************************************************************************************************************************
Saudaraku, kalau artikel dalam blog ini bermanfaat informasikanlah kepada muslim yang lain
(Setiap kata yang mencerahkan orang lain, Insya Allah, anda akan mendapat ganjaran pahala)
============================================================================

Minggu, 06 Desember 2009

Aku Tinggalkan Anak-anakku Demi Islam

Saturday, 25 July 2009 12:43
Meski pedih, ia hancurkan rasa cinta kepada dua putranya tersayang, karena Kavita lebih memilih cintanya kepada Islam

Hidayatullah.com--Namaku dulu adalah Kavita, dan nama panggilanku Poonam. Setelah memeluk Islam, aku bernama Nur Fatima. Usiaku 30-an tahun. Tapi aku merasa baru berumur lima tahun, karena pengetahuanku tentang Islam tidak melebihi pengetahuan anak usia 5 tahun.

Aku dulu bersekolah di Mumbai, di sebuah sekolah yang cukup besar khusus untuk anak-anak dari keluarga bangsawan. Kemudian aku melanjutkan pendidikan ke Universitas Cambridge. Setelah menyelesaikan program master, aku mengambil banyak kursus komputer.

Aku menyesal, banyak gelar duniawi yang sudah diraih, tapi aku belum melakukan apapun untuk kehidupan akhirat. Sekarang aku ingin melakukan sesuatu untuk akhiratku.

Lingkungan tempat aku dibesarkan, adalah lingkungan Hindu ekstrimis yang sangat membenci Islam. Keluargaku bagian dari dari organisasi Hindu garis keras, Shiv Sena.

Aku menikah di Mumbai, dan memiliki dua orang putra. Bersama suami dan anak-anak, kami kemudian pindah ke Bahrain.

Aku memeluk Islam setelah menikah, tapi aku sudah tidak meyukai menyembah dewa-dewa pujaanku sejak aku beranjak dewasa. Aku ingat, suatu hari aku membuang sesembahanku ke kamar mandi. Ketika ibu menegur aku, kukatakan padanya bahwa benda-benda itu tidak bisa melindungi diri mereka sendiri. Jadi mengapa kita meminta berkah dari mereka, menyembah mereka. Apa yang bisa mereka berikan kepada kita?

Ada sebuah ritual di keluarga kami, jika seorang gadis sudah menikah, maka ia membasuh kaki suaminya, lalu meminum air basuhannya. Tapi aku menolak melakukan hal itu sejak hari pertama menikah. Karena itu aku dimarahi habis-habisan.

Ketika masih sendiri aku pernah mengikuti sekolah pendidikan guru, dan aku suka mengendarai mobil sendirian. Aku kadang mengunjungi sebuah Islamic Center terdekat. Di sana, aku mendengarkan pembicaraan orang, dan akhirnya mengetahui bahwa orang Islam tidak menyembah dewa.

Mereka tidak mencari karunia dari seseorang yang lain. Mereka tidak punya Baghawan. Aku suka cara pandang mereka. Pada akhirnya aku mengetahui, yang mereka sembah ternyata adalah Allah, Yang Mengurus segala sesuatu.

Aku terkesan sekali dengan shalat. Awalnya aku tidak tahu itu adalah cara orang Islam berdoa. Yang aku tahu orang Islam sering melakukannya. Dulu kusangka itu semacam olahraga. Aku baru mengetahui gerakan itu dinamakan shalat ketika mulai mengunjungi Islamic Center.

Aku sering bermimpi setiap kali tidur. Aku melihat ada sebuah ruangan persegi empat. Mimpi itu selalu mengganggu tidurku dan membuat aku terbangun dalam keadaan berkeringat. Ruangan yang sama selalu muncul dalam mimpi ketika aku tidur kembali.

Setelah menikah aku pindah ke Bahrain, tempat yang membantu aku memahami Islam dengan lebih baik. Karena itu adalah sebuah negara Muslim, maka aku dikelilingi oleh tetangga Muslim. Aku berteman dengan seorang Muslimah. Ia jarang mengunjungiku, tapi aku sering mengunjunginya.

Suatu hari ia melarang aku mengunjungi rumahnya, karena waktu itu bulan Ramadhan, bulan untuk beribadah. "Ibadahku terganggu karena kamu berkunjung ke rumah," begitu katanya.

Aku sangat ingin tahu tentang ibadah ritual yang dilakukan orang Islam. Oleh karena itu aku memintanya untuk tidak melarangku berkunjung ke rumahnya. Aku berkata, "Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan. Aku hanya akan melihat apa yang kamu lakukan. Aku tidak akan berkata apapun, dan hanya akan mendengar apa yang kamu baca." Maka ia pun tidak melarangku berkunjung ke rumahnya.

Ketika aku melihatnya sedang beribadah, aku tertarik untuk menirukannya. Kemudian aku bertanya padanya tentang "gerak badan" itu. Ia memberitahu, itu namanya shalat. Dan buku yang selalu ia baca, adalah kitab suci Al-Quran.

