************************************************************************************************************************
Saudaraku, kalau artikel dalam blog ini bermanfaat informasikanlah kepada muslim yang lain
(Setiap kata yang mencerahkan orang lain, Insya Allah, anda akan mendapat ganjaran pahala)
============================================================================

Minggu, 05 Desember 2010

Jangan gunakan akal

Dan orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang yang berbuat baik. [QS. 29:69]

Ketika Hajar dan Ismail ditinggal Ibrahim di padang tandus, tiada air tiada pepohonan, dengan bekal yang tidak memadai, akal sehat tidak berlaku lagi. Hajar tahu benar bahwa tidak ada air dan makanan dan orang lain disekitar tempat itu, tetapi dia tetap berusaha mencari sesuatu yang dapat dimakan dengan usaha yang maksimal yaitu dengan bolak balik antara safa dan marwah sebanyak 7 kali. Apakah karena St Hajar sedang panik. Tidak, buktinya usahanya malah menjadi rukun ibadah Umrah dan Haji.

Ketika Thariq bin Ziyad dengan pasukannya sebanyak 7.000 orang berlabuh di Andalusia (Eropa) setelah menyebrangi selat Gibraltar, ia telah ditunggu oleh tentara kristen dibawah pimpinan Raja Roderick sebanyak 100.000 orang. Thariq memerintahkan kepada para panglima dan angkatan perangnya untuk membakar armada kapalnya. Apakah Thariq bin ziyad gila, tidak tetapi memang dia tidak lagi menggunakan otak. Tapi imannya.

Saudaraku dalam kehidupan kita sehari-hari apabila kita cermat mengamatinya, kita sudah pernah mengalami peristiwa dimana hal itu tidak akan dilakukan seandainya menggunakan akal rasional, tetapi dorongan dari dalam yang sangat kuat membimbing kita melakukannya.

Misteri kehidupan alam raya ini begitu banyak dan luas, dan otak kita tak sanggup untuk memecahkan semuanya, itulah sebabnya kita diberi tuntunan yang lengkap berupa Al Quran dan Hadist agar supaya selamat dalam perjalanan panjang di dunia ini.

.. dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". [QS. 17:85]

Saudaraku, apabila disekeliling terasa semua jalan telah tertutup, solusi dan jalan keluar berujung pada jalan buntu, waktunya untuk tidak mengandalkan otak-kepintaran, tetapi bergerak dan berusahalah terus melakukan apa yang dapat dikerjakan sambil berserah diri dan bermohon kepada Allah, yakinlah di depan sana ada jalan lempang menanti anda.

Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. [QS. 65:2]

Setelah otak diperas, mengotak-atik peluang dan harapan, kaki dan tangan telah mengolah dan mengayun langkah, doa dan pasrah telah ditumpahkan, maka pertolongan Allah akan segera datang. Jangan ragukan, sebab itulah yang dijanjikan kepada hamba-hambaNya.
… Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. [QS. 2:214] .. Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman. [QS. 30:47]

Mengapa pertolongan Allah sering datang pada saat-saat terakhir, ketika sudah dalam kondisi kritis dan tenaga telah terkuras. Inilah salah satu bentuk kasih sayang dan pertolongan Allah yang menghendaki hambanya berusaha secara maksimal karena dari sanalah munculnya amal saleh, yang nantinya diberi balasan pahala tidak terbatas.
Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. [QS. 5:9]

Kesaksian


Nabi Saw. bersabda: "Dosa yang paling besar diantara dosa-dosa besar lainnya adalah menyekutukan Allah, durhaka kepada orang tua, kesaksian palsu, kesaksian palsu (beliau mengulanginya tiga kali), (Bukhari)

Hari-hari ini sedang ramainya disidangkan seorang pesohor, yang diduga telah menyebarkan dan mengedarkan rekaman jejak langkahnya yang tidak senonoh ke tengah masyarakat. Para hamba hukum sampai saat ini belum dapat membuktikan perbuatan ini dan ybs. tidak mengakui perbuatannya. Kenyataan yang sulit dibuktikan. Kejadian yang lain adalah seorang tahanan dengan mudahnya melakukan pelesiran lengkap dengan keluarganya ke Bali. Memang pada awalnya disangkal tetapi pada akhirnya juga diakui ybs. Meskipun demikian misteri disekitar wisata bui tersebut masih banyak yang tidak terungkap. Sekali lagi banyak hal-hal yang sulit dibuktikan.

