyakitiku lagi, dan aku bisa memeluk Islam. Aku berterima kasih padanya, lalu pergi ke rumah sakit, karena seluruh badanku penuh dengan luka.

Aku tinggal beberapa hari di rumah sakit. Suatu hari seorang dokter bertanya, "Dari mana asalmu? Tidak ada seorang anggota keluarga pun yang datang menjengukmu ke rumah sakit." Aku diam, tidak menjawab. Sebab aku meninggalkan rumah karena mencari satu hal. Dan sekarang aku tidak memiliki rumah atau keluarga. Yang aku miliki hanya Islam.

Polisi Muslim yang menolongku, ia memanggilku sebagai seorang saudara perempuan. Dan ketika aku berada di rumahnya, ia memperlakukanku seperti saudara kandungnya. Ia telah memberiku tempat berteduh di malam yang dingin, ketika aku kehilangan seluruh keluargaku. Aku tidak akan pernah melupakan jasanya.

Dan ketika aku berada di rumah sakit, aku bingung. Apa selanjutnya yang harus aku lakukan? Kemana aku harus mencari tempat berlindung yang aman.

Setelah keluar dari rumah sakit, aku langsung pergi ke Islamic Center. Saat itu tidak ada seorang pun, hanya ada seorang bapak tua yang sepertinya tinggal di sana. Aku menemuinya, dan kukatakan maksud kedatanganku. Sejenak ia merasa ragu, lalu berkata, "Nak, sari ini bukanlah pakaian seorang Muslimah. Pergi dan pakailah kerudung, tutupilah dirimu sebagaimana orang Muslim."

Aku mempunyai sisa uang yang kubawa ketika meninggalkan kantor polisi. Kubeli seperangkat pakaian dengan uang itu, lalu kembali ke Islamic Center.

Pak tua itu mengajariku cara berwudhu. Setelah aku berwudhu, ia membawaku ke sebuah ruangan. Ketika memasuki ruangan itu, aku melihat sebuah gambar tergantung di dinding. Aku terdiam, karena aku melihat ruangan seperti yang ada dalam mimpiku. Seketika aku berseru, "Ini yang sering aku lihat dalam mimpiku. Yang selalu mengganggu tidurku."

Pak tua tersenyum, ia berkata bahwa itu adalah rumah Allah. Muslim dari seluruh penjuru dunia datang ke rumah itu untuk melakukan haji dan umrah. Namanya Baitullah. Aku terkejut mengetahuinya. Aku pun bertanya, "Apakah Allah tinggal di sebuah rumah?" Ia menjawab, pertanyaan-pertanyaanku dengan senyum dan penuh perhatian. Sepertinya ia tahu banyak tentang Islam.

Aku tidak mengalami kesulitan berbicara dengannya. Ia menjelaskan setiap hal dalam bahasa ibuku. Aku merasakan kebahagiaan yang aneh saat itu.

Ia membimbingku mengucapkan syahadat. Kemudian menjelaskan tentang Muslim dan Islam. Setelah itu aku merasa tidak takut dan juga tidak ada beban dalam pikiranku. Aku merasa diriku sangat cerah. Rasanya seperti berenang di tempat kotor, lalu pindah ke dalam air yang jernih.

Pengelola Islamic Center itu mengangkatku sebagai anak, dan membawaku pulang ke rumahnya. Beberapa waktu kemudian ia pun menikahkah aku dengan seorang Muslim. Keinginan pertamaku saat itu adalah melihat rumah Allah. Lalu aku pun pergi melakukan umrah.

Setelah aku memeluk Islam, aku tidak pernah kembali ke India, dan aku pun tidak ingin pergi ke sana. Keluargaku mempunyai hubungan dengan organisasi-organisasi politik dan Hindu di sana. Mereka bahkan telah menawarkan sejumlah uang untuk kepalaku.

Dulu aku diberitahu bahwa mujahidin adalah orang-orang yang suka menindas. Dan mereka sering melakukan penindasan melewati batas. Kami dibuat agar membenci mujahidin. Tapi sekarang aku telah mendapatkan kebenaran, dan aku mencintai mereka. Kuucapkan doa untuk mujahidin dalam setiap shalatku.

Aku juga berdoa kepada Allah, jika Ia mengaruniaiku dengan anak-anak laki-laki, aku akan sangat bahagia jika melihat mereka ada dalam barisan para mujahid. Aku akan mempersembahkan mereka untuk kejayaan Islam. Insya Allah.[di/iw/www.hidayatullah.com]



Menikmati Dakwah Lewat Radio di Filipina

Friday, 04 December 2009 17:32

Radio tidak hanya bisa dimanfaatkan untuk menyiarkan musik dan acara hiburan. Di Filipina, banyak orang tertarik masuk Islam dari program acara radio


Hidayatullah.com--Islam bukan monopoli orang Arab dan para ulama. Dari mana pun asal dan latar belakang seorang Muslim, ia dapat menyebarkan Islam dengan cara yang mampu dilakukannya. Seperti pengalaman Duston "Hajji Saifullah" Barto, seorang warga Amerika Serikat yang bekerja sebagai penyiar radio di Filipina. Dengan kepiawaiannya memproduksi acara radio, ia berhasil menyampaikan pesan-pesan Islam, sehingga banyak orang tertarik untuk memeluk Islam.

***

Hanya beberapa pekan setelah empat orang Filipina mengucapkan dua kalimat shahadat, saya (Barto) dan istri saya Aisyah, diundang untuk menyaksikan orang lain yang juga ingin masuk Islam. Dengan gembira mereka menyambut tiga orang Muslim baru, salah satunya bernama Paula.

Paula, seorang wanita Katolik berusia 20 tahun, tertarik untuk masuk Islam setelah mendengarkan acara-acara radio yang diproduksi Barton. Paula datang bersama dengan Deena, seorang wanita yang dikenalnya dalam sebuah acara debat antara Muslim dan pengikut Kristen Advent Hari Ketujuh. Deena adalah pendengar setia "Wanita dalam Islam", sebuah program radio yang dikelola Barton. Ketika Paula memutuskan untuk pindah agama, ia ingin ada pengelola acara tersebut yang menjadi saksi baginya.

Beberapa hari setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, Paula memilih "Jannah" sebagai nama barunya, yang dikiranya berarti "taman". Dengan senang hati Barton memberitahukan, bahwa Jannah bukan sekedar taman biasa, tapi itu artinya adalah "taman surga".
Keponakan laki-laki Deena yang berusia sepuluh tahun juga ikut mengucapkan syahadat. Saat usianya sembilan tahun, bocah itu telah memutuskan untuk mendalami Islam, meskipun tidak ada seorang pun di keluarga terdekatnya yang Muslim. Ia kemudian belajar bagaimana membaca huruf-huruf Arab dan berhasil menghapal 19 surat dalam Al-Quran.

Di keluarga, ia mendapat siksaan dari saudara-saudara kandungnya, namun bocah itu tetap mempertahankan keyakinannya.

Satu hari, ibunya menyiapkan makan malam, ia berkata pada ibunya, "Ibu, saya tidak bisa makan daging itu, karena tidak halal. Saya hanya akan makan nasi dan garam saja."

Mendengar hal tersebut kontan ibunya marah dan memukuli pantat bocah itu.

Perlakuan kasar sang ibu, tidak menggoyahkan imannya. Ia malah khawatir syahadatnya tidak diterima, karena hanya disaksikan oleh bibinya, Deena. Oleh sebab itu, ia meminta Barton dan istri menjadi saksi bahwa ia masuk Islam.

Dalam waktu satu minggu setelah pertama kali videonya ditampilkan di Youtube, lebih dari 360 orang telah menyaksikan rekaman syahadatnya. Dan hal yang paling menggembirakan adalah, keislaman bocah itu menjadikan ibunya tertarik untuk mempelajari Islam.