Aku berharap bisa melakukan semua yang ia lakukan. Aku pulang ke rumah dan mengunci diri dalam kamar. Aku meniru semua apa yang dilakukan temanku secara diam-diam, meskipun aku tidak tahu banyak mengenai hal itu.

Suatu hari aku lupa mengunci kamar dan melakukan shalat, ketika itu suamiku masuk. Ia bertanya, apa yang aku lakukan. Aku bilang, "Aku melakukan shalat." Ia pun berkata, "Apakah kamu masih waras? Kamu tahu apa yang kamu katakan?"

Awalnya aku ragu. Mataku terpejam dan ketakutan. Tapi tiba-tiba, aku merasa ada sebuah kekuatan besar dalam diriku, yang membuat aku berani untuk menghadapi situasi saat itu. Aku berkata bahwa aku sudah memeluk agama Islam, dan karena itu aku melakukan shalat.

Suamiku berseru, "Apa?! Apa kamu bilang? Coba kamu katakan sekali lagi?" Aku mengulangi ucapanku, sambil memberi tekanan, "Ya! Aku masuk Islam." Mendengar hal itu ia langsung memukuli aku.

Kakakku mendengar suara ribut-ribut dan mendatangi kami. Ia berusaha menyelamatkan aku. Tapi, ketika suamiku menceritakan semuanya, ia pun maju dan ikut memukuli aku.

Aku berusaha menghentikannya dengan berkata, "Kamu tidak perlu ikut campur. Aku tahu apa yang baik dan apa yang buruk buatku. Aku telah memilih jalanku."

Mendengar perkataanku itu, suamiku semakin naik pitam. Ia menyiksaku sedemikian rupa hingga aku tidak sadarkan diri.

Ketika itu semua terjadi, kedua putraku berada di rumah. Saat itu putra pertamaku berusia 9 tahun dan adiknya 8 tahun.

Tapi setelah peristiwa itu, aku tidak diperbolehkan bertemu siapapun. Aku dikurung dalam sebuah ruangan. Meskipun sebenarnya belum benar-benar memeluk Islam, tapi aku selalu mengatakan bahwa aku telah masuk Islam.

Suatu malam, ketika aku masih dikurung, putra sulungku datang dan menangis dalam pelukanku. Aku bertanya, kemana anggota keluarga yang lain. Ia bilang mereka semua pergi mengunjungi sebuah acara. Tak ada seorang pun di rumah. (Malam itu ada sebuah festival keagamaan).

Putraku minta agar aku kabur dari rumah, karena keluargaku akan membunuhku. Aku katakan padanya, bahwa hal seperti itu tidak akan terjadi. Mereka tidak akan menyakiti aku. Dan kukatakan pada putraku, agar ia menjaga dirinya sendiri dan juga adiknya.

Tapi ia terus memaksa dan memohon agar aku meninggalkan rumah. Aku berusaha membuatnya mengerti, jika aku pergi maka aku tidak bisa bertemu dirinya dan adiknya. Namun ia menjawab, aku akan bisa menemui mereka jika aku masih hidup. "Pergilah mama, mereka akan membunuhmu," katanya.

Akhirnya aku memutuskan untuk pergi. Aku tak bisa melupakan peristiwa itu, ketika putra pertamaku membangunkan adiknya dan berkata, "Bangunlah. Mama akan pergi meninggalkan rumah. Temuilah ia sekarang, karena kita tidak tahu apakah kita akan berjumpa lagi dengannya atau tidak."

Itu pertama kali si bungsu melihatku setelah kami tak jumpa sekian lama. Ia mengusap-usap matanya ketika melihatku. Ketika aku mendekatinya, ia pun memelukku dan menangis tersedu-sedu. Anak-anak mungkin sudah mengetahui semuanya. Ia hanya berkata, "Mama akan pergi?" Aku hanya mengangguk, dan meyakinkannya jika kami akan bertemu lagi.

Aku merasa meremukkan cinta seorang ibu dengan kakiku. Di satu tangan aku menggenggam cinta anak-anakku, dan di tangan lain aku menggenggam cintaku pada Islam yang akan menggantikannya. Aku merintih dan memeluk erat anak-anakku. Aku berusaha menghancurkan cintaku pada mereka.

Luka-lukaku masih segar, aku tidak bisa berjalan. Namun aku berusaha untuk melakukannya.

Kedua putraku menyaksikan kepergianku malam itu, di malam yang gelap dan dingin. Mereka melambaikan tangan sambil menangis di pintu gerbang.

Aku tidak bisa melupakan saat-saat itu. Setiap kali aku mengingatnya, aku teringat orang-orang yang telah meninggalkan rumah dan keluarga mereka demi untuk Islam.

Setelah meninggalkan rumah, aku langsung menuju ke kantor polisi. Masalahku saat itu, mereka tidak mengerti bahasaku. Untungnya, seorang di antara mereka bisa berbahasa Inggris.

Saat itu aku sulit bernapas dan tidak bisa bicara karena gemetaran. Aku memintanya agar mengizinkanku beristirahat sampai aku bisa memulihkan keadaanku.