Secanggih apapun para penyidik yang berusaha untuk mengungkap peristiwa-peristiwa diatas, atau peristiwa semacamnya yang lain, tentu tidak dapat menbongkar sampai keakar-akarnya karena ada kepentingan yang berbeda-beda. Ada saksi yang bungkam, tidak jujur, saksi palsu. Ada pengacara yang menutupi kejadian. Ada hakim yang punya kepentingan lain. Ada kejadian yang tidak boleh diungkap untuk menjaga kepentingan Negara atau pejabat, dan seribu satu alasan lainnya. Dan itulah pengadilan dunia.

Demikianlah kemampuan yang dimiliki oleh peradilan dunia banyak kesaksian yang tidak terjangkau. Sangat berbeda dengan peradilan akhirat, kesaksian akan diperhadapkan semua kepada setiap orang yang menghadapi pengadilan. Kesaksian berlapis dan tidak mungkin ada yang terlewati.

Pertama, kesaksian Yang Maha Agung ..… “Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.” [QS. 22:17]. “Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” [QS. 4:79]. “Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Qur'an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya.” [QS. 10:61]

Kedua, kesaksian dari para malaikat Rakib dan Atid … “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” [QS. 13:11]

Ketiga, kesaksian dari anggota badan sendiri, “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. ” [QS. 36:65]. “Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan.” [QS. 41:20]

Keempat, Kesaksian bumi dan segala isinya. “pada hari itu bumi menceritakan beritanya,” [QS.99:4]. “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata”. [QS. 41:21].

Saudaraku, kalau di dunia kita bisa berkelit dari perbuatan kita, di akhirat semua perbuatan dan segala gerak gerik kita terekam dengan sempurna dan datang sebagai saksi. Pilihannya mau saksi menggembirakan atau saksi mengerikan, keputusannya ada pada kita, saat ini.



Kamis, 25 November 2010

Kegiatan yang melengahkan

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. [QS. 102:1-2]

Bermegah-megahan dan bersenang-senang tidak selalu berkaitan dengan kemewahan, sehingga semua orang dapat mengalaminya. Tidak juga selalu berkaitan dengan kekuasaan dan nama besar. Dia bersama siapa saja ketika ia memperturutkan keinginan dan hawa nafsunya. Malas adalah bermegah-megahan dari segi kesempatan dan juga bersenang-senang karena tidak mengerjakan sesuatu.

Hobby atau kegemaran, meski yang produktif sekalipun, bisa jadi bermegah-megahan yang melalaikan apabila karena menekuninya sesuatu yang lebih penting terabaikan.

Ada Persepsi yang tertanam di alam bawah sadar kita bahwa dengan kemegahan dan kesenangan kepada harta yang banyak disitulah kebahagiaan bisa diperoleh. Dengan persepsi seperti inilah yang menjadi landasan dalam berkativitas, sehingga seluruh kegiatan terfokus pada tujuan ini, kesenangan duniawi, sehingga melupakan atau memberikan perhatian yang hanya sedikit kepada hal-hal yang fundamental seperti keseimbangan emosi, pengingkatan kepatuhan dalam beragama; sebagai kebahagiaan yang hakiki.

Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik surga. [QS. 3:14]

Obsesi terhadapat suatu kegiatan atau kegemaran yang dianggap memberikan kebahagiaan duniawi yang maksimal, termasuk kegiatan yang melalaikan karena ia menyita begitu banyak waktu sementara kebahagiaan yang sesungguhnya, diakhirat nanti, tidak dialokasikan waktu yang cukup untuk mempersiapkannya. Kalau dihitung-hitung waktu yang kita gunakan untuk mencari dunia; dari pagi sampai petang dan kadang-kadang malam sampai pagi, berulang setiap hari. Hasilnya mungkin banyak, tetapi periode menikmatinya sangat singkat; setahun?, 5 tahun?, 10 tahun?, 20 tahun?, atau 50 tahun?, semuanya ini sangat singkat. Tidak percaya, tanyalah kakek-nenek kita atau siapa saja yang telah berumur lanjut. Apalagi kalau diukur dengan waktu akhirat, jelas sangat singkat. Lebih singkat dari mimpi di siang bolong. Maka jelaslah bahwa: “kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” [QS. 3:85]

Apakah kegiatan yang saya lakukan saat ini termasuk yang melalaikan?