Keponakan Deena tersebut mempunyai seorang teman berusia 12 tahun. Anak itu juga telah menjadi seorang Muslim. Keduanya saling tolong-
menolong dalam menghapalkan al-Qur'an dan selalu pergi bersama ke rumah Deena untuk melaksanakan shalat.

Heidi dan Cecille, adalah dua orang perempuan lain yang disaksikan keislamannya oleh Barton. Mereka berasal dari keluarga Katolik. Usianya baru 20-an tahun, tapi mereka sangat bersemangat menunjukkan Islam kepada teman-temannya.

“Senang sekaligus merasa beruntung karena menyaksikan semakin banyak orang yang memeluk Islam, “ ujar Barton semangat. Barton akhirnya giat membuat program acara radio untuk disebarluaskan ke berbagai radio Muslim di seluruh dunia. Barton juga berupaya mencari sponsor untuk membiayai acara radio yang dibuatnya.

Baginya sangat ajaib, untuk menghasilkan tiga buah acara, "The Message" dan versinya dalam bahasa Tagalog, serta "Women in Islam", total biaya setiap bulan yang dikeluarkan hanya 500 dollar.

Barton dan teman-temannya juga membuat drama radio Muslim pertama di Filipina. Empat episode pertama ditulis oleh ibu mertua dan disutradarai oleh temannya, Rallam Muhammad. Drama itu menggunakan suara-suara orang yang sudah berpengalaman di Filipina, baik Muslim maupun non-Muslim. Naskahnya bercerita seputar masalah-masalah nyata yang kerap ditemui sehari-hari dan diberikan solusi sesuai dengan hadist-hadist Rasulullah. Selama sebulan mereka mampu memproduksi drama radio berkualitas tinggi hanya dengan biaya 1.000 dollar, sudah termasuk biaya studio, pemain, pengeditan suara dan biaya tayang.

Setiap hari Barton merasa bersyukur, karena Allah telah membawanya ke Filipina, sehingga ia bisa ikut menyebarkan pesan-pesan Islam dengan cara yang mungkin tidak bisa dilakukannya di Amerika. [di/dmu/www.hidayatullah.com]

Senin, 23 November 2009

Dari Pub Koktail ke Islam

Friday, 20 November 2009 13:56

Seorang wanita ratu pesta dan narkoba akhirnya mendapatkan kebahagian sejati setelah memeluk Islam

Hidayatullah.com--Laura Pistorious adalah seorang wanita muda kulit putih Afrika Selatan, yang dulu mengelola sebuah pub koktail di Camps Bay, sebuah kota pantai di pinggiran Cape Town.

"Saya memiliki kebiasaan menggunakan narkoba yang sangat parah dan saya mengira menjalani gaya hidup kelas atas," cerita Laura kepada IslamOnline.

Dari luar ia kelihatannya gembira mengenakan pakaian rancangan desainer, menggunakan obat-obatan dan berpesta sepanjang waktu.

Tapi di dalam, Laura selalu merasa ada sesuatu yang tidak benar, rasanya ada sesuatu yang membakar.

Meskipun ia dibesarkan dalam keluarga Katolik yang taat, ia berhenti percaya pada Tuhan, sebagai akibat dari gaya hidupnya yang tinggi dan kecanduan narkoba.

"Saya mencapai satu titik dalam kehidupan, di mana saya tidak lagi mempercayai Tuhan."

Kehidupan Laura seketika berubah setelah ia bertemu dengan seorang teman yang telah memeluk Islam.

"Setelah mendengarkan teman Muslim saya malam itu, saya banyak menangis dan berdoa."

Laura mengatakan, setelah ia berdoa sekian lamanya, sebuah keajaiban terjadi dalam hidupnya.

Secara tiba-tiba ia mampu mengatasi kecanduan narkoba yang telah dideritanya selama empat tahun. Dan Laura mulai membaca lebih banyak tentang Islam.

Pada saat itu, ia belum berpikir untuk menjadi seorang Muslim.

Namun, pada September 2007 sebelum bulan Ramadhan, Laura akhirnya mengucapkan dua kalimat syahadat.

"Alhamdulillah, saya masuk Islam melalui teman, dan hidup saya berubah sama sekali."

Lebih bahagia

Setelah memeluk Islam, Laura berhenti bekerja di pub koktail.

"Setelah menjadi seorang Muslim, saya mengetahui lebih banyak tentang Islam dan memperhatikan tempat saya bekerja. Saya bahkan berhenti tanpa ada penawaran kerja lainnya," cerita Laura yang kini memakai hijab.

"Tapi saya percaya pada Allah."

Orangtua Laura, terutama ayah, telah bisa menerima agama yang dipilihnya dan sering bertanya tentang Islam.

"Sejak saya memeluk Islam dan berhenti dari pekerjaan manajerial di pub, saya pulang ke rumah lebih awal. Orangtua saya senang karenanya," cerita Laura.

"Saya berharap satu hari mereka juga akan memeluk Islam."

Sebulan kemudian, Laura mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik. Tapi ia mengatakan kepada bosnya, seorang Kristen fundamentalis, dirinya mau mengambil pekerjaan itu asalkan diberi waktu istirahat untuk shalat.

Bosnya setuju

"Jika Anda melakukan hal-hal baik untuk alasan yang tepat, Allah akan memberkatimu," begitu keyakinan Laura, yang menjadi pembawa acara bincang-bincang di sebuah radio di Cape Town.

"Sekarang saya memiliki hubungan yang baik dengan keluarga, teman dan alhamdulillah saya menjalani hidup yang lebih sehat, karena Islam."[di/iol/www.hidayatullah.com]


Senin, 19 Oktober 2009

Konflik Rumah Tangga Membuatnya Memilih Islam


Oleh : Redaksi Swara Muslim 18 Oct 2009 - 3:00 pm

Tidak hanya dikucilkan oleh keluarga, dirinya juga dijauhi teman-teman sepergaulannya. Terlahir dalam keluarga dengan keyakinan yang sama, ternyata tidak menjadi sebuah jaminan bahwa kehidupan spiritual seseorang akan berjalan mulus dan tanpa hambatan berarti. Namun, tidak demikian yang dialami Sephy Lavianto. Berbagai benturan terkait dengan kepercayaan yang ia anut datang silih berganti. ''Meski berasal dari keluarga Katolik dan sejak lahir sudah memeluk Katolik; dalam perjalanannya, saya mendapatkan banyak benturan dalam kepercayaan yang saya anut,'' ujar Sephy.

Benturan tersebut berupa keganjilan-keganjilan yang ia rasakan terhadap ajaran-ajaran yang terdapat dalam agama Katolik. Salah satu contohnya adalah keharusan untuk menghormati pastor sedemikian rupa sehingga ia bisa dijadikan sebagai perwakilan Tuhan. Selain itu, sikap lembaga gereja, kata dia, juga tidak ramah terhadap penganutnya sendiri. Puncak benturan terhadap keyakinan lamanya ini terjadi manakala pria kelahiran Medan, 5 September 1976, ini mengalami kegagalan dalam membina rumah tangga. ''Kejadian yang paling menyentak adalah setelah saya menikah secara Katolik.

Dalam perjalanannya, ternyata saya tidak berhasil dalam pernikahan itu,'' ungkap ayah seorang putra ini.

Keinginannya untuk mengakhiri biduk rumah tangganya ternyata mendapat tentangan dari pihak gereja. Dalam ajaran Katolik, pemeluknya tidak diperbolehkan untuk menceraikan istri atau suami.

Karena itu, ketika biduk rumah tangganya sudah tidak bisa dipertahankan lagi, dia pun memilih pengadilan negeri untuk memproses persidangan perceraiannya. Dan, ketika perceraian telah diproses dan dirinya sudah mendapatkan surat cerai, lagi-lagi dirinya harus berhadapan dengan pihak gereja. Pihak gereja tidak mengakui surat keputusan cerai yang telah dikeluarkan pihak pengadilan negeri tersebut.