Tak lama kemudian aku pun pulih. Aku katakan padanya kalau aku meninggalkan rumah dan ingin memeluk Islam. Aku ragu-ragu untuk menceritakan semua kejadian yang sebenarnya. Namun polisi itu berusaha menenangkanku dan berkata bahwa ia seorang Muslim, ia akan membantuku semaksimal mungkin. Kemudian aku diajak pulang ke rumahnya dan diberi tempat menginap di sana.

Pagi harinya, suamiku mendatangi kantor polisi meminta bantuan. Ia mengatakan bahwa istrinya telah diculik. Tapi kemudian dikatakan kepadanya bahwa istrinya tidak diculik. Istrinya datang sendiri ke kantor polisi. Karena ia ingin memeluk Islam, maka suaminya tidak lagi memiliki hubungan dengannya karena berbeda agama. Jadi istrinya tidak boleh pergi dengannya.

Suamiku memaksa, dan mulai mengancam. Tapi aku sendiri menolak untuk pergi bersamanya. Aku mengatakan bahwa ia boleh mengambil semua perhiasanku, tabungan, dan rumah milikku. Tapi aku tidak akan pergi dengannya.

Awalnya ia tidak menyerah. Namun, karena melihat kegigihanku menolaknya, ia pun minta dibuatkan pernyataan tertulis bahwa ia mendapatkan semua harta bendaku.

Polisi yang menolongku berkata bahwa sekarang keluargaku tidak bisa menyakitiku lagi, dan aku bisa memeluk Islam. Aku berterima kasih padanya, lalu pergi ke rumah sakit, karena seluruh badanku penuh dengan luka.

Aku tinggal beberapa hari di rumah sakit. Suatu hari seorang dokter bertanya, "Dari mana asalmu? Tidak ada seorang anggota keluarga pun yang datang menjengukmu ke rumah sakit." Aku diam, tidak menjawab. Sebab aku meninggalkan rumah karena mencari satu hal. Dan sekarang aku tidak memiliki rumah atau keluarga. Yang aku miliki hanya Islam.

Polisi Muslim yang menolongku, ia memanggilku sebagai seorang saudara perempuan. Dan ketika aku berada di rumahnya, ia memperlakukanku seperti saudara kandungnya. Ia telah memberiku tempat berteduh di malam yang dingin, ketika aku kehilangan seluruh keluargaku. Aku tidak akan pernah melupakan jasanya.

Dan ketika aku berada di rumah sakit, aku bingung. Apa selanjutnya yang harus aku lakukan? Kemana aku harus mencari tempat berlindung yang aman.

Setelah keluar dari rumah sakit, aku langsung pergi ke Islamic Center. Saat itu tidak ada seorang pun, hanya ada seorang bapak tua yang sepertinya tinggal di sana. Aku menemuinya, dan kukatakan maksud kedatanganku. Sejenak ia merasa ragu, lalu berkata, "Nak, sari ini bukanlah pakaian seorang Muslimah. Pergi dan pakailah kerudung, tutupilah dirimu sebagaimana orang Muslim."

Aku mempunyai sisa uang yang kubawa ketika meninggalkan kantor polisi. Kubeli seperangkat pakaian dengan uang itu, lalu kembali ke Islamic Center.

Pak tua itu mengajariku cara berwudhu. Setelah aku berwudhu, ia membawaku ke sebuah ruangan. Ketika memasuki ruangan itu, aku melihat sebuah gambar tergantung di dinding. Aku terdiam, karena aku melihat ruangan seperti yang ada dalam mimpiku. Seketika aku berseru, "Ini yang sering aku lihat dalam mimpiku. Yang selalu mengganggu tidurku."

Pak tua tersenyum, ia berkata bahwa itu adalah rumah Allah. Muslim dari seluruh penjuru dunia datang ke rumah itu untuk melakukan haji dan umrah. Namanya Baitullah. Aku terkejut mengetahuinya. Aku pun bertanya, "Apakah Allah tinggal di sebuah rumah?" Ia menjawab, pertanyaan-pertanyaanku dengan senyum dan penuh perhatian. Sepertinya ia tahu banyak tentang Islam.

Aku tidak mengalami kesulitan berbicara dengannya. Ia menjelaskan setiap hal dalam bahasa ibuku. Aku merasakan kebahagiaan yang aneh saat itu.

Ia membimbingku mengucapkan syahadat. Kemudian menjelaskan tentang Muslim dan Islam. Setelah itu aku merasa tidak takut dan juga tidak ada beban dalam pikiranku. Aku merasa diriku sangat cerah. Rasanya seperti berenang di tempat kotor, lalu pindah ke dalam air yang jernih.

Pengelola Islamic Center itu mengangkatku sebagai anak, dan membawaku pulang ke rumahnya. Beberapa waktu kemudian ia pun menikahkah aku dengan seorang Muslim. Keinginan pertamaku saat itu adalah melihat rumah Allah. Lalu aku pun pergi melakukan umrah.

Setelah aku memeluk Islam, aku tidak pernah kembali ke India, dan aku pun tidak ingin pergi ke sana. Keluargaku mempunyai hubungan dengan organisasi-organisasi politik dan Hindu di sana. Mereka bahkan telah menawarkan sejumlah uang untuk kepalaku.