Saudaraku, kegiatan apapun yang anda lakukan saat ini, laksanakanlah dengan sebaik-baiknya, apapun ia kalau kegiatan yang tidak melanggar aturan dan norma agama adalah percerminan ibadah selama diniatkan seperti itu. Secara keseluruhan kegiatan yang dilaksanakan harus proporsional dan seimbang. Shalat terus-meneruspun tidak ada aturannya, demikian pula dengan bekerja tanpa mengenal waktu juga tidak benar. Ada keseimbangan antara bekerja dan istirahat, beribadah dan bermasyarakat, dst.

Kehidupan ini tidak perlu berakhir dengan kemegahan dan kemewahan, tetapi harus berakhir dengan pengabdian, kemegahan dan kemewahan menjauhkan kita dari kuburan sedangkan pengabdian kepada Allah; kuburan adalah pintu menuju kebahagian abadi.

Transformasi pahala akhirat



Pernahkah anda mendengar atau membaca bahwa :

Satu langkah ke masjid bisa menghapus dosa dan meningkatkan satu derajat di surga dan selama dalam perjalanan dicatat sebagai orang yang mengerjakan shalat (Muslim, Ahmad)
Salat dua rakaat sebelum subuh lebih baik daripada dunia dan isinya (Muslim)
Subhanallah walhamdulillah dapat memenuhi langit dan bumi (pahala). (Muslim)
Membaca dua ayat Al quran lebih baik daripada dua unta besar (Muslim)

Melalui Kitab Suci Al Qur’an dan Hadist Rasulullah, banyak sekali amal ibadah yang apabila dikerjakan akan mendapatkan ganjaran yang besar, apakah itu amalan yang berat maupun amalan yang sebenarnya sangat ringan, seperti beberapa yang dicontohkan diatas. Semua orang islam terpelajar maupun yang awam dapat mengetahuinya dengan mudah, karena informasinya memang sering disampaikan baik melaui para da’i maupun bahan bacaan yang bertebaran di toko buku atau pinggir jalan kaki lima. Tetapi mengapa tidak banyak orang yang menggalakkannya?

Bandingkan dengan hal-hal keduniaan yang menjanjikan hadiah besar seperti; kontes-kontes, belanja berhadiah, tamasya, atau pemberian langsung melalui balas jasa, yang sebenarnya kebesaran hadiahnya tidak sesuai dengan hal-hal yang telah dikorbankan seperti harga diri, perasaan, harta benda, kesehatan dan waktu. Semua hal itu tidak menghalangi orang-orang untuk memburuhnya padahal yang memperoleh hadiah, mungkin hanya satu dalam seribu, satu dalam sejuta atau bahkan lebih.

Mengapa orang malas memburuh hadiah akhirat yang jauh lebih besar dan siapapun dapat memperolehnya tanpa melalui undian dan pertarungan yang sia-sia, karena siapapun mengikutinya pasti memperoleh kemenangan. Sementara hadiah dunia pemenangnya hanya segelincir orang saja. Inilah yang perlu dilatih secara terus menerus untuk meyakinkan diri bahwa janji Allah dan RasulNya itu bukanlah janji kosong.

Marilah kita mencoba dan berusaha mentransformasikan nilai-nilai pahala akhirat sehingga benar-benar menyatu dalam hati dan pikiran bahwa keutamaan pahala akhirat bisa juga dinikmati di dunia sebelum kenikmatan yang sesungguhnya. Bagaimana caranya kita dapat melakukan hal diatas. Jawabnya adalah dengan selalu meningkatkan keimanan kita kepada Allah, karena puncak iman ketika kita sudah dapat mempraktekkan Sami’na wa atho’na, “kami dengar dan kami patuhi”. Lalu bagaimana cara meningkatkan keimanan? Dengan menuntut ilmu-ilmu agama dan ilmu pengetahuan pada umumnya dan mempraktekkan ilmu yang telah diperoleh tsb dalam kehidupan sehari-hari.

Saudaraku, apabila kita dapat mentransformasikan nilai-nilai pahala akhirat dalam mengerjakan amal saleh melalui peningkatan keimanan yang terus menerus maka, hati akan menjerit apabila kehilangan shalat berjamaah, perasaan terasa teriris apabila tak sempat shalat sunnah, nelangsa dan lesu karena lupa berzikir, dan banyak beristighfar karena tidak sempat membaca Al Qur’an. Itu semua adalah musibah dalam kehidupannya.

Akhirnya tidak ada lagi keraguannya atas perkataan Allah Swt. dan RasulNya sehingga kenikmatan yang dijanjikan di akhirat telah dirasakan nikmatnya saat ini. Karena ia yakin :

Dan janji Allah adalah pasti benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah? [QS. 4:122]


Selasa, 09 November 2010

Bangkit. Bangkitlah!