''Menurut ajaran Katolik, suatu ikatan pernikahan tidak bisa diceraikan oleh yang namanya manusia dengan sebab apa pun. Karena itu, seorang romo dan pastor sendiri tidak mengakui keputusan pengadilan tersebut,'' paparnya.

Konsekuensi ini membawa Sephy dalam sebuah kondisi kehidupan pernikahan yang tidak jelas. Secara hukum agama Katolik yang dianutnya, ia masih terikat dalam sebuah perkawinan. Sementara itu, berdasarkan hukum negara, ikatan perkawinannya sudah berakhir.

Menghadapi kenyataan seperti ini, akhirnya ia memutuskan untuk mencari jalan keluar dengan menjajaki ke agama Kristen Protestan. Namun, di agama ini, ia justru menemukan kenyataan yang sama seperti pada agama yang ia anut sebelumnya. Keinginannya untuk mendapatkan persetujuan cerai dari gereja Protestan, jika ia memutuskan memeluk agama tersebut, justru direspons secara negatif oleh pihak gereja.

Di satu sisi, pihak gereja Protestan menyetujui keinginannya untuk berpindah keyakinan dan mengakuinya sebagai umat Protestan. Tetapi, di sisi lain, pihak gereja Protestan tidak mengizinkan dirinya untuk bisa melakukan perkawinan lagi secara Protestan ataupun Katolik.

Dari situ, kemudian timbul rasa kekecewaan dalam diri Sephy terhadap kedua agama tersebut. ''Waktu itu, yang ada dalam pikiran saya cuma kedua agama ini aneh sekali. Mengapa orang yang lagi butuh pertolongan dan bimbingan justru ajaran agama yang dianutnya tidak memberikan solusi yang baik.''

Memimpikan Makkah
Keinginan untuk mendapatkan solusi atas persoalan hidup yang dialaminya akhirnya membawa Sephy pada agama Islam. Kesemua itu, menurut Sephy, sebenarnya berawal dari mimpi-mimpi yang kerap datang dalam tidurnya di pertengahan November dan Desember 2007 silam. Dalam mimpinya itu, Sephy diperlihatkan yang namanya kota suci bagi umat Islam, Makkah. ''Dalam mimpi itu, saya diajak orang ke Makkah dan orang itu bilang ini tempatmu,'' ujarnya.

Seringnya mendapat mimpi seperti itu muncul rasa keingintahuannya terhadap agama Islam secara lebih mendalam. Ia mengaku, selama memeluk Katolik, agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sering kali diidentikkan dengan agama yang penuh kekerasan, tidak toleran, militan, dan sangat tidak permisif untuk segala sesuatu yang haram di dunia. Kemudian, ia mencoba mencari tahu Islam melalui buku-buku mengenai perbandingan Islam dan Kristen.

Dari buku-buku yang dibacanya, Sephy justru menemukan gambaran mengenai agama Islam yang jauh berbeda dengan yang ia peroleh selama ini. ''Setelah saya baca dan pelajari, betul ternyata Islam, menurut saya pribadi, adalah agama yang menuntun seseorang untuk menjadi orang yang lebih baik tanpa ada kepura-puraan di dalamnya. Gambaran ini jauh berbeda dengan yang saya dapatkan sebelumnya,'' paparnya.

Setelah banyak membaca dan mempelajari lebih jauh, ia sampai pada satu kesimpulan bahwa Islam adalah agama yang sangat baik dan Nabi Muhammad SAW adalah seorang teladan yang baik. Tidak seperti pada agama yang lain, ungkapnya, aturan dalam Islam benar-benar harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

''Berbeda dengan ajaran Katolik atau Protestan yang semuanya enak, nggak ada larangan sama sekali. Kalaupun ada, larangan itu bisa dilanggar oleh pemeluknya karena perintahnya tidak jelas. Jadi, apa yang dilarang dalam Alkitab pun masih bisa dilakukan dalam kehidupan nyata,'' ungkap Sephy tentang agama lamanya itu.

Keinginannya untuk mendalami Islam terus dilakukan Sephy. Tidak hanya dari buku-buku bacaan, ia juga sering berdiskusi dengan teman-teman Muslimnya. Selama berdiskusi yang memakan waktu sekitar tujuh bulan itu, Sephy akhirnya mantap memilih Islam sebagai jalan hidupnya. Ia mengucapkan dua kalimat syahadat di rumah saudaranya yang beragama Islam.

''Sejak awal, orang-orang di sekeliling saya tidak pernah memaksa saya untuk memeluk Islam. Justru mereka menyarankan saya untuk mencari tahu dulu dan belajar dulu tentang semua ajaran Islam.''

Setelah menjadi seorang Muslim, Sephy berusaha mengamalkan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW ini dengan sebaik-baiknya.

Namun, tak lama menjadi Muslim, ujian mulai datang. Kedua orang tuanya marah besar ketika mengetahui anak semata wayangnya masuk Islam. Ia pun lantas dibuang oleh keluarganya. Semua cobaan itu ia terima dengan pikiran positif. Ibunya dulu juga seorang Muslim. Namun, setelah menikah dengan bapaknya, ibunya akhirnya berpindah agama dan menjadi penganut Katolik.

Tidak hanya dikucilkan oleh keluarga, teman-teman pergaulan dulu juga menjauhi dirinya begitu mengetahui Sephy berpindah keyakinan. Lagi-lagi, ia melihat hal ini sebagai bentuk transformasi menuju jalan hidup yang lebih baik. ''Saya melihatnya, kita dulu kan sama-sama rusak. Kalau dia masih mau rusak, silakan. Tapi, saya ingin memperbaiki kerusakan itu. Artinya, saya sudah puas untuk segala macam dosa yang aneh-aneh dan cenderung ke hal yang berbau maksiat.''

Puncak cobaan dirasakan Sephy ketika hidupnya menjadi susah secara ekonomi dan hubungan dengan orang-orang yang dahulu dekat dengannya mulai merenggang. Saat itu, menurut Sephy, ia seperti bernapas melalui sedotan. Namun, semua cobaan tersebut bisa ia lalui. ''Sekarang, hidup saya sudah mulai tertata,'' ujar Managing Partner The Serenity Project, sebuah perusahaan yang bergerak di bisnis properti ini.

Selain kehidupannya mulai tertata dengan baik setelah memeluk Islam, Sephy bertekad menjadi seseorang Muslim dengan kepribadian yang lebih baik. Orang mengenal sosok Sephy dahulu sebagai pribadi yang sombong, mudah marah, dan tidak ramah. ''Dan, itu terbukti pada saat saya diminta untuk menjadi panitia acara reuni SMA saya. Dari 80 orang yang kita undang, yang datang hanya 20 orang. Mungkin, karena mereka melihat panitianya saya,'' ungkapnya.

Untuk lebih matang dalam mempelajari agama Islam, Sephy memanggil guru mengaji ke rumah. Selain itu, ia berusaha untuk konsisten menjalankan semua ajaran dalam Islam, baik yang sifatnya wajib maupun sunah. Dengan menjalankan semua itu, ia merasakan ketenangan dalam menjalani hidup.

Meski dengan pemahaman yang masih minim, Sephy juga mulai mengenalkan agama barunya ini kepada buah hatinya, Ferreneza Amevie Lavianto, yang masih berusia tiga tahun. Hak asuh yang ia peroleh terhadap putra semata wayangnya ini memudahkan Sephy untuk memantau perkembangan dan pendidikan sang anak. ''Memang, dari awal, dia sudah dipermandikan dan dibaptis. Tetapi, untuk saat ini, saya melihat ibu saya sendiri tidak pernah mengajak dia ke gereja. Begitu juga dengan mantan istri saya juga tidak pernah mengajari dia ke gereja.''