Dulu aku diberitahu bahwa mujahidin adalah orang-orang yang suka menindas. Dan mereka sering melakukan penindasan melewati batas. Kami dibuat agar membenci mujahidin. Tapi sekarang aku telah mendapatkan kebenaran, dan aku mencintai mereka. Kuucapkan doa untuk mujahidin dalam setiap shalatku.

Aku juga berdoa kepada Allah, jika Ia mengaruniaiku dengan anak-anak laki-laki, aku akan sangat bahagia jika melihat mereka ada dalam barisan para mujahid. Aku akan mempersembahkan mereka untuk kejayaan Islam. Insya Allah.[di/iw/www.hidayatullah.com]



Amal Saleh


Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. (QS. 98:7).

Amal saleh adalah segala aktivitas yang dilakukan dengan dilandasi niat baik yang bermanfaat bagi dirinya maupun bagi orang lain dan dirhidoi oleh Allah Swt. Amal saleh adalah suatu proses untuk mencapai sesuatu, dengan menggunakan segala potensi yang dimiliki, pikiran, tenaga, harta, dan doa. Amal saleh adalah kerja. Amal saleh adalah jihad.

Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [QS. 16:97]

Iman dan amal saleh selalu bergandengan. Apabila iman meningkat, maka amal salehnya pun meningkat. Sebaliknya kalau amal saleh menurun, hal itu menunjukkan bahwa kadar keimanannya mengalami penurunan. Pada dua ayat diatas memberikan gambaran betapa mulia dan beruntungnya orang-orang yang selalu meningkatkan iman dan amal salehnya.

Mari kita menengok kebelakang, sejak kapan terakhir kita mengalami perubahan dan peningkatan dalam amal saleh. Sehari yang lewat, seminggu yang lalu, sebulan, setahun. Makin jauh kebelakang peningkatan yang pernah kita lakukan, berarti makin mandeg keimanan kita. Sebenarnya tidak ada alasan yang dapat digunakan untuk tidak dapat meningkatkan amal saleh. Kalau anda sehat dan kaya, dapat menggunakan tenaga dan kekayaan, orang miskin, dengan bekerja membantu orang lain, berdoa dan berzikir. Hambatan fisik, dengan nasihat, zikir dan doa. Kurang pengetahuan, mencari ilmu, tenaga, dan doa. Apapun kondisi kita selalu ada ruang untuk meningkatkan amal saleh.

Nabi SAW bersabda : "Bersegeralah kalian mengerjakan amal-amal (saleh) sebelum datang tujuh perkara, (yaitu) tiadalah yang kalian tunggu melainkan hanya kemiskinan yang kalian lupakan; kaya yang membuat kalian melampaui batas; penyakit yang merusak diri kalian; pikun yang membuat kalian seperti anak kecil; maut yang mendadak; datangnya Dajjal, dia adalah sejahat-jahat orang yang sedang kalian tunggu; atau datangnya kiamat, dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit." ( HR. Turmudzi dan Hakim)

Saudaraku, ladang untuk beramal saleh sangat banyak, tetapi tetap saja tidak akan mengalami peningkatan kalau tidak direncanakan peningkatannya secara bertahap melalui latihan (mujahadah) yang terus-menerus. Sedekah, tingkatkan setiap bulannya, meski kecil. Kuantitas zikir tingkatkan setiap minggu, Shalat sunnah tambah setiap bulan, puasa sunnah tingkatkan setiap tahun, demikian pula dengan amal-amal yang lain, frekuensi peningkatannya atur sendiri sesuai kemampuan, tetapi harus ada peningkatan. Anda pasti bisa, karena anda pasti mati dan setelah itu baru merasakan betapa beruntungnya usaha-usaha yang dilakukan dalam meningkatkan amal saleh tsb. Sebagaimana janji Allah. Dan janji siapa lagi yang paling memotivasi kita selain janji Allah.

“Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. 5 : 9)


Menikmati Dakwah Lewat Radio di Filipina

Friday, 04 December 2009 17:32

Radio tidak hanya bisa dimanfaatkan untuk menyiarkan musik dan acara hiburan. Di Filipina, banyak orang tertarik masuk Islam dari program acara radio


Hidayatullah.com--Islam bukan monopoli orang Arab dan para ulama. Dari mana pun asal dan latar belakang seorang Muslim, ia dapat menyebarkan Islam dengan cara yang mampu dilakukannya. Seperti pengalaman Duston "Hajji Saifullah" Barto, seorang warga Amerika Serikat yang bekerja sebagai penyiar radio di Filipina. Dengan kepiawaiannya memproduksi acara radio, ia berhasil menyampaikan pesan-pesan Islam, sehingga banyak orang tertarik untuk memeluk Islam.

***

Hanya beberapa pekan setelah empat orang Filipina mengucapkan dua kalimat shahadat, saya (Barto) dan istri saya Aisyah, diundang untuk menyaksikan orang lain yang juga ingin masuk Islam. Dengan gembira mereka menyambut tiga orang Muslim baru, salah satunya bernama Paula.