Wahai orang yang berselimut, bangkitlah . . . , [QS. 73:1-2]

Dalam suasana banyak bencana dan malapetaka, yang menyebabkan banyak orang menjadi korban, kepedihan dan kesedihan tak terhindarkan menyebar ke tengah-tengah masyarakat. Manusia adalah makhluk yang lemah sehingga apabila tertimpah musibah mudah mengeluh dan terperosok, bahkan bisa menjadi putus asa. Dalam keadaan yang demikian manusia membutuhkan bantuan orang lain untuk dapat bertahan dan kembali ke kondisi normal.

Apabila mendapatkan pelayanan yang baik dan memperoleh cara pemulihan yang tepat, maka motivasi untuk bangkit tidak membutuhkan waktu yang lama, karena secara psikologis pada level-level tertentu orang yang terpuruk dapat menerima kondisinya dan siap melakukan perbaikan dan perubahan. Dengan sentuhan emphaty dan rasa serta dorongan spiritual, bahkan mereka bisa lebih cepat lagi untuk bangkit

… dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir". [QS. 12.87]

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang tidak mendapat hambatan apa-apa dalam kehidupannya, sudah mapan dengan kondisi yang menyenangkan. Sesungguhnya orang-orang inilah yang sulit untuk bangkit, karena merasa sudah terlena berslimut dangan kemapanannya. Orang kaya sudah terlalu nyaman dengan selimut kekayaannya sehinggah sulit untuk bangkit. Mau bangkait apalagi? Orang terkenal sudah asyik dengan selimut keharuman namanya. Penguasa sudah terlena dengan selimut kekuasaannya. Mereka sudah sampai di puncak dan disekitar mereka hanya ada lembah dan ngarai.

Susah senang Suka dan duka adalah rumus kehidupan yang dialami setiap orang tanpa perbedaan. Yang berbeda adalah sikap dan tanggapan orang menghadapi kondisi yang bergejolak ini. Sebagian apabila dalam keadaan terpuruk cepat putus asa dan apabila sedang diatas bersikap sombong, sementara yang kuat imannya dapat menyadari bahwa semuanya itu adalah ujian untuk meraih sesuatu yang lebih besar lagi. Karunia Allah.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun" [QS. 2:155-156]

Saudaraku, sekian kali telah kita mengalami kemunduran dan sekian kali juga kita tetap bangkit, jadi tidak perlu berkecil hati apabila saat ini dalam kondisi terpuruk. Semua masalah yang dihadapi akan terpecahkan selama kita punya semangat dan keyakinan dapat memecahkannya. Mungkin suatu saat sangat susah bagi kita untuk bangkit dari suatu lembah, tetapi bukankah kita bisa bangkit pada lembah-lembah yang lain.

Yang perlu diwaspadai adalah susana kenikmatan yang sedang dirasakan jangan sampai menjadikan kita terlenah sehingga tidak ada lagi motivasi untuk berubah dan maju diluar selimut kejayaan kita. Suatu waktu ketika telah sampai di puncak, tentu tidak bisa meningkat lagi, tetapi bukankah puncak-puncak yang lain masih banyak.

Saudaraku, akan selalu ada ruang untuk berbuat yang terbaik sesuai dengan kemampuan yang kita miliki apabila diusahan dengan sungguh-sungguh.

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. [QS. 29:69]


Kabar gembira dan peringatan

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. [QS. 34:28]

Manusia adalah makhluk Allah yang termulia dimuka bumi apabila dia mematuhi ketentuan Tuhannya, sebaliknya menjadi makhluk yang terhina bilamana menentang ketentuan Allah.

sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), [QS. 95:4-5]

Manusia memiliki kebebasan untuk menjadi yang terbaik atau yang terhina. Dalam rangka pemilihan kebebasan ini telah disediakan panduan yang jelas berupa Quran dan Hadist melalui pemberi kabar gembira dan peringatan akan azab yaitu Rasulullah Saw.

Lalu mengapa manusia sangat berat untuk mematuhi amal-amal yang merupakan kabar gembira dan gemar mengikuti amal-amal buruk meskipun telah mendapat peringatan atau ancaman azab yang pedih.

Ketika perayaan ditingkat RT kita menerima hadiah yang besar, apakah sama besarnya ketika menerima hadiah yang besar dari Presiden? tentu saja beda. Lalu bagaimana besarnya hadiah/ganjaran besar yang diperoleh, kalau yang mengatakan Yang Maha Besar, tentu tidak dapat digambarkan bagaimana besarnya.

Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. [QS. 48:29]

Ketika anak kecil tergores pisau tentu akan menjerit kuat-kuat. Akan lebih perih lagi kalau seorang pendekar terkoyak dadanya. Dan bagaimana pedihnya kalau yang mengatakan adalah Yang Maha kuasa, tentu kepedihannya tak bisa dibayangkan. Kalau awan panas gunung merapi 600C dapat membinasakan semua makhluk hidup, bagaimana dengan panas matahari yang 6000C, lalu berapa temperatur panas api neraka. Tidak bisa dibayangkan. Simaklah hadist berikut.

Rasulullah saw sabda: "Sungguh, penduduk neraka yang paling ringan siksanya, dia memakai dua sandal dari api neraka yang mana otaknya mendidih disebabkan panasnya kedua sandalnya." (Muslim)

Saudaraku, janji Allah yang menyiapkan kenikmatan yang tidak dapat dibayangkan melalui amal perbuatan seringkali kita tidak mengacuhkannya, meskipun hanya melalui perbuatan yang kecil dan sederhana, bandingkan dengan janji manusia yang nilainya tidak seberapa kita mengejarnya kemana saja dan tahan sampai dini hari. Sebaliknya, ancaman pedihnya azab neraka tidak dapat mencegah kita untuk menghindari perbuatan dosa-dosa besar, bandingkan dengan ancaman manusia, kita menyembah-nyembah untuk menghindarinya.

Sangat banyak bukti-bukti yang dapat kita amati sehari-hari betapa berita gembira dan peringatan dari Allah tidak terbantahkan lagi, tetapi kita masih tetap saja mengejar dunia tanpa mengenal lelah dan membiarkan akhirat terbengkalai, meski umur tinggal selangkah lagi masuk kubur. Sadarlah dan bersyukurlah, masih diberi waktu memperbaikinya.


Jumat, 29 Oktober 2010

Kezaliman tersembunyi


Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. [QS. 33:58]

Dalam kehidupan bermasyarakat, interaksi antara sesama anggota masyarakat sangat banyak dilakukan. Ada interaksi yang direncanakan, tetapi lebih banyak yang terjadi dengan sendirinya karena mobilitas yang kita lakukan. Dari hubungan-hubungan ini baik yang direncanakan maupun yang terjadi begitu saja sering terjadi perbuatan dan perlakuan yang tidak menyenangkan atau menyakitkan orang lain, baik karena kesengajaan maupun karena kehilafan.

Muslim yang baik bukanlah orang yang terbebas dari kesalahan yang disebabkan karena kehilafan, namun demikian sekuat mungkin menghindari kesalahan karena kesengajaan, dan apabila berbuat kesalahan sesegera mungkin memperbaikinya dengan memohon maaf kepada sesama manusia dan mohon ampun kepada Allah Swt.

Abdullah Bin Umar berkata bahwa Nabi SAW telah bersabda “seorang muslim adalah orang yang menyebabkan orang–orang islam (yang lain) selamat dari lisan dan tangannya…”. (HR. Bukhari, Abu Dawud, Dan Nasa’i)

Demi menjaga kesucian diri, hendaknya selalu memikirkan apakah perbuatan yang kita lakukan terbebas dari kemungkinan menyakiti orang lain tanpa disadari, boleh jadi sepintas lalu aktivitas yang dilakukan dianggap baik tetapi setelah ditelusuri ternyata dapat menyebabkan keluhan bagi banyak orang, yang tentu saja menjadi tambang dosa bagi kita. Sebagai contoh sederhana adalah mengalirkan air kejalan umum dari sisa cucian mobil/motor, cucian piring dari warung/restoran, atau kesengajaan menyiram jalanan yang kadang-kadang menggunakan air comberan.

Banyak kemungkinan yang bisa terjadi dari contoh diatas. Bisa saja terjadi pengendara motor terpleset dan menabrak sesama pengendara yang lain. Pegawai yang terpercit air harus kembali ke rumah untuk mengganti pakaian. Seorang muslim yang beribadah berkurang kesempurnaannya karena terkena kotoran, dan banyak kemungkinnan lain. Betapapun setiap orang yang mengeluh dan merasa terganggu berarti sebanyak itulah tambahan dosa yang harus kita tanggung. Bagaimana kalau orang yang merasa teraniaya mengeluh kepada Allah, tentu balasannya lebih berat lagi. Coba simak hadis berikut:

Rasulullah Saw telah bersabda: “Demi Allah, tidak beriman; demi Allah, tidak beriman; demi Allah, tidak beriman! Nabi ditanya: Siapa, wahai Rasulullah? Nabi menjawab: ‘Adalah orang yang tetangganya tidak merasa tentram karena perbuatan-nya’. (Muttafaq’alaih).

