************************************************************************************************************************
Saudaraku, kalau artikel dalam blog ini bermanfaat informasikanlah kepada muslim yang lain
(Setiap kata yang mencerahkan orang lain, Insya Allah, anda akan mendapat ganjaran pahala)
============================================================================

Kamis, 13 November 2008

Anak dan Harapan


Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), di sisi Allah-lah pahala yang besar. [QS. 64:15]

Bagi seorang mukmin, anak adalah titipan Allah yang harus dijaga dan dipelihara karena ia adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Ia juga menjadi penyambung amal-amal setelah kita kembali kehadirat-Nya, apabila ia bisa menjadi anak yang shaleh.

Ada dua sikap paradok orang tua dalam mempersiapkan anaknya dimasa depan. Yang pertama, orang tua yang berusaha menyediakan segala fasilitas kebutuhan anak-anaknya setelah ia tinggalkan. Mulai dari pendidikan, pekerjaan, kekayaan, dan sebagainya, sehingga kalau perlu anaknya tersebut tidak berbuat apapun kehidupannya tetap terjamin sampai anak-anaknya, bahkan sampai tujuh turunan.

Yang kedua, orang tua yang bekerja membanting tulang untuk mempersiapkan anaknya agar berhasil sehingga dihari tua kelak hidupnya terjamin. Apabila anaknya tidak berhasil atau anaknya tidak tahu balas budi maka hidupnya akan sengsara.

Ada kekhawatiran yang tinggi kalau mereka tidak bisa mempersiapkan seperti itu. Orang tua pertama takut anaknya kekurangan, sedangkan orang tua kedua takut hidupnya kekurangan dihari tuanya. Mereka berani berkorban apapun untuk keberhasilan anak-anaknya dan kadang-kadang melupakan dirinya sendiri, melupakan kewajiban kepada Tuhannya, seperti enggan membayar zakat, shalatnya sering terabaikan, dan kewajiaban lainnya, karena kesibukan untuk kepentingan anak-anaknya.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. [QS. 63:9]

Saudaraku, rezeki anak-anak kita sudah ditentukan Allah Swt, dan rezeki mereka tidak perlu harus melalui kita. Persiapan yang perlu kita berikan tidak perlu sejauh yang kita bayangkan diatas. Ingat ketika kita masih muda dahulu, yang kita makan, yang kita miliki tidak semua dari orang tua. Anak-anak malu kalau sudah berkeluarga masih dihidupi dari usaha orang tuanya. Mereka punya kebanggaan sendiri dengan usaha dan pekerjaannya walaupun mungkin lebih sederhana.

Saudaraku, harta yang anda miliki gunakanlah secara proposional untuk kepentingan sendiri sesudah mati, dengan jalan menyimpan melalui pemanfaatan untuk orang banyak. Ini menjadi ukuran tingkat kecintaan anda kepada Allah.

"Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya (kekuasan-Nya), salah seorang di antara kamu tidaklah beriman sehingga saya lebih dicintai olehnya daripada orang tua dan anaknya". (HR: Bukhari)

Saudaraku, persiapan terbaik untuk anak kita adalah menanamkan semangat juang dan iman yang kokoh, sehingga dimanapun mereka berada minimal tidak menjadi beban dan gangguan terhadap orang lain.

Hati Ibarat Rumah


Ada tiga macam rumah, Pertama Rumah Raja, di dalamnya ada simpanannya, tabungannya serta perhiasannya. Kedua Rumah Hamba, di dalamnya ada simpanan, tabungan dan perhiasan yang tidak seperti yang dimiliki seorang raja. Dan ketiga adalah Rumah Kosong, tidak ada isinya.

Jika datang seorang pencuri, rumah mana yang akan dimasukinya?

Apabila anda menjawab, ia akan masuk rumah yang kosong, tentu suatu hal yang tidak masuk akal, karena rumah kosong tidak ada barang yang bisa dicurinya.