Paula, seorang wanita Katolik berusia 20 tahun, tertarik untuk masuk Islam setelah mendengarkan acara-acara radio yang diproduksi Barton. Paula datang bersama dengan Deena, seorang wanita yang dikenalnya dalam sebuah acara debat antara Muslim dan pengikut Kristen Advent Hari Ketujuh. Deena adalah pendengar setia "Wanita dalam Islam", sebuah program radio yang dikelola Barton. Ketika Paula memutuskan untuk pindah agama, ia ingin ada pengelola acara tersebut yang menjadi saksi baginya.

Beberapa hari setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, Paula memilih "Jannah" sebagai nama barunya, yang dikiranya berarti "taman". Dengan senang hati Barton memberitahukan, bahwa Jannah bukan sekedar taman biasa, tapi itu artinya adalah "taman surga".
Keponakan laki-laki Deena yang berusia sepuluh tahun juga ikut mengucapkan syahadat. Saat usianya sembilan tahun, bocah itu telah memutuskan untuk mendalami Islam, meskipun tidak ada seorang pun di keluarga terdekatnya yang Muslim. Ia kemudian belajar bagaimana membaca huruf-huruf Arab dan berhasil menghapal 19 surat dalam Al-Quran.

Di keluarga, ia mendapat siksaan dari saudara-saudara kandungnya, namun bocah itu tetap mempertahankan keyakinannya.

Satu hari, ibunya menyiapkan makan malam, ia berkata pada ibunya, "Ibu, saya tidak bisa makan daging itu, karena tidak halal. Saya hanya akan makan nasi dan garam saja."

Mendengar hal tersebut kontan ibunya marah dan memukuli pantat bocah itu.

Perlakuan kasar sang ibu, tidak menggoyahkan imannya. Ia malah khawatir syahadatnya tidak diterima, karena hanya disaksikan oleh bibinya, Deena. Oleh sebab itu, ia meminta Barton dan istri menjadi saksi bahwa ia masuk Islam.

Dalam waktu satu minggu setelah pertama kali videonya ditampilkan di Youtube, lebih dari 360 orang telah menyaksikan rekaman syahadatnya. Dan hal yang paling menggembirakan adalah, keislaman bocah itu menjadikan ibunya tertarik untuk mempelajari Islam.

Keponakan Deena tersebut mempunyai seorang teman berusia 12 tahun. Anak itu juga telah menjadi seorang Muslim. Keduanya saling tolong-
menolong dalam menghapalkan al-Qur'an dan selalu pergi bersama ke rumah Deena untuk melaksanakan shalat.

Heidi dan Cecille, adalah dua orang perempuan lain yang disaksikan keislamannya oleh Barton. Mereka berasal dari keluarga Katolik. Usianya baru 20-an tahun, tapi mereka sangat bersemangat menunjukkan Islam kepada teman-temannya.

“Senang sekaligus merasa beruntung karena menyaksikan semakin banyak orang yang memeluk Islam, “ ujar Barton semangat. Barton akhirnya giat membuat program acara radio untuk disebarluaskan ke berbagai radio Muslim di seluruh dunia. Barton juga berupaya mencari sponsor untuk membiayai acara radio yang dibuatnya.

Baginya sangat ajaib, untuk menghasilkan tiga buah acara, "The Message" dan versinya dalam bahasa Tagalog, serta "Women in Islam", total biaya setiap bulan yang dikeluarkan hanya 500 dollar.

Barton dan teman-temannya juga membuat drama radio Muslim pertama di Filipina. Empat episode pertama ditulis oleh ibu mertua dan disutradarai oleh temannya, Rallam Muhammad. Drama itu menggunakan suara-suara orang yang sudah berpengalaman di Filipina, baik Muslim maupun non-Muslim. Naskahnya bercerita seputar masalah-masalah nyata yang kerap ditemui sehari-hari dan diberikan solusi sesuai dengan hadist-hadist Rasulullah. Selama sebulan mereka mampu memproduksi drama radio berkualitas tinggi hanya dengan biaya 1.000 dollar, sudah termasuk biaya studio, pemain, pengeditan suara dan biaya tayang.

Setiap hari Barton merasa bersyukur, karena Allah telah membawanya ke Filipina, sehingga ia bisa ikut menyebarkan pesan-pesan Islam dengan cara yang mungkin tidak bisa dilakukannya di Amerika. [di/dmu/www.hidayatullah.com]

Senin, 30 November 2009

Rahmat Allah


Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. (Al-A'raaf: 156).

Kalau bukan karena rahmat Allah tentu kita tidak dapat bersilaturrahim melalui buletin ini, kalau bukan karena rahmat Allah tentu para pembaca tidak dapat memperoleh manfaat dari artikel ini, kalau bukan karena rahmat Allah kita tidak dapat menghadiri shalat di masjid ini, dst. Semua hal yang terjadi adalah cerminan dari RahmatNya.