Saudaraku, mungkin banyak kegiatan lain yang kita lakukan tetapi tidak disadari bahwa hal itu menimbulkan gangguan dan keluhan pada orang lain, atau memandangnya sebagai perbuatan yang sepele dan menjadi terbiasa kita melakukannya, padahal sangat berpotensi menjadi lumbung dosa yang membinasakan dan merugikan diri sendiri.

“Hati-hati kalian dari dosa-dosa kecil, karena dosa-dosa kecil itu bila berkumpul pada diri seseorang akan membinasakannya.” (HR. Ahmad)


Kamis, 21 Oktober 2010

Cerdas beribadah


“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajad.” [QS. 58 : 11]

Melaksanakan shalat berjamah bagi banyak orang adalah salah satu pekerjaan yang berat. Bagi orang yang cerdas beribadah, shalat berjamaah memang berat tetapi menyenangkan. Mengapa? Karena shalat berjamaah bukanlah satu pekerjaan, tetapi beberapa aktivitas pekerjaan yang secara simultan beriringan, yaitu; shalat berjamaah, silaturrahim, sarana menuntut ilmu, dan I’tikaf. Keempatnya mempunyai keutamaan yang tinggi.

Seorang tukang ojek yang cerdas beribadah, selain mencari rezeki untuk keluarganya sebagai amal utama, juga selalu menyenandungkan zikir yang tidak membutuhkan biaya dan menggunakan tenaga yang sedikit sekali, tetapi reward atau ganjarannya sangat besar.

Mukminin yang cerdas selalu memaksimalkan potensi yang dimiliki. Salah satu cara terbaik yang dapat dilakukan adalah berusaha selalu dalam keadaan berwudhu, dengan demikian segala amal saleh yang dikerjakan mempunyai potensi untuk dilipat gandakan hasilnya

Dari Abu Hurairah ra. berkata: “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya pada hari kiamat nanti umatku akan dipanggil dalam keadaan putih cemerlang dari bekas wudhu. Dan barangsiapa yang mampu untuk memperlebar (memperbanyak wudhu-peny.) putihnya maka kerjakanlah hal itu”". (HR. Bukhari dan Muslim)

Saudaraku, itulah beberapa contoh amal saleh yang dilakukan dengan ganjaran yang diperoleh jauh lebih besar, meskipun dengan pekerjaan yang sama tetapi hasil yang berbeda karena memahami cara yang terbaik untuk melakukannya, tentunya dengan bantuan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Dengan memiliki ilmu pengetahuan yang lebih banyak akan memudahkan jalan ke surga :
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa yang meniti suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan untuknya jalan menuju Surga” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)

Bahkan kedudukan orang yang berilmu jauh lebih tinggi daripada ahli ibadah yang sewaktu-waktu bisa tersesat karena kurang ilmunya, seperti sabda Nabi saw: “Keutamaan orang ‘alim atas orang ahli ibadah adalah seperti keutamaan diriku atas orang yang paling rendah dari sahabatku.” (HR At Tirmidzi).

Saudaraku, mukmin yang berilmu dapat melaksanakan peribadatan dengan lebih sempurna sehingga memperoleh ganjaran pahala yang lebih besar, selain itu dia dapat mengajar orang lain dengan ilmunya yang berguna yang apabila dilaksanakan oleh orang lain ia juga akan mendapat pahala tanpa mengurangi pahala orang yang mengerjakannya.

Rasulullah bersabda : “orang yang menyeru kebaikan (mengajarkan ilmu), dia memperoleh pahala seperti orang yang mengamalkan seruannya, tanpa mengurangi pahala si pengamal sedikitpun” (HR. Muslim, Ibnu Majah)

Kemampuan kita untuk beramal sangat terbatas, tetapi kita telah diberi jalan untuk memperluas potensi amal kita melalui ilmu yang diajarkan, maka tetaplah menuntut ilmu dan membaginya kepada sebanyak-banyaknya orang lain. Selain itu dengan ilmu bisa mendapat banyak kebaikan dari Allah.
Dari Mu'awiyah ra. berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: "Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan kepadanya, niscaya Allah akan pahamkan dia tentang agama(nya)." (Muttafaqun 'alaih)