Karena itulah dikatakan kepada Ibnu Abbas Radhiallahu 'anhu, bahwa ada orang-orang Yahudi mengklaim bahwa di dalam shalat, mereka 'tidak pernah terganggu', Maka Ibnu Abbas berkata: "Apakah yang bisa dikerjakan oleh syetan dalam rumah yang sudah rusak?"

Bila jawaban anda adalah: "Pencuri itu akan masuk rumah raja." Hal tersebut bagaikan sesuatu yang hampir mustahil, karena tentunya rumah raja dijaga oleh penjaga dan tentara, sehingga pencuri tidak bisa mendekatinya.

Bagaimana mungkin pencuri tersebut mendekatinya sementara para penjaga dan tentara senantiasa siap siaga di sekitar raja?

Sekarang tinggal rumah ketiga, maka hendaklah orang-orang berakal memperhatikan permisalan ini sebaik-baiknya, dan menganalogikannya (rumah) dengan hati, karena inilah yang dimaksudkannya.

Hati yang kosong dari kebajikan, yaitu hati orang-orang kafir dan munafik, adalah rumah setan, yang telah menjadikannya sebagai benteng bagi dirinya dan sebagai tempat tinggalnya. Maka adakah rangsangan untuk mencuri dari rumah itu sementara yang ada didalamnya hanyalah peninggalan setan, simpanannya dan gangguannya? (rumah ketiga).

Hati yang telah dipenuhi dengan kekuasaan Allah Subhanahu wa ta'ala dan keagungan-Nya, penuh dengan kecintaanNya dan senantiasa dalam penjagaan-Nya dan selalu malu darinya, Syetan mana yang berani memasuki hati ini? Bila ada yang ingin mencuri sesuatu darinya, apa yang akan dicurinya? (rumah pertama).

Hati yang di dalamnya ada tauhid Allah, mengerti tentang Allah, mencintaiNya, dan beriman kepadaNya, serta membenarkan janjiNya, Namun di dalamnya ada pula syahwat, sifat-sifat buruk, hawa nafsu dan tabiat tidak baik. Hati ini ada diantara dua hal. Kadang hatinya cenderung kepada keimanan, ma'rifah dan kecintaan kepada Allah semata, dan kadang condong kepada panggilan syetan, hawa nafsu dan tabiat tercela.(rumah kedua )

Hati semacam inilah yang dicari oleh syetan dan diinginkannya. Dan Allah memberikan pertolongan-Nya kepada yang dikehendakiNya. "Dan kemenanganmu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi maha bijaksana." (Ali Imran:126)

Syetan tidak bisa mengganggunya kecuali dengan senjata yang dimilikinya, yang dengannya ia masuk dalam hati. Di dalam hati seperti ini syetan mendapati
senjata-senjatanya yang berupa syahwat, syubhat, khayalan-khayalan dan angan-angan dusta yang berada di dalam hati.
Saat memasukinya, syetan mendapati senjata-senjata tersebut dan mengambilnya serta menjadikannya menetap di hati. Apabila seorang hamba mempunyai benteng keimanan yang mengimbangi serangan tersebut, dan kekuatannya melebihi kekuatan penyerangnya, maka ia akan mampu mengalahkan syetan. Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah semata.

Sumber : Milis

Irene Handono


Republika, Jumat, 01 Februari 2002
Al-Ikhlas Menuntunnya kepada Kebenaran Islam

Keraguan terhadap doktrin ketuhanan dalam sebuah agama, memang dapat menjadi penyebab terguncangnya keimanan seseorang terhadap agamanya. Hal inilah yang terjadi pada diri Irene Handono, mantan biarawati yang sekarang menjadi ketua Gerakan Muslimah.

Keraguan dirinya terhadap doktrin ketuhanan yang sebelumnya dianut, berawal ketika dia harus mempelajari Alquran sebagai salah satu mata kuliah Islamologi di Institut Filsafat Teknologia Surabaya pada tahun 1976.