Betul-betul pak Haji Amin mendapat rahmat Allah karena rumahnya terhindar kehancuran dari gempa bumi yang terjadi bulan lalu. Tentu saja statemen ini benar, tetapi bisa juga keliru karena bisa berarti orang-orang yang hancur rumahnya karena gempa bumi tidak mendapat rahmat Allah.

Kelompok rombongan haji kami mendapat rahmat Allah karena mendapat penginapan yang dekat dengan Mesjidil Haram, kata seorang teman. Benar adalah rahmat Allah, tetapi karena dekatnya malah datang ke mesjid untuk shalat berjamaah sering terlambat. Dengan kelompok lain yang lebih jauh malah lebih duluan berada di Mesjid. Tentu saja kelompok ini yang mendapat rahmat lebih besar, langkahnya ke mesjid lebih banyak dan datangnya di mesjid lebih duluan.

Alhamdulillah, orang tua saya betul-betul merasa mendapat rahmat Allah dalam kehidupan ini, pekerjaan bagus, kesehatan juga selalu prima dan selalu mendapat kemudahan kalau ada urusan dengan pihak lain. Suatu dambaan kehidupan yang ideal. Lain dengan paman saya, kondisi kehidupannya naik turun, badannya juga sering sakit-sakitan dan harus berjuang keras membereskan setiap ada urusanya. Kesamaannya, mereka berdua orang-orang yang taat beribadah. Siapakah yang memperoleh rahmat Allah lebih besar, tentunya pada pembaca dapat menebaknya.

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. 7:156)

Itulah kasih sayang Allah, dalam kondisi apapun (dalam keadaan taat, durahaka, sehat, sakit, kaya, miskin, patuh, liar) selalu ada rahmatNya (petunjukNya). Selanjutnya apa rahmat itu kita ambil dan mengembangkannya menjadi rahmat yang lebih besar lagi, atau kita biarkan berlalu menjadi sekadar kenikmatan dunia yang tidak jarang bahkan menyeret kita ke jurang kenistaan lebih dalam lagi.

Saudaraku, Semua yang kita miliki; kekayaan, ilmu, kekuasaan, popularitas adalah rahmat dari Allah, oleh karena itu tidak sepantasnya bersikap sombong dalam menggunakan pemberian Allah tersebut. Tentu saja setiap orang bebas mengelola apa-apa yang dimilikinya, apakah digunakan untuk kebaikan dan keburukan, tetapi orang-orang yang beriman akan selalu menggunakan rahmat Allah yang diperolehnya sehingga menjadi jalan bagi saudaranya yang lain untuk memperoleh rahmat dari Allah Swt.

Tiadalah sempurna iman seseorang di antara kalian, hingga ia menginginkan untuk saudaranya apa yang ia inginkan untuk dirinya sendiri. (HR Muttafaq `Alaih).

Senin, 23 November 2009

Dari Pub Koktail ke Islam

Friday, 20 November 2009 13:56

Seorang wanita ratu pesta dan narkoba akhirnya mendapatkan kebahagian sejati setelah memeluk Islam

Hidayatullah.com--Laura Pistorious adalah seorang wanita muda kulit putih Afrika Selatan, yang dulu mengelola sebuah pub koktail di Camps Bay, sebuah kota pantai di pinggiran Cape Town.

"Saya memiliki kebiasaan menggunakan narkoba yang sangat parah dan saya mengira menjalani gaya hidup kelas atas," cerita Laura kepada IslamOnline.

Dari luar ia kelihatannya gembira mengenakan pakaian rancangan desainer, menggunakan obat-obatan dan berpesta sepanjang waktu.

Tapi di dalam, Laura selalu merasa ada sesuatu yang tidak benar, rasanya ada sesuatu yang membakar.

Meskipun ia dibesarkan dalam keluarga Katolik yang taat, ia berhenti percaya pada Tuhan, sebagai akibat dari gaya hidupnya yang tinggi dan kecanduan narkoba.

"Saya mencapai satu titik dalam kehidupan, di mana saya tidak lagi mempercayai Tuhan."

Kehidupan Laura seketika berubah setelah ia bertemu dengan seorang teman yang telah memeluk Islam.

"Setelah mendengarkan teman Muslim saya malam itu, saya banyak menangis dan berdoa."

Laura mengatakan, setelah ia berdoa sekian lamanya, sebuah keajaiban terjadi dalam hidupnya.

Secara tiba-tiba ia mampu mengatasi kecanduan narkoba yang telah dideritanya selama empat tahun. Dan Laura mulai membaca lebih banyak tentang Islam.

Pada saat itu, ia belum berpikir untuk menjadi seorang Muslim.

Namun, pada September 2007 sebelum bulan Ramadhan, Laura akhirnya mengucapkan dua kalimat syahadat.

"Alhamdulillah, saya masuk Islam melalui teman, dan hidup saya berubah sama sekali."

Lebih bahagia

Setelah memeluk Islam, Laura berhenti bekerja di pub koktail.

"Setelah menjadi seorang Muslim, saya mengetahui lebih banyak tentang Islam dan memperhatikan tempat saya bekerja. Saya bahkan berhenti tanpa ada penawaran kerja lainnya," cerita Laura yang kini memakai hijab.

"Tapi saya percaya pada Allah."