Kendati demikian, ia tidak bisa terlalu banyak berharap jika kelak nanti sang anak akan mengikuti keyakinan yang dianutnya. ''Pada akhirnya, saya serahkan keputusan untuk memilih ke anak saya. Tapi, mungkin, sedari dini saya akan arahkan dia dengan pendidikan Islam. Semoga Allah memberikan hidayah kepada keluarga saya untuk senantiasa taat dalam menjalankan ajaran Islam,'' tukasnya. nidia zuraya (mualaf.com)

Biodata
Nama : Sephy Lavianto [ See Sephy @ Facebook ]
TTL : Medan, 5 September 1976
Masuk Islam : Mei 2008

Sabtu, 05 September 2009

The Guard Who Found Islam


Terry Holdbrooks stood watch over prisoners at Gitmo. What he saw made him adopt their faith.

By Dan Ephron NEWSWEEK
Published Mar 21, 2009
From the magazine issue dated Mar 30, 2009


Army specialist Terry Holdbrooks had been a guard at Guantánamo for about six months the night he had his life-altering conversation with detainee 590, a Moroccan also known as "the General." This was early 2004, about halfway through Holdbrooks's stint at Guantánamo with the 463rd Military Police Company. Until then, he'd spent most of his day shifts just doing his duty. He'd escort prisoners to interrogations or walk up and down the cellblock making sure they weren't passing notes. But the midnight shifts were slow. "The only thing you really had to do was mop the center floor," he says. So Holdbrooks began spending part of the night sitting cross-legged on the ground, talking to detainees through the metal mesh of their cell doors.
He developed a strong relationship with the General, whose real name is Ahmed Errachidi. Their late-night conversations led Holdbrooks to be more skeptical about the prison, he says, and made him think harder about his own life. Soon, Holdbrooks was ordering books on Arabic and Islam. During an evening talk with Errachidi in early 2004, the conversation turned to the shahada, the one-line statement of faith that marks the single requirement for converting to Islam ("There is no God but God and Muhammad is his prophet"). Holdbrooks pushed a pen and an index card through the mesh, and asked Errachidi to write out the shahada in English and transliterated Arabic. He then uttered the words aloud and, there on the floor of Guantánamo's Camp Delta, became a Muslim.

When historians look back on Guantánamo, the harsh treatment of detainees and the trampling of due process will likely dominate the narrative. Holdbrooks, who left the military in 2005, saw his share. In interviews over recent weeks, he and another former guard told NEWSWEEK about degrading and sometimes sadistic acts against prisoners committed by soldiers, medics and interrogators who wanted revenge for the 9/11 attacks on America. But as the fog of secrecy slowly lifts from Guantánamo, other scenes are starting to emerge as well, including surprising interactions between guards and detainees on subjects like politics, religion and even music. The exchanges reveal curiosity on both sides—sometimes even empathy. "The detainees used to have conversations with the guards who showed some common respect toward them," says Errachidi, who spent five years in Guantánamo and was released in 2007. "We talked about everything, normal things, and things [we had] in common," he wrote to NEWSWEEK in an e-mail from his home in Morocco.

Holdbrooks's level of identification with the other side was exceptional. No other guard has volunteered that he embraced Islam at the prison (though Errachidi says others expressed interest). His experience runs counter to academic studies, which show that guards and inmates at ordinary prisons tend to develop mutual hostility. But then, Holdbrooks is a contrarian by nature. He can also be conspiratorial. When his company visited the site of the 9/11 attacks in New York, Holdbrooks remembers thinking there had to be a broader explanation, and that the Bush administration must have colluded somehow in the plot.

But his misgivings about Guantánamo—including doubts that the detainees were the "worst of the worst"—were shared by other guards as early as 2002. A few such guards are coming forward for the first time. Specialist Brandon Neely, who was at Guantánamo when the first detainees arrived that year, says his enthusiasm for the mission soured quickly. "There were a couple of us guards who asked ourselves why these guys are being treated so badly and if they're actually terrorists at all," he told NEWSWEEK. Neely remembers having long conversations with detainee Ruhal Ahmed, who loved Eminem and James Bond and would often rap or sing to the other prisoners. Another former guard, Christopher Arendt, went on a speaking tour with former detainees in Europe earlier this year to talk critically about the prison.
Holdbrooks says growing up hard in Phoenix—his parents were junkies and he himself was a heavy drinker before joining the military in 2002—helps explain what he calls his "anti-everything views." He has holes the size of quarters in both earlobes, stretched-out piercings that he plugs with wooden discs. At his Phoenix apartment, bedecked with horror-film memorabilia, he rolls up both sleeves to reveal wrist-to-shoulder tattoos. He describes the ink work as a narrative of his mistakes and addictions. They include religious symbols and Nazi SS bolts, track marks and, in large letters, the words BY DEMONS BE DRIVEN. He says the line, from a heavy-metal song, reminds him to be a better person.

Holdbrooks—TJ to his friends—says he joined the military to avoid winding up like his parents. He was an impulsive young man searching for stability. On his first home leave, he got engaged to a woman he'd known for just eight days and married her three months later. With little prior exposure to religion, Holdbrooks was struck at Gitmo by the devotion detainees showed to their faith. "A lot of Americans have abandoned God, but even in this place, [the detainees] were determined to pray," he says.

Holdbrooks was also taken by the prisoners' resourcefulness. He says detainees would pluck individual threads from their jumpsuits or prayer mats and spin them into long stretches of twine, which they would use to pass notes from cell to cell. He noticed that one detainee with a bad skin rash would smear peanut butter on his windowsill until the oil separated from the paste, then would use the oil on his rash.
Errachidi's detention seemed particularly suspect to Holdbrooks. The Moroccan detainee had worked as a chef in Britain for almost 18 years and spoke fluent English. He told Holdbrooks he had traveled to Pakistan on a business venture in late September 2001 to help pay for his son's surgery. When he crossed into Afghanistan, he said, he was picked up by the Northern Alliance and sold to American troops for $5,000. At Guantánamo, Errachidi was accused of attending a Qaeda training camp. But a 2007 investigation by the London Times newspaper appears to have corroborated his story; it eventually helped lead to his release.

In prison, Errachidi was an agitator. "Because I spoke English, I was always in the face of the soldiers," he wrote NEWSWEEK in an e-mail. Errachidi said an American colonel at Guantánamo gave him his nickname, and warned him that generals "get hurt" if they don't cooperate. He said his defiance cost him 23 days of abuse, including sleep deprivation, exposure to very cold temperatures and being shackled in stress positions. "I always believed the soldiers were doing illegal stuff and I was not ready to keep quiet." (Navy Cmdr. Jeffrey Gordon, a Pentagon spokesman, said in response: "Detainees have often made claims of abuse that are simply not supported by the facts.") The Moroccan spent four of his five years at Gitmo in the punishment block, where detainees were denied "comfort items" like paper and prayer beads along with access to the recreation yard and the library.

Errachidi says he does not remember details of the night Holdbrooks converted. Over the years, he says, he discussed a range of religious topics with guards: "I spoke to them about subjects like Father Christmas and Ishac and Ibrahim [Isaac and Abraham] and the sacrifice. About Jesus." Holdbrooks recalls that when he announced he wanted to embrace Islam, Errachidi warned him that converting would be a serious undertaking and, at Guantánamo, a messy affair. "He wanted to make sure I knew what I was getting myself into." Holdbrooks later told his two roommates about the conversion, and no one else.