Pada suatu malam, ketika ia harus mempersiapkan diri untuk kuliah esok harinya, Irene mencoba membuka kitab suci tersebut. Dan takdir Allah memang tak dapat dielakkan, pada saat itu terbuka olehnya surat Al-Ikhlas yang menegaskan akan keesaan Tuhan, sebuah doktrin ketuhanan yang berbeda dengan doktrin agama yang dianutnya.

Dia lalu membandingkan keesaan Tuhan yang diajarkan Islam dengan trinitas yang dipahami sebelumnya --yang selalu diajarkan dengan perumpaan segitiga, di mana segitiga itu tetap satu walau memiliki tiga sisi.

Pemahaman dan penjelasan pastor di bangku kuliah, tak membuat Irene puas atas doktrin ketuhanan yang dianutnya. Malam hari seusai kuliah, dia kaji lagi surat tersebut. Makin dalam ia mengkaji makin bimbang dirinya memahami doktrin ketuhanan yang dianutnya.

Meski dua tahun dia mengeyam kuliah di institut tersebut, akan tetapi tak membuat Irene makin yakin dengan doktrin ketuhanan agamanya. Sebaliknya, dia makin penasaran akan kebenaran doktrin Islam. Karenanya ia makin intensif mempelajari Islam.

Sekitar delapan tahun Irene mempelajari Islam dan hatinya makin cenderung terhadap agama itu. Secara perlahan ia mulai berseberangan dengan biara tempatnya mengabdi. Dalam kurun waktu itu, ia terus mengasah pengetahuannya tentang Islam selain mempertimbangkan risiko yang harus dihadapinya --baik dari pihak biara maupun keluarganya-- bila kelak ia hijrah ke Islam. Ia membayangkan akan terputusnya hubungan dengan orang-orang yang sangat dicintainya bila ia memeluk Islam.

Kebimbangan sempat muncul dalam benaknya, akan konsekuensi yang akan menimpa dirinya kalau ia menjadi Muslimah. Dia mafhum, dia pasti berpisah dengan keluarga serta saudaranya.

Namun keyakinannya akan Allah, diperkuat dengan pemahaman bahwa dirinya akan mendapatkan persaudaraan yang lebih luas dalam Islam. Keyakinan ini memupuskan kebimbangannya. "Persaudaraan Islam, merupakan persaudaraan universal yang melintasi batas-batas ras, warna kulit, bahasa, maupun negara," tuturnya mantap.

Akhirnya setelah merasa yakin akan kebenaran Islam, lewat doktrin ketuhanan serta persaudaraan dalam Islam, menjelang Ramadhan di tahun 1983, Irena Handono mengucapkan dua kalimat syahadat menjadi seorang Muslimah.

Prosesi ikrar keislaman dirinya, dilaksanakan dengan bimbingan ketua MUI Jawa Timur waktu itu, KH Misbach. Dan ikrar keislaman itu sendiri dilaksanakan di masjid Al-Falah Surabaya.

Tak lama setelah menjadi Muslimah, Allah mempertemukan wanita asal Surabaya itu, dengan seorang pria Muslim bernama Masrukhin Yusufi, dalam sebuah ikatan suci. Hingga kini mereka dikaruniai tujuh putra dan satu putri.

Kini, setelah 19 tahun menjadi Muslimah, wanita kelahiran Surabaya 48 tahun lalu ini, makin mantap dengan keislamannya. Dan kemantapan hatinya dalam Islam, mendorong dirinya berkhidmad kepada agama Allah melalui sebuah organisasi bernama Gerakan Muslimah.

Organisasi inilah yang telah memberinya kesempatan untuk mengaktualisasikan ajaran Islam yang ia anut. Dan melalui organisasi ini pula Irene membantu pembinaan para muallaf, khususnya wanita.

Kamis, 06 November 2008

Dibalik Peristiwa


Kita tidak bisa mengubah sejarah,tetapi kita bisa membuat sejarah. Itu kata para bijak. Kata yang sarat dengan motivasi dan tekad yang kuat. Mungkin bukan untuk sejarah nasional, apalagi sejarah dunia, tetapi paling tidak untuk milestone diri sendiri. Setiap orang harus berbuat sesuatu yang berarti, mungkin monumental, yang bermanfaat untuk sesama insan dan makhluk lainnya, karena itulah tujuan kita dihadirkan di dunia ini. Khalifah fil ard.