Orangtua Laura, terutama ayah, telah bisa menerima agama yang dipilihnya dan sering bertanya tentang Islam.

"Sejak saya memeluk Islam dan berhenti dari pekerjaan manajerial di pub, saya pulang ke rumah lebih awal. Orangtua saya senang karenanya," cerita Laura.

"Saya berharap satu hari mereka juga akan memeluk Islam."

Sebulan kemudian, Laura mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik. Tapi ia mengatakan kepada bosnya, seorang Kristen fundamentalis, dirinya mau mengambil pekerjaan itu asalkan diberi waktu istirahat untuk shalat.

Bosnya setuju

"Jika Anda melakukan hal-hal baik untuk alasan yang tepat, Allah akan memberkatimu," begitu keyakinan Laura, yang menjadi pembawa acara bincang-bincang di sebuah radio di Cape Town.

"Sekarang saya memiliki hubungan yang baik dengan keluarga, teman dan alhamdulillah saya menjalani hidup yang lebih sehat, karena Islam."[di/iol/www.hidayatullah.com]


Wajah Allah


Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. [QS. 2:115]

Betapa dahsyat ayat ini. Siapapun yang dapat menghayatinya pasti sampai pada suatu tujuan yaitu pasrah, tunduk, dan patuh dan bahagia.

Ingin menghindar dari pengawasan dan penglihatan Allah (wajah Allah)? Tidak mungkin. Kalau ingin membangkang, memberontak atau acuh tak acuh, sangat bisa, karena kita memang diberi kebebasan untuk memilih. Namun pilihan kedua ini tidak memberikan kepercayaan diri dan kebahagiaan yang diinginkan di dunia apalagi di akhirat.

Bagaimana mungkin kita tidak bahagia kalau Sang Maha Pencinta selalu mencintai kita, Sang Maha Pemurah menjamin kehidupan kita, Sang Maha Penjaga mengawasi kita setiap saat, Yang Maha Membangkitkan Semangat selalu memotivasi kita, Yang Maha Pemberi Rezeki menjamin rezeki kita, Yang Maha Pemberi Petunjuk selalu memberi jalan terbaik kepada kita. Tidak masuk diakal kalau kita tidak bahagia, kecuali kalau memang tidak mau, karena memang kita diberi kebebasan untuk memilih.

Kadangkala ketika kita hanyut dalam kondisi kehidupan yang penuh kesulitan, bukan karena Allah membenci kepada kita, tetapi kita di tempah menjadi orang-orang yang tangguh, tidak mudah menyerah atau mengeluh menghadapi situasi yang sulit. Tanpa latihan, karakter ini tak mungkin kita miliki. Keuntungan kedua dengan banyaknya kesulitan, kita kreatif mencari jalan keluar untuk mengatasi kesulitan tsb. Nah setiap langkah-langkah, pikiran, atau tetesan keringat yang dikeluarkan tsb. menjadi aktivitas amal saleh yang sangat banyak. Bandingkan dengan orang-orang yang hanya ongkang-ongkang kaki lalu kebutuhannya telah tersedia. Keuntungan ketiga, segala kesulitan dan penderitaan yang kita alami otomatis dapat menghapus dosa-dosa yang pernah kita kerjakan.

Dalam suasana penuh kenikmatan, Allah memberi pelajaran yang lain. Kenikmatan apapun didunia ini kalau terus-menerus dinikmati lama-lama tidak terasa nikmat lagi, sehingga tidak memberikan kebahagiaan yang langgeng. Itulah nikmat yang bersifat fisik. Keyakinan yang kuat, jiwa yang bersih akan menimbulkan penyerahan diri secara total, disitulah munculnya kebahagian, suatu kenikmatan yang makin lama makin bertambah.

Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya? [QS. 28:60]

Saudaraku, barat, timur,utara, selatan atau arah darimana saja disitulah wajah Allah, tetapi bukan berarti Allah ada pada tempat-tempat tersebut, karena Allah tidak bertempat, maknanya adalah bahwa Allah begitu dekat dengan kita, kemanapun kita pergi Ia selalu hadir bersama kita, apa yang kita mohonkan akan selalu direspon sesuai kebutuhan kita yang terbaik. Bahkan kita diberi kebebasan untuk memilih, setelah Ia menjelaskan sebelumnya mana hal yang baik dan mana hal yang buruk, termasuk akibat dari pilihan yang diambil tersebut. Tetapi manusia kebanyakan salah pilih mengikuti hawa nafsunya.


Dunia yang dikagumi


Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan.… Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. [QS. 57:20]

Perandaian waktu kita didunia ini adalah laksana titik (satu titik) pada garis lurus yang panjangnya tidak terhingga. Kita maklumi bahwa sebelum didunia ini, kita berada dalam perut ibu selama sembilan bulan lebih, dan sebelumnya kita berada dalam alam ruh yang lamanya mungkin puluhan ribu tahun, kemudian sesudah itu kita menuju ke alam yang kekal dan abadi tidak terbatas.