But other guards noticed changes in him. They heard detainees calling him Mustapha, and saw that Holdbrooks was studying Arabic openly. (At his Phoenix apartment, he displays the books he had amassed. They include a leather-bound, six-volume set of Muslim sacred texts and "The Complete Idiot's Guide to Understanding Islam.") One night his squad leader took him to a yard behind his living quarters, where five guards were waiting to stage a kind of intervention. "They started yelling at me," he recalls, "asking if I was a traitor, if I was switching sides." At one point a squad leader pulled back his fist and the two men traded blows, Holdbrooks says.
Holdbrooks spent the rest of his time at Guantánamo mainly keeping to himself, and nobody bothered him further. Another Muslim who served there around the same time had a different experience. Capt. James Yee, a Gitmo chaplain for much of 2003, was arrested in September of that year on suspicion of aiding the enemy and other crimes—charges that were eventually dropped. Yee had become a Muslim years earlier. He says the Muslims on staff at Gitmo—mainly translators—often felt beleaguered. "There was an overall atmosphere by the command to vilify Islam." (Commander Gordon's response: "We strongly disagree with the assertions made by Chaplain Yee").

At Holdbrooks's next station, in Fort Leonard Wood, Mo., he says things began to unravel. The only place to kill time within miles of the base was a Wal-Mart and two strip clubs—Big Daddy's and Big Louie's. "I've never been a fan of strip clubs, so I hung out at Wal-Mart," he says. Within months, Holdbrooks was released from the military—two years before the end of his commitment. The Army gave him an honorable discharge with no explanation, but the events at Gitmo seemed to loom over the decision. The Army said it would not comment on the matter.

Back in Phoenix, Holdbrooks returned to drinking, in part to suppress what he describes as the anger that consumed him. (Neely, the other ex-guard who spoke to NEWSWEEK, said Guantánamo had made him so depressed he spent up to $60 a day on alcohol during a monthlong leave from the detention center in 2002.) Holdbrooks divorced his wife and spiraled further. Eventually his addictions landed him in the hospital. He suffered a series of seizures, as well as a fall that resulted in a bad skull fracture and the insertion of a titanium plate in his head.

Recently, Holdbrooks has been back in touch with Errachidi, who has suffered his own ordeal since leaving the detention center. Errachidi told NEWSWEEK he had trouble adjusting to his freedom, "trying to learn how to walk without shackles and trying to sleep at night with the lights off." He signed each of the dozen e-mails he sent to NEWSWEEK with the impersonal ID that his captors had given him: Ahmed 590.
Holdbrooks, now 25, says he quit drinking three months ago and began attending regular prayers at the Tempe Islamic Center, a mosque near the University of Phoenix, where he works as an enrollment counselor. The long scar on his head is now mostly hidden under the lace of his Muslim kufi cap. When the imam at Tempe introduced Holdbrooks to the congregation and explained he'd converted at Guantánamo, a few dozen worshipers rushed over to shake his hand. "I would have thought they had the most savage soldiers serving there," says the imam, Amr Elsamny, an Egyptian. "I never thought it would be someone like TJ."

With Dina Fine Maron in Washington
© 2009
Maaf, agak panjang tetapi sangat menarik

Ethel Mae Blizzard : 29 Tahun Menemukan Hidayah Islam



Katagori : Journey to Islam
Oleh : Redaksi 14 Aug 2009 - 11:00 pm

Dari Mormonisme Kepada Islam

Ethel Mae Blizzard, sekarang tinggal di San Diego, California, AS, melakukan pencarian selama 29 tahun untuk memastikan agama apa yang pas untuknya. Sejak kecil hingga usia 16 tahun, Mae dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang menganut agama Mormon. Tapi pada usia 18 tahun, ia tidak lagi mempercayai ajaran agamanya itu dan mulai berfikir bahwa ada Tuhan di luar sana, di suatu tempat.

Dimulailah perjalanan panjang Mae untuk mencari agama yang ia yakini paling benar. Mae pun mempelajari beragam agama mulai dari yudaisme, agama Baptis, sekte Advent Hari Ketujuh, Kesaksisan Yehovah, Katolik dan berbagai sekte dalam agama Kristen. Tapi tak satu pun yang menyentuh hatinya. Mae menyerah dan berharap akan menemukan apa yang ia cari suatu hari nanti.

Suatu hari, Mae mencoba mencari pasangan hidup lewat internet dan ia bertemu dengan seorang perempuan di sebuah situs jodoh. Perempuan itu mengenalkan Mae dengan sahabatnya, seorang pria.

Tiga bulan Mae menjalin hubungan lewat dunia maya dengan lelaki yang dikenalkan perempuan tadi, keduanya lalu memutuskan untuk menikah. Masalahnya, pria tadi seorang Muslim dan Mae seorang Kristiani.

Mae sempat bingung ke si pria menanyakannya apakah ia mau menikah di masjid. Seumur hidup Mae tidak pernah datang ke masjid. Mae lalu bertanya pada temannya yang asal Turki dan diberitahu tentang Masjid Abu Bakar. Mae pun datang ke masjid itu untuk bertemu dengan imamnya, meski saat itu Mae sendiri tidak paham apa itu imam masjid.

Saat Mae datang ke masjid, bertepatan dengan waktu salat dan ia bertemu dengan Imam Taha. Mae sempat bicara dengan Imam Taha tentang Islam. Imam Taha menyuruh Mae datang lagi ke masjid jika masih ingin tahu banyak tentang Islam. Di luar itu, Mae juga mengunjungi sahabatnya yang asal Turki dan menanyakan beberapa hal tentang Islam dan Muslim. Waktu itu, Mae masih berpikir bahwa Muslim adalah agama. Tapi sahabatnya meluruskan, bahwa Muslim bukan agama, tapi Islam-lah yang agama sedangkan pemeluk Islam disebut Muslim.

Ketika Mae bertanya tentang Allah, sahabatnya menjawab bahwa "Allah adalah Tuhan" yang membuat Mae terkejut. Mae mengaku baru tahu bahwa orang Islam juga percaya tuhan.

"Sahabat saya itu juga menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang damai, begitu pula umat Islam, tidak seperti yang diberitakan media, ujar Mae.

Mae kemudian direkomendasikan untuk bertemu dengan Syaikh Saad jika ingin banyak menanyakan tentang agama Islam dan pernikahahan dalam Islam. Baru beberapa minggu kemudian, Mae bisa bertemu Syaikh Saad karena Mae sempat mengalami kecelakaan mobil dan tidak ada yang bisa mengantarnya untuk menemui Syaikh Saad.

Akhirnya, sahabat Mae bernama Juli mengantarnya ke Masjid Al-Ribat tempat Syaik Saad berada. Mae berbincang tentang berbagai hal tentang Islam dengan Syaikh Saad selama kurang lebih tiga jam, termasuk situasi Muslim pasca serangan 11 September 2001. Di akhir pertemuan, Syaikh Saad memberi Mae sebuah Al-Quran dengan terjemahan bahasa Inggris serta buku-buku tentang Islam.

Ketika pulang, Mae sempat berpikir bahwa Syaikh Saad tidak sopan karena tidak mau berjabat tangan dengannya. Namun Syaikh menjelaskan mengapa Muslim antara laki-laki dan perempuan tidak berjabatan tangan dan Mae menerima penjelasan Syaikh yang menurutnya masuk akal.

Menjadi Muslim Amerika

Berminggu-minggu Mae membaca buku-buku dan terjemahan Al-Quran yang diberikan Syaikh Saad. Mae sempat menangis saat membaca buku The Religion of Truth. Setelah membaca buku itu, Mae menulis di halaman 20 buku itu "Saya percaya". Ketika itu tanggal 8 Juni 2007, Mae membulatkan tekad untuk menjadi seorang Muslim.

Tanggal 23 Juni malam, ia datang ke masjid dan menanyakan dimana ia bisa mengucapkan dua kalimat syahadat. Malam itu juga, Mae bersyahadat disaksikan sejumlah muslimah yang hadir di masjid itu.

Mae beruntung karena seluruh keluarganya menerimanya menjadi seorang Muslim, kecuali sepupu-sepupunya yang begitu kuat menganut agama Mormon. Mereka sama sekali tidak senang mendengar kabar Mae masuk Islam dan menuding Mae menolak Yesus sebagai juru selamatnya.