Krisis ekonomi yang saat ini masih menggema, menelan banyak korban, sebutlah juragan minyak dan bolah sepak: Roman Abramovich dari Rusia. Menurut berita, ia mengalami kerugian sebesar £12 miliar atau setara dengan Rp. 211 trilyun, sementara total kekayaannya sendiri hanya £11 miliar. Assetnya sendiri secara fisik tidak mengalami apa-apa, kerusakan, di landa bom misalnya. Aneh. Tapi begitulah ekonomi kapitalis.

Yang lebih dekat dengan kita adalah keluarga Bakrie & Brothers yang harus melepas asetnya senilai US$ 1,2 miliar atau setara dengan Rp 11 trilyun, untuk menutup utang (kerugiannya) karena krisis bursa saham. Perusahaannya sendiri tidak apa-apa malah sangat menguntungkan. Tetapi itulah gara-gara ekonomi kapitalis lagi.

Waktu berlalu hanya beberapa hari di awal syawal 1429 dan awal Oktober 2008, dua taipan, orang bule sana dan orang kito disini, amblas hartanya Rp. 211 trilyun dan Rp. 11 trilyun.

Pada peristiwa yang lain, masih ingat tukang jagal antara 700 – 3500 orang di Sabra and Shatila, Ariel Sharon, bekas PM Israel, sudah hampir tiga tahun terbujur koma di RS, dengan kondisi badan kurus kering. Sangat kontras dengan badannya yang gemuk, tegap dan tampan ketika masih sehat, sehingga siapun yang melihatnya pasti miris dan menangis, bila saja orang tidak tahu akan kekejamannya terhadap rakyat Palestina.

Sekarang kita lihat akhir kejayaan George Bush yang ‘ahli teroris’. Meskipun ia merasa wakil tuhan di bumi, masanya tetap saja berakhir. Ingat bagaimana dia merekayasa kejadian pengembomam WTC 9/11-2001, untuk memojokkan umat Islam, bahkan tidak sabar untuk langsung menginvasi ke jantung umat Islam di Irak, untuk membuktikan bahwa Islam adalah teroris.Tetapi yang terjadi, bangsanya terperangkap kubangan maut di Irak dan bingung bagaimana mengakhiri pendudukannya, yang sebenarnya membuatnya terperosok disegala bidang. Dan di Negaranya, setiap tahun rakyatnya yang bule berbondong-bondong masuk Islam, diperkirakan lebih dari 50.000 orang pertahun.

Saudaraku, betapapun beratnya keadaan yang harus dilalui suatu ketika ia akan berganti dengan kemudahan (QS 94:5-6). Dan begitulah seterusnya saling berganti. Yang penting adalah akhir daripada kehidupan ini harus lebih baik (QS 93:4). Apapun yang terjadi, selama iman kita tetap kokoh dan terjaga, godaan apapun yang datang tidak masalah. Bukankah hanya orang beriman yang dijanjikan dengan pahala yang besar (QS 3:179).

Saudaraku, cuplikan kejadian-kejadian diatas diharapkan menginspirasi kita melakukan perenungan tentang kekuasaan Allah yang selalu hadir dalam setiap peristiwa. Bukankah dengan perenungan atau tafakur sejenak adalah lebih baik dari shalat seribu rakaat (Hadist).

Rabu, 29 Oktober 2008

Ketika saatnya tiba


Ketika saatnya tiba, ia datang tidak mengenal waktu dan tempat. Mungkin saat malam ketika kita sedang bercengkeramah dengan keluarga. Mungkin di padang golf ketika mentari baru saja tersenyum dari arah timur. Mungkin di kamar ICU diselimuti warna putih dan dililit selang infus. Dan ribuan kemungkinan yang dapat terjadi yang menutup keberadaan kita di dunia ini.