Coba bayangkan hidup dalam satu titik, tetapi berusaha untuk meraih segala sesuatu. Tidak mungkin. Semuanya sangat terbatas. Kenikmatan terbatas, sepele karena dinikmati dalam ruang waktu yang sangat singkat. Penderitaan juga terbatas, sebesar apapun bencana yang kita alami, sangat terbatas dan sebentar sekali kita telah melaluinya. Senang dan susah waktu itu kita lalui sangat pendek.

Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya? [QS. 28:60]

Perandaian luas bumi atau dunia dengan jagad alam raya semesta adalah laksana sebutir pasir dilautan seantero dunia. Sangat kecil. Dalam sebutir pasir itulah segala aktivitas makhluk yang ada di bumi berjalan. Ada Amerika yang mencaplok kekuasaan negara dimana-mana, ada milyaran umat manusia yang mempertahankan hidupnya dengan selimut kelaparan, ratusan juta anak-anak yang mencari ekosistem yang bersahabat, atau jutaan koruptor yang menggerogoti kekayaan negaranya. Dan yang paling dahsyat, milyaran orang, mencari kenikmatan hidup seakan-akan hidup tak mati-mati. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit). [QS. 13:26]

Saudaraku, alangkah bodohnya kita, kalau waktu kita di dunia ini hanya setitik, mungkin satu detik, dan luasnya hanya sebiji pasir tapi kita mati-matian mempertahankannya, dan mencurahkan seluruh umur kita hanya mencari dunia yang demikian remeh temeh. Padahal disana, di akhirat, itulah tempat abadi kita. Meskipun didunia ini singkat dan kecil, disinilah penentuan tempat kita di alam keabadian, yang tidak terbatas jangka waktu dan luasnya. Ingin berfoya-foya disini, pasti dapat tetapi di akhirat akan sengsara. Lihatlah kebanyakan orang-orang kafir sangat menikmati dunia ini, memang dunianya, tetapi di akhirat nanti mereka tidak punya bagian lagi.

Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka [QS. 11: 15-16]

Saudaraku, dunia yang banyak dikagumi orang lebih hina dari sebuah bangkai, menurut Sabda Rasululloh Saw., "Demi Alloh, sesungguhnya dunia lebih hina disisi Alloh Ta’ala dari pada anggapanmu terhadap bangkai ini". (HR. Muslim)


Jumat, 06 November 2009

Menjemput Sakaratul maut



Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. [QS. 29:57]

Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu bertanya : Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini? Semua murid-muridnya dapat memberi jawaban yang benar, tetapi yang paling dekat menurut sang Iman adalah kematian sebab itu janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.

Sesuatu yang pasti selalu dekat. Ketika seseorang divonis bahwa hidupnya sisa 5 tahun lagi sesuai dengan diagnosa penyakit yang dideritanya, sungguh kematian itu sangat dekat, lebih dekat dibandingkan dengan antri ambil uang di teller.

Karena kematian itu pasti, maka ia sangat dekat, karena begitu dekatnya, tidak ada orang yang dapat memastikan besok masih dapat melihat matahari terbit.

Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. [QS. 63:11]

Sekarang anda divonis akan meninggal besok. Mungkin hidup anda akan berjalan sbb.:
• Shock, kaget, atau pingsan. Muka pucat pasi, menangis, sedih, tetapi pelan-pelan sadar dan mulai beristighfar, komat kamit berzikir dan bertaubat nasuha, shalat taubat dan membersihkan diri dari dosa-dosa yang pernah dikerjakan.
• Langkah berikutnya adalah mengumpulkan seluruh keluarga, minta maaf dan mohon doa keselamatan dari mereka. Mengunjungi tetangga dekat untuk mohon maaf secara langsung, mohon maaf kepada teman dan lawan melalui telepon yang lebih jauh.
• Kalau anda memiliki harta yang banyak, lunaskan utang-utang, sisanya wasiatkan 1/3 untuk di wakafkan, sisanya diwariskan dan meminta kepada keluarga agar dibagi sesuai dengan hukum syariah.
• Waktu selebihnya anda gunakan untuk beribadah dan beribadah; tahajjud, shalat taubat, sunah rawatib, tadarrus, zikir, istighfar, berdoa. Semua dilakukan dengan khusuk, dan itulah ibadah-ibadah yang terkhusuk sepanjang hidup anda.

Ternyata anda sangat beruntung karena diberi kesempatan membersihkan diri sebelum maut menjemput, “Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu.” [QS. 69:27]

Saudaraku, saya kira skenario perjalanan sisa hidup diatas, kurang lebih akan kita jalani seandainya kita tahu pasti kapan kematian kita; setahun, sebulan, seminggu, atau bahkan sejam. Sayang kita tidak sadar bahwa kematian kita bahkan bisa lebih dekat dibandingkan dengan waktu-waktu diatas, tidak mustahil setelah membaca artikel ini sakaratul maut telah menanti anda.

Saudaraku, kematian datang tidak perlu bersama penyakit, gempa, kebakaran, teroris, atau banjir bandang, tetapi ia datang tanpa pra kondisi bersama malaikat Israel.

Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-kali, tidak dapat dikalahkan, [QS. 56:60]