Mae dan sepupu-sepupunya itu sempat tidak berkomunikasi beberapa waktu, sampai suatu hari salah seorang sepupu perempuannya mengucapkan selamat hari paskah padanya lewat email. Mae membalas email itu dengan mengirim tiga fotonya yang sudah mengenakan jilbab dan menyertakan informasi tentang Islam. Mae meminta sepupunya itu untuk mengerti bahwa ia sekarang sudah menjadi seorang Muslim.

Selain sepupunya, sahabat Mae bernama Christine juga menjauhi Mae setelah tahu Mae memeluk Islam. Mae pernah mengundang Christine untuk makan malam merayakan ulang tahun Mae. Tapi sahabatnya itu bertanya; "Apakah engkau masih menjalankan apa yang dilakukan Muslim? Mae menjawab "Ya". Christine lalu berjanji akan menghubungi Mae apakah ia akan makan malam bersama Mae. Tapi Christine tidak pernah menghubungi Mae kembali.

Pernah suatu kali, salah seorang tetangga Mae mengotori mobil Mae dengan lipstick berwarna merah ketika mereka melihat Mae mengenakan abaya dan jilbab. Meski demikian, Mae menegaskan bahwa ia akan teguh memeluk Islam, agama yang kini ia yakini setelah melakukan pencarian panjang selama 29 tahun. (ln/iol/eramuslim)

Kamis, 23 Juli 2009

Dari AS ke Mesir, Wanita Katolik Menemukan Islam


By Republika Newsroom
Rabu, 22 Juli 2009 pukul 17:32:00


Mengapa saya memilih Islam? Saya ingat dengan jelas hari dimana saya resmi menjadi wanita mualaf di masjid Al-Azhar Kairo. Saya datang langsung dari AS, Namun apa yang telah membimbing saya menuju hari itu adalah semacam tuntunan bawah sadar yang terus mencari kebenaran Allah.

Saat kecil, saya selalu percaya kepada agama dan Allah, tetapi tidak pernah cocok dengan konsep yang disajikan dalam Katolik. Saya tidak bisa menerima bagaimana Tuhan ada tiga (dengan konsep Trinitas), bagaimana kita bisa berdoa kepada banyak orang seperti Yesus, Maria dan bermacam-macam orang suci. Bagaimana kita bisa menerima konsep dosa asal, bagaimana imam dapat "menghapus" dosa-dosa Anda, atau mengapa ada ratusan bibel yang berbeda.

Ini hanya sekelumit pertanyaan yang mestinya ada dalam benak setiap orang, termasuk imam. Sangat mengherankan bahwa saya pergi ke gereja belajar agama, namun keluar dan pulang tanpa mengetahui apa yang harus saya lakukan untuk menjadi seorang Kristen yang baik. Saya mengetahui saya seharusnya menjadi orang "baik", "dermawan", "simpati", "penuh kasih-sayang", dan sifat-sifat mulia lainnya, tetapi tidak pernah ada ajaran praktis yang adapat diaplikasikan dengan baik.

Karena kebingungan itulah, saya kemudian mencari cara untuk terhubung dengan satu Tuhan yang saya kenal dan saya selalu berdoa kepada-Nya. Saya mencari aturan pasti dari Tuhan yang mengajarkan saya secara detil dalam menjalani hidup. Tetapi kehidupan berjalan, dan karena tekanan dari keluarga meskipun saya keberatan, saya dibaptis dalam gereja Katolik. Sampai ketika saya di bangku kuliah, bagi saya agama ini tidak lebih daripada gangguan pada Minggu pagi. Walaupun saya tetap percaya Tuhan.

Namun akhirnya, ajaran Kristen dan Katolik sudah tidak bisa saya terima lagi, begitu pun ajaran Yahudi karena ajaran ini menolak Yesus. Meskipun saya memiliki masalah dengan ajaran Kristen, namun saya selalu yakin Yesus mempunyai pesan besar kepada manusia--pesan menyembah kepada satu Tuhan. Saya tidak dapat memahami bagaimana Kristen akhirnya menyembah Yesus sendiri. Saya merasa yakin bahwa dia tidak pernah menginginkan itu. Bagi saya tersisa satu pilihan--Islam.

Sebelumnya saya sudah tahu Islam--perkenalan saya dengan Islam terjadi saat saya melakukan perjalanan ke Mesir, karena itu saya cukup membuka diri untuk keyakinan ini. Islam tidaklah asing bagi saya, walaupun pada saat saya tidak mengenal orang Islam kecuali satu atau dua orang temen di Mesir.

Saya mulai membaca Alquran dan mencari informasi tentang Islam melalui internet. Saya ingat apa yang saya rasakan saat pertama kali membaca Alquran insting saya mengatakan itu bukan buatan tangan manusia; Alquran di luar kemampuan manusia. Hal ini bebeda sekali dengan yang saya rasakan saat membaca Alkitab, saya merasa hanya kumpulan cerita yang ditulis oleh seorang laki-laki. Belum lagi fakta bahwa Alquran hanya ada satu versi yang tidak berubah sejak diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Namun, itu bukanlah satu-satunya yang membuat saya kagum.

Saya merasa nyaman dengan semua yang saya pelajari tentang Islam. Hal inilah yang mendorong saya untuk lebih mendalami Islam. Yang terpenting, saya telah menemukan jawaban atas dua masalah utama agama di masa lalu (hanya mau menyembah satu Tuhan dan aturan jelas). Islam merupakan agama tauhid yang mana umat Islam hanya menyembah Allah dan tidak menyekutukannya. Umat Islam juga wajib mengikuti Alquran dan Sunnah juga yang memberikan aturan dan cara hidup yang lengkap. Akhirnya, saya tahu persis apa yang saya harus lakukan untuk menjadi seorang Kristen yang baik, yakni saya harus menjadi seorang Muslimah.

Selama dua tahun terakhir di kampus, saya memegang kepercayaan Islam, saya benar-benar tidak tahu bagaimana harus bersikap dengan teman-teman di lingkungan sekolah Katolik. Dalam hati, saya sadar bahwa saya seorang Muslimah, tapi saya tidak tahu bagaimana memberitahu keluarga dan teman-teman.

Setelah lulus perguruan tinggi, saya ditawari untuk magang di Mesir dan saya menerimanya dengan gembira. Saya menjalin persahabatan dengan teman-teman Muslim, termasuk suami saya saat ini, yang membantu saya resmi menjadi mualaf dan belajar banyak hal yang penting dalam agama. Saya beruntung memiliki semua dukungan indah tersebut.

Memang tidak mudah memberitahu orang-orang bahwa saya adalah orang Muslimah. Meskipun beberapa orang senang saya telah menemukan agama yang saya cari dan cintai, saya tidak selalu diterima dengan baik, tetapi justru karena itu saya menjadi kuat. Saya dapat mempertahankan iman saya. Rasa syukur saya panjatkan pada Allah tiap hari, karena saya menjadi Muslimah. Saya ingat, saya tumbuh dengan kebingungan tentang Tuhan dan agama. Akhirnya, saya merasa cukup puas dan bahagia setiap hari, karena sekarang saya memahami kebenaran. taq/iol

Sabtu, 18 Juli 2009

Memahami Kristen Justru Setelah Masuk Islam

Saturday, 18 July 2009 10:55

Troy tidak mudah percaya berita di media Barat tentang Islam yang selalu digambarkan secara negatif. Dampaknya ia masuk Islam

Hidayatullah.com--Nama saya Troy Bagnall. Usia 22 tahun dan sebentar lagi 23 tahun. Mahasiswa di Arizona State University (ASU), berasal dari Poenix, Arizona. Saya mempelajari film dan media di ASU.

Saya masuk Islam Februari lalu karena berbagai alasan. Saya sudah tertarik dengan Islam cukup lama, karena Islam merupakan topik hangat dalam berita-berita dan peristiwa belakangan ini. Saya tertarik dengan sejarah kuno dan sejarah dunia, serta masalah perang dan politik.