Suatu ketika Beliau, Rasulullah Saw, menjenguk seseorang yang sedang sakit, dan beliau bersabda, "Aku tahu apa yang sedang dialaminya. Tak ada satu pembuluhpun yang tidak merasakan pedihnya derita kematian." (Al Bazzar, Al-Musnad, Haitsami, Majma`, II.322)

Ketika kematian datang nyawa berpisah dengan tubuh dari arah kaki keatas melalui urat-urat, pembuluh, tulang. Dan setiap perpisahan dengan organ tubuh terserbut sakitnya sama dengan tiga ratus tusukan pedang. Berapa banyak urat-urat, pembuluh, tulang dan organ tubuh yang lain dalam tubuh manusia, mungkin jutaan atau milyaran, dan itu semua akan dilewati oleh nyawa kita pada saat berpisah dengan tubuh. Coba bayangkan kalau setiap organ tubuh kita yang bisa milyaran itu merasakan masing-masing tiga ratus tusukan pedang, Nauzubillah min dzalik.

Saudaraku, itulah sekelumit gambaran betapa dahsyatnya perkara kematian. Maka amat lalailah orang yang tidak mau mengambil pelajaran darinya. Bukankah Rasulullah Saw bersabda "Orang yang cerdas ialah orang yang mengendalikan dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah kematian". (HR. Tirmidzi)

Saudaraku, seharusnya apabila kemalasan melanda kita untuk mengerjakan shalat, kita mengingat proses kematian yang menjalar dari ujung jari kuku sampai dengan ujung rambut dikepala yang disertai dengan sejuta lengkingan dan lolongan. Seharusnya ketika kita enggan melaksanakan puasa, kita mengingat proses kematian dimana kepanasan dan kehausan mengerat kerongkongan tanpa setetespun air yang dapat membasahinya. Seharusnya ketika berlaku aniaya kepada seseorang, kita mengingat proses kematian dimana semua kezaliman yang pernah dilakukan akan datang menghunjam laksana pedang menghunjam semua pori-pori kita.

Rasulullah bersabda: Dan seandainya kau mengetahui apa yang kulihat, niscaya engkau akan menyedikitkan tawa dan memperbanyak tangisan, dan kamu akan keluar ke jalanan dan menjerit kepada Allah dikarenakan rasa takutmu akan kerasnya adzab dan sikasa Allah."

Saudaraku, dengan banyak mengingat mati mudah-mudahan kita tidak mengalami proses kematian seperti diatas, tetapi yang kita alami sebagaimana hadist berikut :
Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad bersabda, Malaikat mencabut ruhnya seperti menarik sehelai rambut dari gumpalan tepung, dan kepadanya dikatakan,Wahai jiwa yang tenang! Keluarlah dalam keadaan rela dan diridhoi menuju rahmat dan kemuliaan Tuhanmu!. Insya Allah.

Laur Bisaa

SubhanaLlah....
bgaus skelai hiasl petinelian ini, dan tuberkti toh tenyarta ktia tatep
dapat memcaba wulapuaun sunusan hufurnya berankatan.
Liat lagi subject di email : LAUR BAISA !!!!


Mreanik !?
===========

Murenut sautu pelneitian di Uinervtisas Cmabridge, uturan hruuf dlaam
ktaa tiadk penitng. Ckuup huurf petrama dan trekahhir ynag ada pdaa
tepmatyna.

Siasyna bsia dtiluis bernataakn, teatp ktia daapt mebmacayna. Ini
dsieabbkan kaerna oatk ktia tdiak mebmcaa huurf per hruuf, nmaun ktaa per ktaa.

Laur bisaa kan?