Jika saya mendengar berita mengenai sebuah konflik yang terjadi di berbagai tempat seperti Sudan, Somalia, Palestina, Iraq, Afganistan, Pakistan, Chechnya, Libanon, dan lain-lain, saya akan segera mencari tahu informasi mengenai konflik tersebut sehingga saya bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi pada konflik-konflik itu, sebab media di sini (Amerika) cenderung tidak jelas mengabarkannya secara jujur dan tanpa prasangka apa-apa.

Ketika saya mencari informasi tentang konflik terkait, saya juga tertarik untuk mempelajari sejarah dunia Muslim. Saya menghabiskan waktu dengan belajar sendiri mengenai sejarah dan kebudayaan dunia Muslim. Saya juga mengambil kelas peradaban Islam di ASU. Saat saya belajar sejarah dan kebudayaan dunia Muslim, saya tertarik dengan agamanya, Islam.

Saya dibesarkan sebagai seorang Kristen, tapi berhenti mengamalkan ajarannya sejak usia 15 tahun. Menurut saya pribadi, ajaran Kristen sangat membingungkan dan tidak masuk akal. Masalah doktrin trinitas dan penebusan dosa sangat tidak masuk akal, apalagi mengingat di dalam Bibel juga terdapat ayat-ayat yang bertentangan dengan doktrin itu.

Ketika saya mengambil kelas sejarah Islam, saya bertemu dengan saudara Mohammad Totah yang sangat paham masalah Bibel, Al-Qur'an, dan seluruh 3 agama Ibrahimi lainnya. Kami melakukan banyak diskusi tentang perbandingan agama. Di samping itu saya juga melakukan penelitian sendiri. Saya mendapat lebih banyak pelajaran bagaimana ajaran Kristen itu bertentangan dengan kitabnya sendiri.

Saya juga banyak belajar bahwa begitu banyak ajaran dalam Bibel yang sebenarnya mendukung Islam. Hal lain yang saya temukan adalah, ajaran Barnabas mengabarkan dan menyebut nama akan kedatangan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam. Dan ajaran itu dihilangkan dari dalam Bibel.

Mengenai Qur'an yang sangat mengagumkan dan tidak ada noda sedikit pun, saya mendapati Qur'an itu sangat sederhana dan sangat mudah untuk dipahami. Islam sendiri sangat sederhana dan lugas tanpa ada doktrin yang rumit. Dalam Islam tidak ada kepercayaan buta seperti yang ada dalam Kristen.

Islam mengakui adanya Nabi terakhir, yang tidak ada dalam kepercayaan Yahudi, karena Yahudi mengingkari Nabi yang akan datang, seperti Nabi Isa alaihissalam.

Semakin saya mempelajari Islam, saya memahami ketidakpastian yang dulu saya temui dalam ajaran Kristen. Sebenarnya saya lebih mengetahui banyak tentang Bibel dan ajaran Kristen sejak saya memeluk agama Islam daripada ketika saya masih beragama Kristen.

Sejak menjadi Muslim saya juga merasa lebih dekat dengan Tuhan. Bukan bermaksud meremehkan Kristen, tapi menurut saya agama itu lebih mengajarkan ajaran Paus dan para murid Yesus lainnya dari pada ajaran Yesus (Nabi Isa) itu sendiri.

Saya juga banyak menghabiskan waktu belajar mengenai sejarah-sejarah agama semenjak mereka ada dan penyebarannya ke seluruh penjuru dunia. Saya tahu Islam, yang di Barat dipandang sebagai sebuah ajaran eksotis dari timur. Tapi sesungguhnya Islam mengajarkan apa yang dibawa oleh seluruh nabi yang diutus untuk mengajarkannya, yaitu penyembahan kepada Allah semata. Sangat menyebalkan melihat bagaimana media selalu menggambarkan Islam secara negatif.

Saya memahami jika ada konflik dan kekerasan di beberapa bagian dunia Islam, tapi konflik itu sebenarnya tidak lebih dari masalah politik.

Ya, saya akui sangat berat mempraktikkan ajaran Islam di tempat saya hidup, di Amerika, sementara media di sini terus-menerus selalu menjejali dengan stereotipe negatif atas Islam. Dan agak berat bagi saya karena banyak mahasiswa Amerika yang hidup bebas dan hura-hura. Meskipun demikian hal itu tidak terlalu menjadi masalah bagi saya, karena saya tipe seorang kutu buku.

Saya mendapat banyak pertanyaan dari non-Muslim seputar masalah politik, dan kebudayaan Timur Tengah. Dan saya harus menunjukkan kepada mereka, sangat berbeda antara apa itu Islam dengan ideologi politik dan adat kebiasaan budaya.

Timur Tengah sudah jelas merupakan pusat dunia Islam, tapi sangat menggemaskan juga bagaimana media selalu mengidentikkan Muslim dengan Timur Tengah. Karena Muslim berasal dari berbagai penjuru dunia. Saya kira ada rasisme di sana, sebab Barat sepertinya tidak melihat fakta bahwa Yahudi dan Kristen berasal dari Timur Tengah juga, sebagaimana Islam.

Secara ringkasnya, saya menerima Islam hanya karena saya bersaksi bahwa itu adalah agama yang benar dari Tuhan. Islam itu sederhana, lugas, dan tidak membingungkan.

Saya juga menyukai, bagaimana Islam memiliki ikatan universal di antara para pengikutnya. Islam telah menolong saya menjadi seorang manusia yang lebih baik.

Saya merasa lapang ketika mempraktikkan ajaran Islam. Hal itu membantu saya merasakan hidup yang lebih baik dan membantu saya mengatasi tekanan dan masalah-masalah dalam kehidupan.

Saya sungguh berharap, orang-orang di Barat lebih mendapatkan pendidikan tentang dunia Islam dan memahami Islam itu sesungguhnya, daripada mendengarkan kritik negatif dan tidak sepenuhnya benar seperti yang sering digambarkan media tentang Islam.

Saya berharap, kisah saya ini bisa memberi inspirasi bagi mereka yang tertarik dengan Islam agar mau belajar lebih banyak tentangnya. [di/iol/www.hidayatullah.com]

ilustrasi syahadat imamthahir


Selasa, 31 Maret 2009

Aria Desti Kristiana : Kenapa Tuhan Harus Disalib?


By Republika Newsroom
Selasa, 31 Maret 2009 pukul 16:26:00

''Tuhan itu siapa dan seperti apa sih , Ma? Tuhan kita siapa? Apa bedanya Tuhan dengan Allah?'' Pertanyaan kritis itu meluncur begitu saja dari mulut seorang bocah berusia enam tahun, Aria Desti Kristiana. Semua pertanyaan bocah perempuan ini hanya dijawab dengan satu kalimat, ''Tuhan itu yang kita sembah,'' ujar sang bunda seraya menunjuk kepada sesosok patung laki-laki di kayu salib yang berada di altar gereja.

Tentu saja, jawaban mamanya itu membuat gadis cilik ini tak puas. Bukannya berhenti dengan jawaban itu, malah sebaliknya ia semakin berusaha mencari jawaban yang bisa mengantarkannya pada kebenaran hakikat Tuhan sebagai pencipta.

Bahkan, semakin banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya. ''Katanya Tuhan itu yang menciptakan kita. Lalu, bagaimana sebuah patung yang tidak bisa bergerak dan disalib bisa menciptakan semua yang ada di dunia ini,'' ujar Desti sapaan akrabnya yang kini berusia 18 tahun saat ditemui Republika akhir pekan lalu di Jakarta.

Pertanyaan lainnya yang kerap muncul dalam benaknya adalah ''Mengapa Tuhan yang mesti disembah harus disalib? Kenapa Tuhan harus dirupakan dalam sebuah patung? Bukankah patung itu tidak memberi manfaat?'' Pertanyaan ini tak kunjung mendapat jawaban yang memuaskan dirinya.