Slaam,

Zon Styeo Hrdenhei..:-P

Minggu, 19 Oktober 2008

Small is beautiful


Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A'raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. [QS. 7:46]

Diantara surga dan neraka ada suatu tempat yang tinggi namanya a’raaf, dimana penghuninya dapat melihat orang-orang penghuni surga dan penghuni neraka, bahkan mereka dapat mengenal ciri-ciri orang yang akan masuk surga atau masuk nereka. Apabila mereka menengok ke surga mereka berbahagia dan apabila dipalingkan wajahnya ke nereka mereka bersedih. Ada beberapa pendapat ulama mengenai orang-orang a’raaf tersebut, diantaranya adalah bahwa mereka orang-orang yang amal kebaikan dan amal keburukan mereka seimbang bobot timbangannya. Walaupun pada akhirnya suatu waktu mereka juga akan dimasukkan ke surga, tetapi mereka tinggal disana sementara, entah seribu tahun atau sejuta tahun, wallahualam bissawab. Pendapat ini yang akan kita jadikan acuan untuk pembahasan lebih lanjut.

Seandainya orang-orang tersebut diatas memiliki amalan kebaikan lain sebesar sehelai rambut halus, tentunya bobot amalan kebaikannya menjadi lehih berat sehingga ia patut untuk masuk surga. Seandainya sebelum ajal menjemputnya sempat memberi senyuman kepada saudaranya, tentu ia tidak perlu nginap di a’raaf tersebut. Seandainya sebelum ajal menjemput, ia sempat merogoh dengan ihklas dari sakunya sekeping koin ratusan dan diberi ke pengemis di pinggir jalan, tentu ia pantas langsung ke surga. Seandainya sebelum ajal menjemput ia sempat mendahulukan antri kepada orang lain, ia tidak perlu menunggu sekian tahun baru masuk ke surga. Seandainya sebelum ajal menjemput ia sempat menambah zikirnya sekali saja, ia tidak perlu setiap saat terhimbas cuaca neraka.

Itulah beberapa amal yang meskipun kelihatan sepele ia sangat menentukan perjalanan kita di akhirat nanti. Amalan-amalan yang di dunia ini kita anggap tidak berarti, atau terlalu kecil sehingga kita tidak tertarik mengamalkannya, bisa jadi itulah yang menyelamatkan kita. Sebenarnya, besar kecilnya suatu amal ditentukan oleh keikhlasan, boleh jadi amal itu kecil dalam pandangan kita tetapi besar dalam pandangan Allah, sebaliknya boleh jadi besar dalam pandangan kita, tetapi kecil dalam pandangan Allah, semuanya tergantung pada keihklasan kita untuk melakukannya.

Saudaraku, jangan biarkan waktu anda berlalu tanpa mengerjakan suatu amal kebajikan, walaupun kecil, yakinlah bahwa itu sangat berguna bagi bekal kita nanti dihari perhitungan, dimana perhitungan tidak ada yang dilewatkan sekecil apapun yang telah kita perbuat, apakah itu kebaikan maupun keburukan. Simaklah contoh amalan ringan berikut

Rasulullah Saw bersabda :"Demi dzat yang jiwaku ada pada genggaman-Nya, sesunguhnya (bacaan :"Katakanlah :"Dialah Allah Yang Maha Esa"(surat Al khlas)) itu sebanding dengan bacaan sepertiga Al-Qur`an". (HR: Bukhari)

Saudaraku, kebiasaan memelihara amalan-amalan yang kecil lama kelamaan memberikan suatu keajaiban, dimana amalan-amalan besarpun dapat kita lakukan dengan lebih mudah.


Puasa Sepanjang Masa

Puasa sepanjang masa dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :


1. Puasa Ramadan plus puasa syawal 6 hari

Rasulullah SAW Bersabda :

Barangsiapa berpuasa Ramadan kemudian diikuti dengan puasa 6 hari di bulan syawal, maka ia seperti berpuasa selama satu tahun penuh (HR. Bukhari Muslim – Muttafaqun alaih)


2. Puasa 3 hari setiap bulan

Rasulullah SAW Bersabda :

Puasa 3 hari setiap bulan maka seperti puasa satu tahun penuh (HR. Bukhari Muslim – Muttafaqun alaih)


Sesungguhnya ini adalah amalan orang-orang muttakin yang sebenarnya tidak terlalu berat.Dengan niat mencari keutamaan dan rida Allah kita akan mudah melaksanakannya.

Amiin