Meski dilahirkan dan dibesarkan di tengah lingkungan keluarga pemeluk Kristiani yang taat, untuk urusan pendidikan, kedua orang tua Desti tak pernah mengarahkan gadis kelahiran Jakarta, 9 Desember 1991 ini ke sekolah khusus pemeluk Kristen. Oleh kedua orang tuanya, Desti justru disekolahkan di taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD) umum.

Ketika bersekolah inilah untuk pertama kalinya Desti bersentuhan dengan agama Islam. ''Karena aku bersekolah di sekolah umum, jadi pendidikan agama yang diperoleh justru pelajaran agama Islam. Itu aku dapatkan pada saat di TK dan SD,'' paparnya.

Saat duduk di bangku TK, kata dia, oleh gurunya ia sudah dibiasakan untuk mengucapkan kata Bismillah sebelum makan. Begitu juga, dalam menyebut nama Tuhan dengan sebutan Allah SWT. Dari sini, mulai muncul kebingungan dalam dirinya mengenai konsep ajaran agama dan ketuhanan yang ia anut selama ini. ''Saat itu, aku bingung kenapa beda sekali antara ajaran agama saya (dulu) dengan yang diajarkan oleh guru di TK,'' ungkapnya.

Menurut Desti, kedua orang tuanya menganut agama Kristen, namun berasal dari beberapa aliran. Ada yang Pantekosta, Kharismatik (ibu), Katholik (nenek), dan Protestan (bapak). Perbedaan ini semakin membuatnya bingung. Apalagi, ketika ia mendapatkan pendidikan agama Islam di TK dan SD, yang hanya fokus menyebut Tuhan dengan sebutan Allah SWT.

Karena itu, ia makin tertarik dengan ajaran agama yang diajarkan oleh guru di sekolahnya. Ketika duduk di bangku SD, ia mulai mempelajari lebih jauh mengenai ajaran Islam. Tidak hanya di sekolah, keinginan untuk mempelajari ajaran Islam juga ia lakukan dengan cara mengikuti pengajian di daerah tempat tinggalnya.


Berikrar syahadat

Suatu ketika, salah seorang guru mengajinya bertanya kepada Desti, apa benar ia ingin ikut mengaji. Pertanyaan tersebut dijawabnya dengan satu kata, ''Ya.'' Kemudian, oleh sang guru, Desti dan teman-temannya diminta untuk melafalkan dua kalimat syahadat. Peristiwa tersebut terjadi saat ia baru menginjak bangku kelas satu SD. Dan, sejak saat itulah anak pertama dari dua bersaudara ini berkomitmen untuk meninggalkan semua ajaran agama lamanya, Kristen Pantekosta, untuk kemudian menjalankan ajaran Islam.

''Memang prosesnya tidak seperti orang Kristen lainnya yang masuk Islam. Karena, bisa dibilang baca kalimat syahadatnya tidak secara resmi,'' ungkapnya. Dari situ, kemudian ia mulai belajar mengenai cara shalat dengan mengikuti gerakan teman-temannya. Tidak hanya shalat, ia juga mulai belajar untuk berpuasa ketika sudah duduk di bangku kelas 3 SD.

Kendati sudah memeluk Islam, setiap akhir pekan, Desti tetap datang ke gereja dan mengikuti kegiatan sekolah minggu. Hal tersebut, kata dia, karena adanya paksaan dari kedua orang tuanya. Tidak hanya memaksa dia untuk ikut kebaktian di gereja, tetapi kedua orang tuanya juga kerap memarahi serta melarang dirinya untuk melaksanakan shalat dan pergi mengaji ke masjid. Sikap kedua orang tuanya ini hanya bisa ia tanggapi dengan cara menangis.

''Tetapi, untuk urusan puasa, alhamdulillah mereka mau ngebangunin aku untuk sahur. Dan, kebetulan nenekku yang beragama Kristen Katolik kadang menjalankan puasa setiap Senin dan Kamis,'' tambah Desti.Baru ketika ia naik ke jenjang kelas 5 SD, kedua orang tuanya mulai bisa menerima keislamannya. Kedua orang tuanya tidak pernah lagi memaksanya untuk pergi ke gereja setiap akhir pekan serta tidak lagi melarang dirinya untuk melaksanakan shalat dan mengaji.

Meski demikian, pertentangan masih kerap mewarnai hubungan Desti dengan kedua orang tuanya. Pertentangan tersebut, menurutnya, muncul manakala dirinya melakukan suatu kesalahan.''Misalnya, kalau saya berbuat kesalahan, mereka selalu menyinggung-nyinggung soal agama Islam. Karena saya tipe orang yang tidak mau menerima begitu saja dan watak yang keras, saya katakan ke mereka apa bedanya pada saat saya ketika masih memeluk agama yang lama,'' sindirnya.

Tak hanya dari orang tuanya, menurut Desti, pertentangan serupa juga kerap ia dapatkan dari pihak keluarganya yang lain, seperti nenek, paman, bibi, dan saudara sepupunya. Kendati demikian, ia tetap menjaga hubungan kekeluargaan dengan sanak saudaranya ini. ''Pada saat Natal, aku tetap ikut ngumpul . Tapi, tidak ikut mengucapkan.''

Namun, ia bersyukur karena masih memiliki seorang adik perempuan, Friday Veronica Florencia, yang bersama-sama dengannya memutuskan untuk memeluk agama Islam di usia kanak-kanak. Di samping juga, teman-teman sepermainannya yang kebanyakan beragama Islam.


Beasiswa gereja

Keinginan orang tuanya untuk mengembalikannya ke agama yang lama, masih terus dilakukan hingga Desti memasuki jenjang SMA. Pada saat ia memutuskan untuk mengenakan jilbab ketika duduk di bangku kelas satu SMA, sang bunda meresponsnya dengan mengatakan bahwa jilbab itu tidak penting dan diwajibkan.

Begitu juga, ketika selepas lulus SMA, ia memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Saat mau melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, ia ditawari beasiswa dari gereja oleh kedua orang tuanya. Tawaran beasiswa tersebut kemudian ia tolak. ''Beasiswanya ini bukan hanya untuk jenjang S1, tetapi sampai ke jenjang apa pun yang saya mau. Namun, dengan syarat saya harus mau mengabdi di gereja itu,'' ungkapnya.

Untuk memperkokoh keimanan dan memperdalam pengetahuannya tentang Islam, Desti aktif dalam kegiatan Rohis (Rohani Islam--Red) yang ada di lingkungan tempat ia bersekolah. ''Alhamdulillah semua rintangan tersebut bisa dilalui dengan baik,'' ujar mahasiswi semester dua Jurusan Bahasa dan Sastra Arab ini.

Kini, di usianya yang ke-18, Desti merasa menjadi orang yang paling beruntung. Walaupun dijuluki sebagai anak 'hilang' oleh keluarga, Desti merasakan kebahagiaan yang tiada tara karena Allah SWT sudah memberikan hidayah kepadanya hingga hari ini untuk menjalankan semua itu.

Meski mengakui kadang kala masih suka lalai dalam melaksanakan kewajiban shalat lima waktu, ia berharap ke depannya bisa menjalankan semua perintah Allah SWT dengan sebaik-baiknya. Ia juga berharap kelak hidayah yang ia dan sang adik peroleh juga akan didapatkan oleh kedua orang tuanya.''Saya ingin sekali mereka bisa melihat mana jalan yang benar dan mana yang salah. Karena menurut saya, saat ini mereka bukan berada di jalan yang benar,'' ujarnya. dia


Biodata

Nama : Aria Desti Kristiana
TTL : Jakarta, 9 Desember 1991
Masuk Islam : Sejak Kelas 1 SD (Tahun 1997)
Aktivitas :
- Kuliah pada Jurusan Bahasa & Sastra Arab di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) semester II
- Aktif dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Jurusan